Lahwun Munaddzamun dan Upaya Membendung Kebangkitan Umat


Oleh : Muhammad Ayyubi

Sebulan sudah perhelatan Piala dunia berlangsung dan menyisakan dua tim yang berlaga di Final, Perancis dan Kroasia. Seluruh mata menuju satu fokus yang sama, mulai dari timur hingga barat dunia. Tidak terkecuali dunia Islam, tak ayal karena Arab Saudi dan Mesir menjadi wakil dari dunia Islam. Terlepas ada Nigeria juga mayoritas muslim. Seolah lupa bahwa di sisi dunia yang lain umat ini tengah berduka, Rohingya masih terbelenggu sekat nasionalisme. Kashmir dibantai oleh Radikalis Hindu di India. Syiria pun masih berduka dengan penindasan penguasa mereka. Tidak ketinggalan Indonesia tak henti mushibah melanda negeri ini mulai dari barat nusantara di Danau Toba hingga selat kepulauan selayar di Sulawesi Selatan. Tetapi seolah tidak mengubah pandangan mereka untuk tetap fokus pada setiap momen piala dunia. 

Jangankan untuk berfikir membangkitkan umat ini dari segala problematika, sekedar untuk melihat kondisi sekitar rumah mereka pun kadang tidak terpikirkan. Semua berulah karena Sepak Bola. Belum hilang euforia rakyat ini terlepas dari World Cup 2018 Rusia. Pesta itu dilanjutkan dengan gegap gempita Asian Games 2018 di Indonesia. Tak pernah berhenti energi umat ini dikuras hanya untuk sebuah keberhasilan semu dan kebahagiaan fantasi. 

Padahal pada saat yang sama, negeri terus didera masalah serius. Korupsi, diskriminasi, kejahatan, kemanusiaan, perampokan, pembodohan politik dan separatisme. Tetapi seolah semua itu hilang tidak berbekas dibenak umat ini. Dan merasa bahwa negeri ini baik-baik saja. Akibat sihir lahwun  munadzdzamun (permainan yang terorganisir)

Salah kelola olah Raga dalam Kapitalisme

Lahwun Munadzamun berasal dari kata lahwun yang berarti permainan atau hiburan. Dan munadzamun atau tersistem. Sehingga dalam kasus ini, hiburan bukan sekedar pelepas penat setelah seharian bekerja tetapi sudah dikapitalisasikan dalam bentuk industri. Mulai dari industri film, industri musik, industri wisata bahkan industri olah raga.  

Kapitalisme menjadikan olah raga sebagai industri. Dan menyulap para atlet layaknya seorang selebiritis sebagaimana dalam industri-industri lainnya. Seorang bintang sepak bola, apalagi untuk event semewah piala dunia pasti akan tersohor dan kaya.  Fenomena kehidupan atlet pun telah menyihir kaum muslimin. Mereka mmmmmmmemuja  mengikuti berita dan agenda olah raga dengan mendalam. Baik dari hobi sampai barang barang koleksi sang idola. Mereka pun nyaris terlupakan dan terhalang dari kewajiban sebagai seorang muslim. Mulai berdzkir, shalat, dakwah apalagi berjihad. Bahkan tidak jarang mereka habiskan uang dan dan waktu mereka untuk sekedar melihat pertandingannya hingga ke luar negeri.

Jika sudah seperti ini maka olah raga bukan hanya sekedar menjaga kebugaran fisik tetapi sudah menjadi sarana mengahalangi manusia dari menjalani agamanya. Dan menjadi haram hukumnya bagi kita untuk terjerembab di dalamnya. 

Kapitalisme dengan ide dasar sekularisme telah memisahkan olah raga dari pengaturan agama. Dan hanya menjadikan ukuran manfaat dalam pengelolaan olah raga. 

Olah Raga dalam Islam

Melombakan olah raga sebenarnya hanya ada dalam budaya Yunani, dimulai dengan diadakannya Olimpiade pertama di Athena Yunani, jauh sebelum Islam turun. Dilanjutkan kemudian di Eropa, hingga kemudian pada tahun 238 M dibangun gedung-gedung Colosseum  untuk pertandingan dan perlombaan gladiator.    

Dalam Islam olah raga hanya ditujukan untuk persiapan jihad. Seluruh potensi rakyat dikerahkan untuk membentuk fisik yang kuat dalam rangka menghalau kekuatan musuh dalam perang. Maka olah raga dalam islam memang diniatkan untuk ibadah tertinggi yakni jihad. Oleh karena itu kita memahami bagaimana Rasulullah memerintahkan umatnya untuk berlatih panah, berenang dan berkuda.  Dalam hal ini latihan-latihan tersebut bertujuan untuk, pertama, melatih fisik agar kuat guna menghadapi jihad. Kedua, menjaga tubuh agar tetap bugar dan fit. Tidak lebih dari itu. 

Oleh karena pandangan hidup seorang muslim adalah dalam rangka mencari keridhoan Allah dan meninggikan kalimat Allah (li i’la’i kalimatillah). Sehingga tidak ada waktu yang khusus untuk hiburan bahka diatur sedemikian rupa demi berlangsungnya sebuah kesenangan. Untuk itulah kita jadi mengerti kenapa ketika Shalahuddin al Ayyubi ditanya oleh seseorang “wahai panglima, sungguh tidak pernah kudapati engkau tersenyum dalam sepuluh tahun ini, kenapa?”. Sontak dia menjawab “bagaimana aku bisa tersenyum sementara aku melihat Al Quds di depanku belum dibebaskan?”

Boleh memang bergurau dan mencari hiburan dari suatu permainan tetapi bukan dikondisikan hingga sampai melalaikan ibadah dan mengingat Allah. Karena sungguh kegembiraan seorang muslim tidak lain adalah ketika dia menjalankan perintah Allah. Sebagaimana tergambar dalam hadits Nabi “Sesungguhnya melancong dan rekreasinya umatku adalah berjihad di jalan Allah “ ( HR. Abu Daud, Hakim dan Baihaqi )

Olah raga dalam Islam hukumnya adalah mubah bahkan menjadi wajib jika diniatkan untuk mempersiapkan jihad sebagaimana dalam Al Quran surat Al Anfal : 60 “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka, suatu kekuatan apa saja yang mampu kalian upayakan". Maka tidak mungkin sempurna melaksanakan jihad tanpa persiapan termasuk fisik para tentaranya maka mempersiapkannya menjadi wajib hukumnya. 

Satu lagi yang perlu ditekankan adalah meski olah raga itu boleh tetapi tidak diijinkan mencampurinya dengan aktifitas keharaman. Semisal berjudi, bercampur penonton laki dan perempuan, minuman keras, membuka aurat, terhalangi shalat dan sebagainya. Maka jika bercampur dengan yang haran olah raga pun menjadi haram hukumnya.

Sesungguhnya barat tidak ingin umat Islam ini bangkit dari keterpurukannya. Maka segala upaya mereka lakukan untuk itu. Salah satu dengan menyusun hiburan tersistematis untuk mendistorsi tujuan hidup kaum muslimin. Sehingga kita bisa melihat ada banyak sisi yang terlepas dari nilai-nilai islam dengan adanya permainan tersebut. Pertama, menguatkan semangat nasionalisme tiap-tiap negara peserta. Padahal itu dilarang dalam Islam. Bahkan tidak jarang sesama muslim pun bentrok hanya karena perbedaan tim kesayangan mereka. Kedua, umat terlena dengan permainan itu dengan mempersiapkan waktu, dana, atlet, infrastruktur dan sebagainya untuk sesuatua yang tidak membangkitkan negara. Bayangkan jika tiap tahun ada event olah  raga, mulai dari olimpiade, sea games, asian games, piala thomas, piala dunia, PON dan PORDA. Ketiga, umat ini akan tetap bodoh. Karena yang dipikirkan dalam benar mereka adalah fisik mereka tanpa memikirkan akal mereka. 

Maka tidak ada jalan lain selain meningalkan permainan sistematis tersebut dengan menyadarinya bahwa itu perangkap agar kita tidak bisa bangkit. Akan tetapi akan sangat sulit jika sebuah negara yang ada tidak membuat arusutama sendiri dengan ideologi khasnya. Maka hal itu meniscayakan khilafah sebagai negara yang bisa lepas dari jeratan lahwun munadzamun.[vm] 

Belum ada Komentar untuk "Lahwun Munaddzamun dan Upaya Membendung Kebangkitan Umat"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel