Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selamatkan Pemuda dengan Ideologi Islam


Oleh : Gita Agressia Eka Adnesa, A.Md

Islam adalah agama yang berasal dari Allah SWT, Pencipta alam semesta dan seluruh isinya. Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang mustahil menurunkan agama yang akan menyengsarakan, membuat rusuh, dan menebar kebencian di tengah-tengah manusia. Allah SWT dengan tegas menyatakan dalam Qs. Al-Anbiya (21): 107 bahwa “Tidaklah Kami utus Engkau (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam (Rahmat[an] li al-‘Alamîn).”

Akan tetapi, sejak Amerika Serikat menabuh genderang perang melawan terorisme (al-Qaeda) sebagai buntut dari runtuhnya gedung kembar WTC pada 11 September 2001, sejak saat itu seluruh dunia merasa memiliki musuh yang sama. Anehnya, terorisme yang dijadikan musuh selalu diidentikkan dengan Islam dan ajaran-ajaran Islam. Islam dan ajaran-ajarannya, diposisikan sebagai ancaman bagi umat manusia dan dunia. Berbanding terbalik dengan ayat di atas.

Perang melawan terorisme di tanah air dikomandoi oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Meski sudah banyak pentolan teroris atau orang yang disangka teroris dihukum mati, ditembak, atau tertangkap, ternyata jaringan teroris tetap ada. Tidak sedikit dari orang-orang yang bergabung dalam jaringan ini adalah anak-anak muda. Sehingga muncullah wacana untuk melakukan program Deradikalisasi sebagai upaya preventif melindungi pemuda dari ajaran-ajaran radikal. Tapi anehnya, sekali lagi, yang dibidik adalah Islam dan ajaran-ajaran Islam. Pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam, kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah, Rohis, dan sebagainya  dicurigai menjadi ladang bagi tumbuh suburnya paham-paham radikal. Direktur Deradikalisasi BNPT, Prof Irfan Idris dalam Training of Trainers (ToT) yang digelar Majelis Ulama Indonesia, mengungkapkan adanya penyusupan di lembaga dakwah kampus dan rohis di sekolah. Mereka menyebarkan paham radikal, ungkapnya. Dia pun menyatakan bahwa gerakan radikal itu “ Ada di mana-mana, bukan hanya di sekolah umum. Gerakan radikal itu menggunakan semua cara. Dia mudah masuk karena menggunakan bahasa agama." (Republika, 1/6)

Mewaspadai Sekulerisme

Promosi nilai-nilai sekuler-liberal yang massif di tengah-tengah masyarakat, khususnya kawula muda harus menjadi kekhawatiran semua pihak, baik guru, orang tua, masyarakat, lembaga-le,baga pendidikan, ormas-ormas Islam, maupun pemerintah. Sistem sekuler membangun standar nilai kebahagiaan berdasarkan kesuksesan dan ketercapaian materi an sich.. Kondisi ini diperparah dengan sistem pendidikan yang berparadigma sekuler kapitalistik dan berorientasi pasar, yang justru membentuk pola pikir materialistis pada peserta didik. Dengan standar kebahagiaan ala sekuler tersebut dan kolaborasi dengan sistem pendidikan sekuler kapitalistik inilah pada akhirnya memicu prilaku hedon serta penyimpangan dan kenakalan remaja. Sex bebas, penyimpangan seks (LGBT), narkoba, alkohol, geng motor adalah beberapa perilaku rusak yang dipertontonkan generasi muda saat ini. Berbagai survey terkait perilaku seks remaja sudah sering disajikan di berbagai media. Hasilnya mencengangkan dan membuat kita mengelus dada. Bahkan Indonesia pernah tercatat sebagai pengakses situs pornografi terbesar kedua di dunia setelah Rusia. Bukankah kondisi ini jauh lebih layak untuk membuat waspada? Karena pemuda adalah aset masa depan bangsa. Di tangannyalah kelak nasib bangsa ini akan dibawa. Bila mereka sudah menjadi generasi lemah yang hanya memikirkan kesenangan pribadinya dan cuek dengan kehidupan di sekitarnya, alamat bahaya besar mengintai bangsa.

Kondisi ini diperparah dengan isu terorisme yang digaungkan ke tengah-tengah pemuda. Pelekatan stigma teroris pada Islam menyebabkan pemuda enggan menjadi muslim yang taat. Mereka merasa cukup menjadi muslim yang biasa-biasa saja. Takut dicap sebagai orang fanatik dan radikal. Sehingga ibadahnya pun ala kadarnya. Tapi urusan penampilan, pergaulan , dan gaya hidup pemikiran liberal yang menjadi panglima. 

Sejatinya Pemuda 

Generasi muda adalah generasi dambaan umat, tulang punggung peradaban, dan masa depan bangsa. Dengan kondisi fisik yang prima, pemuda didapuk sebagai pemegang tonggak perubahan. Sejarah telah membuktikan bahwa pemuda adalah garda terdepan dalam menginisiasi dan mengawal perubahan. Kemerdekaan Indonesia 1945, berubahnya Orla ke Orba, serta momen reformasi 1998 sarat akan peran pemuda. Begitu pula dalam sejarah Islam, penuh diisi dengan peran serta pemuda. Dari sebagian besar sahabat Nabi generasi awal, sebagian besar adalah pemuda. Mush’ab bin ‘Umair salah satunya. Melalui tangannya, suku Aus dan Khazraj termasuk tokoh-tokoh kuncinya menerima Islam dan siap dipimpin dengan Islam. Hingga terjadilah Bai’at ‘Aqabah II yang menjadikan Rasul Muhammad saw sebagai pemimpin baru mereka dan kaum muslimin seluruhnya, pemimpin dari Negara Islam Madinah.

Karenanya tidak perlu takut dengan ideologi Islam. Justru ketika Islam dipahami sebagai sebuah sistem kesatuan yang utuh, yang meliputi aqidah dan syariah (aturan-aturan hidup) maka pemuda akan terjaga dari berbagai pengaruh buruk pemikiran dan perilaku menyimpang. Dengan memahami Islam sebagai ideologi tidak akan ada pemahaman salah terkait jihad. Tidak akan ada yang menebarkan teror di tengah-tengah masyarakat, karena ia memahami bahwa Allah SWT membenci aksi membuat huru-hara dan kerusuhan di tengah-tengah masyarakat. Generasi yang paham Islam akan menjelma menjadi generasi yang berkepribadian Islam, berjiwa pemimpin serta berkualitas secara keilmuan. Maka, mari kita selamatkan pemuda dengan mendekatkan ideologi Islam pada mereka, bukan sebaliknya melakukan deradikalisasi, yang berarti menjauhkan para pemuda dari Islam dan aturan-aturannya. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [VM]

Posting Komentar untuk "Selamatkan Pemuda dengan Ideologi Islam"

close