Bahasa Apalagi untuk Kepongahan Amerika dan Sekutunya?

Trump
Saat ini, bermunculan aksi-aksi protes menentang keputusan presiden Amerika Trump yang mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel. Aksi-aksi tersebut terjadi setidaknya di 30 kota di Jalur Gaza dan Tepi Barat, hari Jumat (08/12). Demonstrasi juga digelar disejumlah kota di dunia, termasuk di Istanbul (Turki), Tunis (Tunisia), Amman (Yordania), Jakarta, Solo dan Surabaya. Para demonstran menyatakan penentangan mereka atas pernyataan Trump terhadap Yerussalem. Di Jakarta, aksi unjuk rasa diikuti oleh ratusan orang di depan kantor Kedutaan Besar (Kedubes) AS.

Para demonstran mendesak Trump untuk mencabut kebijakan tersebut. Mereka membawa spanduk yang bertuliskan “Kami Bersama Palestina”. Di Instanbul, peserta antara lain membawa spanduk dengan gambar Trump dengan tulisan “pelayan Zionis”. Selain orasi demonstrasi diwarnai dengan aksi menginjak-injak bendera Israel dan aksi teatrikal dengan memancung presiden Trump yang diperankan oleh peserta. 

Pernyataan sepihak oleh Trump ini membuat hati kaum muslim sedunia marah. Sebenarnya, yerussalem adalah tanah milik kaum muslim. Yerussalem merupakan kota suci ketiga selain mekkah dan madinah. Di Yerussalem terdapat Masjidil Aqso sebagai kiblat pertama kaum muslim dan sebagai tempat Rasulullah melakukan Isro Mi’roj.  

Selain itu, Masjidil Aqso adalah tempat suci ketiga  bagi umat islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw untuk dikunjungi. Beliau bersabda:

“Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ketiga Masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram di Mekkah, dan Masjidil Aqsa.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

Bahasa apalagi untuk menggambarkan kebrutalan mereka? Konferensi tingkat tinggi sudah digelar. Protes demi protes sudah diadakan dan berulang-ulang. Kemarahan umat ini didasari atas landasan keimanan dan kesatuan aqidah. Sudah berpuluh tahun muslim Palestina dibunuh, dirampas tanahnya, ditumpahkan darahnya, dan dihancurkan rumahnya. Lagi-lagi, pemimpin muslim sekadar protes dan tidak melakukan tindakan nyata.

Kalaulah mereka begitu rupa menggunakan fisik dan senjata, maka lawan sepadan yaitu dengan jihad fi sabilillah. Inilah keputusan yang diambil oleh pemimpin negeri muslim. Diplomasi sekadar basa-basi dalam win-win solution yang mengguntungkan Israel. Kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu tindakan culas dan berigas harus dihapuskan segera. Rakyat Palestina menunggu kedatangan pasukan muslim yang mencintai Allah dan rasul-Nya demi membebaskan dari penjajah. [vm]

Oleh : Fadhilah UH (Women Movement Institute)

Belum ada Komentar untuk "Bahasa Apalagi untuk Kepongahan Amerika dan Sekutunya?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel