Hati-Hati, LGBT Mengancam Generasi!


Kabar mengejutkan kembali beredar di dunia pendidikan anak. Ditemukan sebuah buku bertajuk “Balita Langsung Lancar Membaca” yang mengandung konten berbau LGBT. Bagaimana tidak mengkhawatirkan? Dalam buku terbitan Pustaka Widyatama ini jelas tercetak kalimat-kalimat yang dinilai mengkampanyekan LGBT, di antaranya “wi-di-a me-ni-ka-hi fi-vi”. Di halaman lain tertulis “fa-fa me-ra-sa di-a wa-ni-ta”, “A-da wa-ri-a su-ka wa-ni-ta”, dan “o-pa bi-sa ja-di wa-ri-a”. Sebenarnya buku ini sudah ramai diperbincangkan beberapa tahun lalu. Banyak yang menyayangkan beredarnya buku berkonten LGBT tersebut. Namun tampaknya masih ada toko buku yang menjualnya secara online. (hidayatullah.com, 04/01/2013) Dan saat ini buku tersebut kembali viral setelah MK menolak permohonan AILA yang menginginkan LGBT masuk tindak pidana. Baru-baru ini, KPAI yang baru saja mendapat laporan terkait buku tersebut menjanjikan untuk segera bertindak. KPAI berencana memanggil penerbit dan mengadakan konferensi pers. (Kumparan, 28/12/2017)

Memang tampaknya buku tersebut hanya berisi tentang belajar mengeja. Bisa jadi anak belum paham terhadap kalimat yang dia eja (belum paham apa yang dia baca). Namun akalnya akan terus berkembang. Sangat mungkin dia mulai mempertanyakan, “Bunda, maksudnya bagaimana? Kok Widia menikahi Fivi? Mereka kan sama-sama perempuan.”, “Boleh ya Opa jadi waria?”, “Memangnya bisa ya laki-laki merasa dirinya perempuan?”. Pertanyaan-pertanyaan polos ini sangat mungkin keluar dari lisan si kecil. Syukur jika orang tua atau sang guru paham dan bisa menjelaskan dengan benar bahwa itu termasuk perilaku menyimpang yang tidak boleh dijadikan teladan. Yang mengkhawatirkan adalah orang tua dan guru tidak memahami bahwa ini perilaku menyimpang, kemudian menjelaskan kepada ananda bahwa laki-laki merasa dirinya perempuan itu wajar. Bahwa perempuan itu boleh saja menikahi perempuan dengan dalih hak setiap orang (HAM). Lebih berbahaya lagi, jika mereka tanpa bertanya, menyimpulkan sendri dan menirunya. Jangan lupa! Anak itu peniru ulung. Dia mampu menirukan apa yang diindra dan dibaca.

Mengkritisi Maraknya LGBT

Orang yang masih menggunakan akal sehat tentu dengan mudah menerima bahwa LGBT adalah perilaku menyimpang. Allah ta’ala telah menciptakan laki-laki dan perempuan. Dan Allah telah menanamkan dorongan seksual pada seseorang terhadap lawan jenisnya, bukan terhadap sesama jenis. Allah ta’ala berfirman: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Dalam ayat lain Dia juga berfirman:

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ

“Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS Al An’am: 98)

Maknanya, Allah menciptakan manusia dari seorang diri kemudian Allah kembangkan sehingga menjadi banyak dan memenuhi bumi ini. Lalu di antara mufassir ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud mustaqarrun (tempat menetap) adalah rahim ibu dan mustauda’un (tempat simpanan) ialah tulang sulbi bapak (Tafsir Ibnu katsir Juz 7/ 441)

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman yang artinya: ″Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (isterinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), ″Jika Engkau memberi kami anak yang sempurna fisiknya (tidak cacat), tentulah kami akan selalu bersyukur.″ (QS. Al ′Arâf (7):189) Ayat senada juga termaktub dalam QS Az Zumar ayat 6.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa sudah menjadi fitrahnya manusia untuk memiliki dorongan biologis kepada lawan jenis. Dan sudah menjadi kodratnya juga, mereka memiliki keturunan yang kelak akan melanjutkan estafet kehidupan di muka bumi. Jadi sebenarnya secara logika simpel saja. Andaikan Allah menciptakan manusia hanya satu gender, apa mungkin dari mereka terlahir keturunan? Maka dari itu perilaku LGBT ini adalah perilaku yang jelas menyimpang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Penyimpangan seperti ini harus dihindarkan dari anak-anak. Bukan justru ditumbuh suburkan dan diajarkan untuk dijadikan pembenar. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْالنِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

 “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang meyerupai laki-laki.” (HR Al-Bukhari)

Memang adakalanya seseorang terlahir dengan karakter cenderung seperti lawan jenis (al mukhonnats asli sejak lahir). Orang yang seperti ini tidak mendapat cela, ejekan, dosa dan hukuman karena ini adalah sesuatu yang asli sejak lahir. Hanya saja, wajib bagi dia untuk berusaha merubahnya semampu dia walaupun secara bertahap. Apabila dia tidak berusaha merubahnya bahkan senang dengan kondisinya, maka dia berdosa. Apalagi jika dia malah menambah-nambahi dengan memakai pakaian wanita, berhias dengan hiasan wanita yang tidak terkait kodrat fisiknya maka dia termasuk orang yang dilaknat dalam hadits di atas.

Hal ini senada dengan perkataan Al-Hafidz : “Dan adapun tercelanya menyerupai cara bicara dan cara berjalan (wanita) adalah dikhususkan bagi yang bersengaja untuk melakukannya. Adapun yang keadaan itu merupakan asal penciptaannya (sejak lahir) maka dia diperintahkan berusaha untuk meninggalkannya dan menghilangkannya secara bertahap dan apabila dia tidak melakukannya dan berpaling dari usaha tersebut maka dia tercela apalagi tampak darinya apa yang menunjukkan bahwa dia ridho dengan keadaan seperti itu". (Fathul Bari’ , 10/332)

Mencetak Generasi Bertakwa Sesuai Fitrahnya

Setidaknya kita butuh tiga pilar dalam mencetak generasi yang bertakwa. Di antaranya adalah individu yang shalih, lingkungan yang kondiusif, dan negara yang menerapkan aturan Allah ta’ala.

Pilar pertama yakni individu yang shalih. Orang tua dan guru hendaknya membentuk karakter sesuai dengan fitahnya. Untuk anak laki-laki, ajarkan karakter laki-laki. Misalnya sifat tegas, cekatan dalam melaksanakan tugas, juga mengayomi terhadap orang lain, sebab ia adalah calon pemimpin. Minimal dialah yang kelak akan memimpin keluarga kecilnya ketika sudah beristri dan memiliki anak. Untuk anak perempuan, ajarkan sifat lembut, penyayang, telaten, juga cekatan. Sebab dialah yang kelak akan manjadi ummun wa rabbatul bayt. Yakni ibu yang akan mendidik anak-anak mereka, dan istri yang memanaje rumahnya kelak.

Pakaikanlah pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu dia berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَالرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَالرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR Abu Daud)

Dan makna laknat Rasulullah ﷺ terhadap satu golongan adalah doa beliau agar golongan tersebut ditolak dan dijauhkan dari Rahmat Allah ta’ala. Rahmat Allah ini mencakup ampunan, hidayah, taufiq, rezeki, kesehatan dan lain-lain. Semoga kita terlindung dari segala sebab yang menjauhkan rahmat Allah ta’ala.

Pilar kedua adalah lingkungan yang kondusif. Tentu proses pendidikan ini perlu dukungan dari lingkungan. Bentuklah lingkungan Islami yang bisa saling mengingatkan ketika terjadi penyimpangan. Bukannya justru mentertawakan dan menjadikannya sebagai ajang mainan. Kita bisa melihat di berbagai tempat ketika ada laki-laki yang berperilaku mirip perempuan justru dijadikan bahan candaan. Sehingga seolah-olah lingkungan telah menganggap penyimpangan seperti ini adalah lumrah. Sudah seharusnya masyarakat mengarahkan mereka untuk kembali kepada fitrahnya, bukan justru menjadikannya sebagai lelucon saja.

Lalu, pilar ketiga yakni negara. Negara harus memberikan peraturan yang tegas terkait hal ini. Mengatur kurikulum dengan benar sesuai aqidah Islam, melakukan pencegahan tindakan menyimpang, hingga menerapkan sanksi bagi yang melanggar. Abu Hurairoh rahadiyallahu ‘anhu berkata:

“Sesungguhnya didatangkan kepada Rasulullah ﷺ seorang Al-Mukhonats, dan dia telah mewarnai tangan dan kakinya dengan hina’ (Pewarna alami untuk kuku, rambut atau kulit. Pent). Maka Rasulullah ﷺ berkata ; “Ada apa dengan orang ini ?” maka diakatakan pada beliau, Wahai Rasulullah ﷺ dia menyerupai wanita. Maka beliau memerintahkan (hukuman) dan kemudian orang tersebut diasingkan ke An-Naqie’. Maka para sahabat berkata : ” Wahai Rasulullah , Apakah tidak kita bunuh ? maka beliau menjawab, ” Sesungguhnya aku dilarang untuk membunuh orang-orang yang sholat” (HR. Abu Dawud)

Inilah bentuk ketegasan Rasulullah yang pada saat itu beliau berperan sebagai kepala daulah Madinah. Terdapat sanksi tegas yang diberikan pada orang laki-laki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya. Bahkan jika perilaku tersebut telah mengarah pada hubungan seksual, maka semua ulama’ sepakat pelakunya dijatuhi hukuman mati (Abdurrahman al-Maliki, Nizham al-’Uqubat/ 80-82).

Demikianlah seharusnya negara memberikan pembinaan kepada para pelaku penyimpangan seksual ini. Bukan justru memeliharanya dan enggan memasukkannya dalam tindak pidana. Allahu a’lam bish shawaab [vm]

Penulis : Kholila Ulin Ni’ma (Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini STAI al-Fattah Pacitan)
loading...

Belum ada Komentar untuk "Hati-Hati, LGBT Mengancam Generasi!"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel