HOAX Mewabah, Ada Apa Dibaliknya ?


Oleh : Devi Ramha Dona

Masyarakat akhir-akhir ini digencarkan dengan isu isu bohong atau yang belum tentu kepastiannya atau disebut juga dengan hoax. Berita- berita tersebut dengan sengaja dibuat dan disebarkan di masyarakat dengan motif yang beragam. Mulai dari iseng sampai bayaran. Berita hoax sebenarnya sudah lama terjadi dan marak dikonsumsi, namun kali ini, tampaknya muncul banyak kecaman dari berbagai golongan. Dan  juga meresahkan masyarakat. 

Aksi kecaman terhadap hoax Ini dapat kita lihat salah satunya pada kutipan ; Pantauan detikcom di lokasi yang merupakan arena car free day (CFD), Minggu (8/1/2017) massa sudah berkumpul sejak pukul 06.00 WIB. Mereka terlebih dahulu melakukan senam bersama dengan instruktur yang berada di atas sebuah panggung.

Massa berkumpul di pertigaan Teluk Betung, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat untuk deklarasi 'Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax'. Ini merupakan gerakan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya berita hoax alias palsu.

Sembari ada yang senam, secara bergantian ada yang membubuhkan tanda tangan mereka pada papan yang disediakan. Tanda tangan itu mereka bubuhkan sebagai deklarasi perlawanan terhadap hoax. Di antara mereka tampak menggunakan kaos bertuliskan 'Hoax is a Drug' dan juga 'Turn Back Hoax'. Sementara masyarakat umum lainnya mengenakan pakaian olahraga bebas.

"Saat ini, puluhan berita bohong dan informasi palsu beredar setiap detiknya melalui sarana media sosial. Berita yang benar dan akurat bercampur dengan hoax atau gosip, dan menyebar dengan sangat cepat dan tak terkendali. Karena terkait erat dengan hak publik memanfaatkan media sosial, penyebaran hoax menjadi sulit ditangkal. Satu-satunya langkah yang cukup efektif menangkal hoax adalah kesigapan merespons berita bohong itu dengan menyebarluaskan berita yang benar dan informasi yang akurat," kata Bamsoet Senin (9/1/2017).

Sarana media sosial yang harusnya berfungsi sebagai alat tukar informasi sudah disalah gunakan oleh banyak oknum, menjadi tidak valid dan tidak bisa dipercaya. Hingga masyarakat sulit mendapatkan berita yang dijamin kebenarannya. Sementara media sosial yang telah banyak menggantikan posisi televisi sebagai alat untuk mendapatkan informasi kembali berpaling.

Termasuk situs-situs yang banyak dihapus akhir-akhir ini yang diduga melahirkan berita-berita hoax menyebabkan kekeliruan di tengah measyarakat. Tak beda dengan situs-situs Islam yang dirasa tak melakukan hal sebagaimana yang diduga juga ikut merasakan dampaknya. Banyak situs Islam yang diblokir dan itu yang disayangkan. Karena sebenarnya kasus berita hoax ini sudah lama tapi baru memuncak sekarang, dan sasarannya adalah beberapa situs Islam. Seolah K/L yang terkait tidak mau kehilangan kesempatan menutup situs Islam yang dianggap dapat mengancam pemerintahan dari pemaparan berita yang jelas dan nyata adanya. 

Dengan sikap ini, seolah hoax menurut pemerintah atau K/L terkait  adalah berita yang memang memiliki validitas tetapi mengancam posisi atau pemikiran masyarakat terhadap pemerintah itu sendiri. Sementara yang bertolak belakang atau yang belum jelas kebenarannya namun menguntungkan dan atau tidak mempengaruhi pemerintah adalah bukan hoax dan dibiarkan saja. Juga dengan semakin terbukanya mata masyarakat yang selama ini acuh. Kini masyarakat lebih selektif dalam mengkonsumsi berita, menganalisa permasalahan yang terjadi di negeri tercinta ini.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rocky Gerung - Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi - Dosen Filsafat Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI)

“Pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. Orang marah (dengan pernyataan Rocky Gerung ini -red). Tapi itu faktanya. Bahwa hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu,” kembali tepuk tangan meriah mengiringi pernyataan Rocky.

Rocky Gerung - Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi - Dosen Filsafat Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI)

Dan juga pemerintah dengan K/L terkait harus bersikap cepat dalam meluruskan berita-berita hoax yang marak di masyarakat. "Untuk memenangkan mempengaruhi opini adalah dengan mengaktifkan semua kementerian dan lembaga serta government public relation untuk segera merespons jika ada isu yang menarik perhatian publik secara cepat," kata Heru saat berbicang dengan detikcom, Kamis (5/1/2017) malam. 

Kita harus bersatu. Itulah kata-kata yang harus kita tegakkan. Untuk melawan berita hoax apapun itu terlebih yang anti Islam dan menyerang Islam. Atau membela situs-situs Islam yang mendapatkan ketidak adilan. Karena seharusnya pemerintah bukan hanya bersikap tegas tetapi juga objektif dan transparan. Mana situs yang harus diblok, mana situs yang harus dipertahankan, bahkan diberi penghargaan. Karena telah  membantu masyarakat mendapatkan berita yang valid lagi berbobot.

Jadi, Sebagai masyarakat kita harus selektif dalam  memilih berita. Apalagi dalam menyebarkannya. Jangan sampai kita menyesal telah membagikan berita hoax atau  palsu yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Dan juga kasus ini dapat melatih diri kita dalam menganalisa berita yang  sedang berkembang dengan sangat cepat dan pesat.

Terakhir, tentulah semua pihak berharap berita hoax dapat dihilangkan,  namun akan menjadi sulit jika keberadaan sistem ini tetap dipertahankan. Karena telah  menjadi rahasia umum,  banyak sekali situs hoax  yang ternyata dibuat dalam rangka melindungi kepentingan politik pejabat.

Islam telah menawarkan solusi cepat dan tepat dalam masalah ini. Dalam struktur Khilafah Islamiyah (negara Islam. Red)  media berada dibawah kendali biro penerangan,  yang akan sangat tegas dan cepat dalam  mengawasi dan memfilter ide-ide dan berita-berita yang beredar ditengah masyarakat. Biro inilah pula yang akan cepat memblokir situs-situs hoax termasuk porno. Setiap media baik cetak maupun elektronik akan diawasi berjangka,  jika didapati menyebarkan ide sesat seperti pluralisme, liberalisme serta berita hoax, maka media tersebut bukan hanya ditegur atau disanksi,  namun ditutup selamanya. Inilah sistem khilafah yang tegas dalam menangani masalah ditengah ummat,  hingga tak berlarut-larut seperti saat ini. Wallahu a’lam bis  shawab. [VM]

Belum ada Komentar untuk "HOAX Mewabah, Ada Apa Dibaliknya ?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel