Egoisme Dibalik Nasionalisme


Insiden terbaliknya pemasangan bendera Indonesia dalam buku panduan SEA Games 2017 yang dibuat oleh Malaysia membuat  "saudara serumpun" ini kembali memanas. Meskipun pemerintah Malaysia telah meminta maaf atas ketidaksengajaan yang diperbuat namun masyarakat Indonesia terutama netizen terus menuliskan kemarahannya (atas insiden ini) melalui media sosial mereka. Kritik, kecaman bahkan hujatan dituliskan dengan menyertakan tagar #ShameOnYouMalaysia. Tagar ini juga sempat menjadi trending topik di Indonesia. Dalam keterangan resmi, kementrian luar negeri Indonesia melalui jubir Armanatha Nassir mengatakan telah menyampaikan kekecewaan melalui nota diplomatik dan menyebut bahwa masalah itu telah dibahas oleh Menlu Indonesia dan menlu Malaysia, Sabtu malam itu juga. (bbc.com 20/8)

Kita tahu kedua negara ini banyak memiliki kesamaan, mulai dari bahasa, suku, budaya, bahkan akidah, sama-sama berpenduduk mayoritas muslim. Padahal Allah telah mengatakan bahwa sesama orang yang beriman adalah saudara, namun nampaknya nasionalisme telah menjadi sekat antara saudara seakidah. Buktinya dengan mudahnya kaum muslim tersulut kemarahan ketika menyangkut dengan kebangsaan masing-masing. Mirisnya, sekat kebangsaan inipun ikut mematikan kepedulian antar sesama muslim. Di luar sana, kaum muslim sedang dilanda konflik seperti di Palestina, Rohingnya, Yaman, dll, namun mereka belum mendapat perlindungan dari penguasa muslim dari belahan bumi manapun. Jikapun ada hanya solusi sesaat saja, seperti mendirikan posko atau mengirimkan berbagai kebutuhan logistik dan obat-obatan, tapi belum ada satu pemimpin muslim yang mengirimkan pasukan militernya untuk membela kaum muslim di daerah konflik. Mereka sibuk mengecam tanpa ada tindakan real dan solutif. Kini penguasa dan masyarakat tentunya malah disibukan dengan perkara yang kurang manfaat, seperti pertandingan antar negara dalam satu regional, SEA GAMES contohnya. Acara-acara seperti ini memang ditujukan untuk menanamkan ide dan menguatkan rasa nasionalisme kepada umat sehingga umat tidak lagi memikirkan nasib Islam dan kaum muslim. 

Dari insiden bendera terbalik sampai terbantainya ribuan kaum muslim di belahan bumi yang lain mengarahkankan kita untuk berfikir dan menyadari bahwa rasa persaudaraan sesama muslim ikatannya adalah aqidah bukan nasionalisme atas batas teritori. Sejarah membuktikan bahwa umat Islam pernah bersatu dan menjadi umat yang terkemuka di bumi sekitar 13 abad lamanya dalam satu kepemimpinan, di masa ketika Islam dijadikan pedoman hidup individu maupun institusi negara. Namun ikatan nasionalisme berhasil menjadikan negeri-negeri muslim mudah diadu domba, dipecah belah bahkan dijajah dengan pemikiran barat sehingga cahaya Islam pudar dan kaum muslim kini diselimuti rasa egoisme atas batas teritori. Wallahu a'lam bis shawab. [VM]

Pengirim : Lavia Sri Dayanti (Cilacap)

0 Response to "Egoisme Dibalik Nasionalisme"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel