Perempuan dan Proyek Deradikalisasi

Muslimah HTI
Munculnya pembahasan tentang perempuan cegah radikalisasi, tidak terlepas dari anggapan bahwa radikalisme bisa muncul dari rumah. Oleh karena itu para perempuan semestinya bertindak menjadi penangkal radikalisme sejak dari rumah. Caranya dengan mengajarkan Islam damai dan moderat pada anak.

Ibu sebagai madrasah ula, yang mendidik pertama kali anak-anak keimanan, berakhlak mulia, berpegang teguh pada ajaran Islam, jelas tidak bisa menerima begitu saja program deradikalisasi tersebut. Pasalnya deradikalisasi adalah anti Islam. Istilah radikalisme sendiri digunakan sebagai propaganda untuk menyerang Islam, tidak hanya orang/ulamanya dan ormas Islam, tetapi juga ajaran Islam yang lurus. Program ini menawarkan Islam palsu. Islam damai dan moderat yang kemudian dikenalkan denagn istilah Islam Nusantara, adalah hasil dari kompromi berbagai ide atau ajaran yang bertentangan dengan pemahaman Islam yang benar. Diantaranya mengajarkan toleransi yang dimurkai oleh Allah SWT, seperti keharusan umat Islam menerima pemimpin kafir, kebolehan umat Islam mengikuti misa Natal di Gereja, mengubah hukum mubah menjadi wajib, menganggap yang haram menjadi boleh atas dasar kepentingan manusia, semisal mendorong secara massif para ibu rumah tangga untuk bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, hingga pekerjaan yang haram pun yaitu PSK menjadi sah-sah saja demi menghidupi keluarga bahkan ada yang menyebutnya sebagai pahlawan keluarga, memaksa umat Islam untuk menerima kaum LGBT yang dilaknat ALLah menjadi bagian dari masyarakat heterogen, umat dipaksa menerima yang Allah haramkan. Menganggap tugas rumah tangga yang wajib atas perempuan sebagai beban., menghasut perempuan bahwa waris, jilbab, poligami, wajib ijin suami untuk keluar rumah sebagai tindakan diskriminasi atas perempuan, diajarkan pula anak-anak tidak boleh menyebut kafir, didorong saling memberi selamat atas agama orang lain, dll. Semua ini adalah bahaya besar bagi proses pendidikan generasi menuju kebangkitan hakiki. Mereka mengharapkan akan lahir generasi toleran padahal sebaliknya adalah generasi pengacau hukum Islam. Bungkusnya tampak baik, yaitu tolera, saling menghargai dan menghormati, hidup rukun dan damai, kesejahteraan perempuan. Kan tetapi mengandung penyesatan pola pikir dan penyimpangan prilaku yang akan mengaborsi lahirnya generasi yang shalih.

Oleh karena itu, kita para ibu harus tetap istiqomah menjalankan peran penting dan strategis nya dalam mendidik anak dengan akidah dan syariah Islam dari Al Qur’an dan Al Hadits. Peran penting dan strategis inilah yang akan diberangus oleh musuh Islam. Cara mereka tidak tampak kasar dan keras..Mereka cukup dengan merubah mindset perempuan khususnya dengan tujuan agar mereka memandang syariah Islam yang terkait tugas dan yang mengatur kemaslahatan para perempuan sebagai tali kekang beralih mengambil mindset selain Islam, yakni kapitalisme liberal.

Hal yang tidak kalah penting untuk dipahami para ibu adalah bahwa yang menyerukan mindset liberal itu ada dari kalangan Muslim juga. Oleh karena kita tidak hanya melihat performa luarnya saja, apa sebagai ulama atau klaim identitas semata, tetapi menelaah, meneliti pemikiran yang mereka sampaikan. Siapapun yang menyampaikan ide, hukum dan pandangan yang bertentangan dengan ide, hukum, serta pandangan Islam wajib ditolak, agar para perempuan terhindar dari penyesatan ide radikalisme juga yang lainnya. Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh adalah mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh kelompok Islam yang menyerukan pada kembalinya penerapan syariat Islam kaffah dan penegakkan khilafah. Wallahu a’lam bi ash shawwab. [vm]

 Penulis : Dra Enok Sonariah

Belum ada Komentar untuk "Perempuan dan Proyek Deradikalisasi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel