Toleransi, Euforia, Fakta


"Semangatnya toleransi. Ini terabadikan dalam konstitusinya. Saling menghargai dalam semangat harmoni," ujar Obama di Congress of Indonesian Diaspora (Sabtu, 1/7/2017). "Generasi muda harus melawan intoleransi!" Lanjut Obama.

Catatan Ringkas

Kunjungan Obama ke Indonesia sarat nilai politis, tetapi miskin retorika perubahan. Obama adalah mantan Presiden AS, yang pada masa kepemimpinannya sampai saat ini Amerika memiliki ribuan pasukan yang masih bercokol di Timur Tengah dan Afganistan, politik energi dan jaringan pipa makin intensif, serta memback up Israel untuk terus melanjutkan permusuhannya terhadap kaum muslim, lalu kedatangannya telah disambut begitu hormat oleh Presiden Jokowi. 

Hari ini, Obama membincang toleransi lalu dikaitkan dengan konstitusi. Namun ketika kita mendiskusikan serangkaian masalah di dunia muslim, akhirnya menemukan kegagalan pidato Obama, serta menjumpai kenyataan sistem sekuler di bawah kepemimpinan tokoh yang dianggap demokratis maupun diktator sama saja, gagal memenuhi kebutuhan masyarakat. Jalan solutif ke depan bagi Indonesia harusnya berhenti menjiplak barat! serta mencampakkan sisa-sisa peraturan kolonial yang masih ada. Sebagai gantinya mengadopsi pandangan islam untuk negeri-negeri muslim.
Saat Obama bicara toleransi, kita telah melihat lagi bahwa toleransi dan bahkan keadilan politisi Amerika lebih berkaitan dengan kemanfaatan politik daripada keadilan hukum. Induk negara demokrasi ini telah terbukti lebih berurusan dengan kemunafikan dan populisme, sementara mengkekalkan hukuman terhadap umat Islam yang berani mengangkat suara mereka melawan ketidakadilan terhadap sesama muslim di seluruh dunia.

Obama tidak perlu mengajarkan standar toleransi ataupun intoleransi kepada umat Islam. Umat Islam tidak mengalami amnesia historis, mereka sangat mengingat… Amerika Serikat selalu memainkan dua permainan di negeri-negeri jajahan. Dalam jangka pendek, AS ingin menggunakan militernya untuk melanjutkan invasinya. dalam jangka panjang AS ingin melemahkan negara-negara target, apalagi negara yang potensial menjadi negara Islam yang kuat. 

Baik, kita pisahkan pidato Obama dengan kebutuhan riil umat Islam Indonesia di masa sekarang dan masa mendatang.  Sementara negaranya Obama, konflik AS-Eropa telah menciptakan disharmoni dan teror bagi masyarakat di negara-negara Arab Afrika. Sedangkan para penguasa negara-negara ini hanyalah pelayan setia yang menjaga kepentingan tuan mereka, yaitu Eropa dan Amerika. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kepentingan bangsanya, dan juga dengan konflik internasional yang terjadi di dalam negaranya.

Sesungguhnya Indonesia memiliki potensi untuk mewujudkan visi menjadi negara adidaya yang kuat yang mampu membawa perdamaian, Indonesia juga mampu menjadi contoh bagi dunia muslim lainnya dan sebagai sumber bagi penyatuan kaum muslim. Maka yang diperlukan sekarang adalah kepemimpinan yang tulus untuk mengimplementasikan kembali sistem Islam.

Maka Indonesia tidak boleh terjebak dalam tipudaya kepercayaan bahwa satu-satunya jalan ke arah modernisasi dan kemakmuran adalah jalan demokrasi sekuler. Dahulu dunia Islam ketika bersatu dan menerapkan Islam secara menyeluruh, menjadi adidaya internasional dan mampu menyatukan umat manusia beragam agama dan suku, mereka mampu melebur dalam harmoni dan perdamaian.  Dunia Islam kala itu memegang kepemimpinan sains, kemakmuran, pelayanan kesehatan dan turut mengantarkan Eropa keluar dari abad kegelapan yang menderanya berabad-abad. Ketika Islam diterapkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat di dalam Daulah Khilafah, niscaya terwujud kebahagiaan dan ketenteraman di tengah masyarakat, sesuatu yang tidak mampu diwujudkan oleh ideologi-ideologi dan sistem-sistem buatan manusia. [VM]

Penulis : Umar Syarifudin

0 Response to "Toleransi, Euforia, Fakta"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel