Buta Politik : Menjadikan Hidup Semakin Sempit


Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politk tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung pada keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar “AKU BENCI POLITIK”. Sungguh bodoh dia yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri”, [ Bertolt Brecht ,Penyair dan Dramawan Jerman].

Apa yang disampaikan Bertolt Brecht tersebut nampaknya masih relevan dan terjadi saat ini. Semua penderitaan anak manusia di belahan dunia  termasuk di negeri tercinta ini akar masalahnya karena masyarakat banyak yang antipati terhadap politik. Hingga politikus  leluasa mengambil kebijakan. Politik diasumsikan dengan merebut kekuasaan semata, penuh trik dan tipu daya. Saling menjatuhkan lawan dengan cara tak bermoral  dan serba serbi negatif lainya. Puncaknya masyarakatpun berkesimpulan bahwa politik adalah kotor. Anehnya tanpa disadari mereka  senang menjadi korban dan bahkan  menikmatinya. Contoh termudah dan sering terjadi adalah rakyat dengan penuh harap dan menunggu segera mendapat "Serangan Fajar".Serangan fajar adalah sebuah istilah dipedesaan ketika ada pesta demokrasi pemilihan kepala desa, Menjelang hari H mencoblos, Masing masing tim sukses calon kepala desa membagi bagikan amplop berisi uang kurang lebih Rp.100.000,-an. Mereka rela mempertaruhkan nasib 6 tahun kemudian dengan recehan yang hanya cukup dipakai hidup satu dua hari saja.

Tahun 2018 -2019 adalah tahun politik,demikian kata banyak pengamat. Kenapa, karena di tahun tersebut akan diadakan   pesta rakyat di negari ini berupa pilihan kepala daerah dan pilihan Presiden. Ritual lima tahunan ini selalu terulang , masyarakatpun faham apa yang menjadi rasan rasan umum.Di tahun pertama dan  kedua berkuasa adalah tahun mengembalikan modal,tahun ketiga keempat mencari - mengumpulkan modal dan tahun kelima menggunakan modal untuk merebut kekuasaan kembali. Jika benar demikian,maka sekali lagi rakyat menjadi korban politik penguasa karena mereka berkuasa hanya berorientasi kekuasaan untuk diri sendiri,kelompok dan partainya saja. Sementara urusan rakyat menjadi urusan kesekian kali saja,itupun sering terabaikan jika tidak menguntungkan. Tapi aneh juga rakyat yang menjadi korban politik  tersebut senang senang saja.

Politik Tidak Bisa Dipisahkan Dalam Kehidupan

Pada hakikatnya semua manusia setiap hari pasti berpolitik,entah disadari atau tidak. Apa yang diungkapkan Bertolt Brecht menjadi bukti nyata bahwa keburukan yang menimpa rakyat sehari hari adalah akibat kebijakan politik penguasa. Memang hasil kebijakan politik bisa positip atau negatip tergantung idiologi dan pelakunya. Sebab politik sebagai sebuah sistem itu sangat dipengaruhi dan ditentukan ideologi yang mendasarinya, entah islam,kapitalisme atau sosialisme. Karenanya ada politik Islam, politik demokrasi, dan politik sosialisme.

Apa yang sedang terjadi sekarang  banyak orang memandang bahwa dunia politik itu jahat, culas, penuh nafsu keserakahan, dekat dengan angkara murka,rebutan kekuasaan  serta sarat kebejatan itu wajar.  Karena politik sekarang sedang dikendalikan oleh idiologi kapitalisme dan sosialisme, Idiologi ciptaan manusia yang terbatas. Dua idiologi ini menjadikan materi sebagai puncak tujuan tertingginya. Politik untuk meraih kekuasaan dan materi,atau materi untuk meraih kekuasaan dengan berpolitik sama saja.

Sedangkan politik menurut islam sebagai sebuah idiologi ciptaan Sang Pencipta  adalah  pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh Negara dan umat, karena negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi Negara dalam pengaturan tersebut (An Nabhani, 2005). 

Definisi ini berdasar dari hadits-hadits yang menunjukkan aktivitas penguasa, kewajiban mengoreksinya, serta pentingnya mengurus kepentingan kaum muslimin. Nabi saw bersabda:

“Seseorang yang ditetapkan Allah (dalam kedudukan) mengurus kepentingan umat, dan dia tidak memberikan nasihat kepada mereka (umat), dia tidak akan mencium bau surga” (HR. Bukhari dari Ma’qil bin Yasar ra).

Dalam prakteknya politik Islam melibatkan dua pelaku, yaitu Negara dan umat atau rakyat, Maka tak heran jika dalam sejarah bisa kita temukan seorang wanita seorang diri dengan penuh percaya diri serta berani memprotes kebijakan seorang Kholifah/Penguasa tertinggi umat islam. Khalifah Umar bin Khottob yang jika berjalan semua syetan minggir karena takut,tapi langsung luluh ketika diprotes kebijakannya berkenaan dengan maskawin yang menjadi hak wanita. Wanita tersebut berani protes karena dia faham bahwa selaku rakyat dia punya hak dan  kewajiban sekaligus berpolitik untuk mengoreksi penguasa. Sungguh jauh dengan zaman kita sekarang. 

Saat ini mayoritas rakyat apatis dan masa bodoh terhadap apa yang terjadi ketidak adilan dan maksiat disekitarnya dengan dalih menjauhi politik kotor. Maka pantas jika penguasa dan politikus yang ada juga masa bodoh dengan nasib rakyat. Padahal Nabi saw bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku dalam genggamanNya, hendaknya kalian benar-benar memerintahkan pada kemakrufan, serta mencegah dari perbuatan mungkar, atau sampai Allah betul-betul akan memberikan siksaan untuk kalian dari sisiNya, yakni meskipun kalian berdoa kepadaNya dengan sungguh-sungguh, niscaya Dia tidak akan mengabulkan (doa) kalian.” [HR. Ahmad dan Tirmidziy].

Maka tidak ada pilihan lain jika ingin hidup lebih baik, Dalam menghadapi tahun politik ini rakyat tidak boleh buta politik lagi. Rakyat harus menyadari bahwa apa yang terjadi  dan selama  masih abai terhadap politik, Itu sangat menguntungkan politikus-politikus oportunis yang menjadi kepanjangan tangan kapitalis global dan lokal semata. Rakyat harus aktif berpolitik ala islam,yakni berani menyuarakan kebenaran dengan menuntut apa yang menjadi hak rakyat. Semoga rakyat segera melek politik dan hidup akan menjadi lapang. Amin! [vm]

Penulis : Manshur Abdillah

Belum ada Komentar untuk "Buta Politik : Menjadikan Hidup Semakin Sempit"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel