Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Sekuler Secara Sistematis dan Taktis Menyuburkan Hedonisme


Oleh : Ainun Dawaun Nufus – MHTI Kab. Kediri 

Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan perhatian orang tua yang kurang kepada anak dinilai salah satu faktor anak menjadi korban prostitusi gay. Fakta sosial yang cenderung hedonis juga ikut mempengaruhi. Seperti keinginan anak memiliki uang banyak untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Anak akan membutuhkan uang yang banyak agar bisa bergaya hedonis. "Faktor pendidikan juga salah satu variabelnya," ujar Dahnil kepada Republika.co.id, Kamis (1/9). Dahnil menyatakan, perilaku gay kini sudah menjadi ancaman bagi anak Indonesia. Dahnil menyamakan gay seperti teroris yang selalu menebar ancaman.

Benar, LGBTIQ berkembang karena kelalaian pelakunya, mereka mengumbar hawa nafsunya sehingga menempuh jalur pelampiasan hasrat seksual secara sesat. Juga jangan dilupakan, Dukungan dan opini yang terus menerus dibangun kepada kaum LGBTIQ secara masif sudah pasti by design; dirancang dan dibuat. Sudah puluhan tahun mereka memperjuangkan apa yang disebut SRHR (Sexual And Reproductive Health Rigths). Salah satu perjuangan mereka yang cukup mendapat perhatian adalah melalui International Conference on Population and Development Programme of Action atau ICPD di Mesir pada tahun 1994.

Kelompok LGBT ini melakukan jurus Publisitas media. Media massa sekular telah lama menjadi corong LGBTIQ. Mereka membuat opini untuk menetralisasi pandangan negatif publik tentang LGBT. Untuk itu mereka menghadirkan aktivis LGBT, akademisi dan psikolog untuk meyakinkan publik bahwa gay bukanlah ancaman kemanusiaan. Sama sekali tidak pernah diundang narasumber dari tokoh agama (Islam) yang kontra dengan pandangan mereka.

Kalangan sineas, budayawan dan penulis juga turut mengkampanyekan LGBT. Lewat novel dan film, gaya hidup LGBT dikampanyekan agar diterima publik sebagai kewajaran. Bukan saja datang dari Hollywood, sejumlah sineas di Tanah Air juga sudah berani membuat beberapa film bertema LGBTIQ, atau menampilkan karakter dengan orientasi seksual gay atau lesbi. Film-film tersebut makin populer karena terus-menerus diberitakan oleh media sekular, dibuat ulasannya sehingga membuat publik semakin penasaran. Puncaknya, sejumlah film dan aktor atau aktrisnya diganjar berbagai penghargaan.

Anda baru-baru ini telah melihat sendiri, kabar secara viral menyorot agenda Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang memberikan Penghargaan Suardi Tasrif Award kepada organisasi Forum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer Indonesia (LGBTIQ Indonesia) dan IPT 65. Organisasi ini dianggap menyuarakan kebebasan berekspresi kaum minoritas di Indonesia, dan mengupayakan rekonsiliasi negara dengan masa lalu kelam. Penghargaan ini diberikan dalam rangkaian ulang tahun ke-22 Aliansi Junalis Independen (AJI) pada Kamis, 25 Agustus. 

Pemberian penghargaan untuk LGBTIQ ini dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang malam itu menyampaikan orasi kebudayaan sebagai puncak acara. Menteri Agama Lukman Saifuddin dalam orasi kebudayaannya menekankan keberagaman sebagai ciri bangsa Indonesia yang belakangan banyak terancam. Aktivis LGBT dan para pendukungnya berkilah bahwa tindakan mereka sama sekali bukan ancaman kemanusiaan. Logika sederhananya: Apa dan siapa yang kami rugikan? Toh kami tidak menyakiti siapapun.

Pemikiran dan kampanye LGBT batil dari akar hingga ke daunnya; bertentangan dengan Islam dan mengancam kemanusiaan. Gay dan lesbian meruntuhkan institusi keluarga yang bertujuan melestarikan keturunan. Padahal secara kodrati manusia telah diberkati kemampuan untuk bereproduksi dan fungsi itu hanya akan berjalan manakala ada ikatan pernikahan pria dengan wanita. Karena itu pernikahan bukan sekadar demi mendapatkan cinta dan pemuasan kebutuhan biologis, tetapi untuk melestarikan keturunan manusia.

Pembenaran tindakan kriminal LGBTIQ selalu berlindung dibalik ketiak Hak Asasi Manusia (HAM). Perilaku LGBT adalah ekspresi kebebasan HAM.   Karena itu menentang LGBT dicap melanggar HAM. HAM adalah pemahaman yang muncul dari prinsip kehidupan sekular. Dalam masyarakat sekular, seseorang berhak dan bebas berperilaku, termasuk melampiaskan hasrat seksual, dengan siapa pun, kapan pun, di mana pun dan dengan cara apa pun.

Untuk itu, pergerakan dan propanda LGBTIQ jelas akan membawa bahaya besar bagi negeri ini dan peduduknya. Jika perilaku menyimpang LGBT berkembang apalagi marak di negeri ini, bukan tidak mungkin bencana dan malapetaka bisa menimpa negeri ini. Di Dunia Islam, gerakan dan propaganda LGBT dan serangan budaya itu merupakan bagian dari upaya sistematis untuk memadamkan Islam. Namun, upaya mereka itu niscaya gagal.

Perlawanan terhadap agenda LGBT itu tidak bisa total jika kita masih terus mempertahankan demokrasi, mengagungkan HAM ala Barat, paham kebebasan, ideologi kapitalisme dan sekulerisme. Pasalnya, semua itu adalah sebab mendasar berkembangnya LGBT. Anda sudah bisa menebak solusi sistemiknya bukan? Ya, terapkan syariah secara kaffah dalam bingkai khilafah. [VM]

Posting Komentar untuk "Sistem Sekuler Secara Sistematis dan Taktis Menyuburkan Hedonisme"

close