Paradoks Aksi Kemanusiaan dalam Kapitalisme


Oleh : Muhammad Ayyubi

Tragedi dua minggu terperangkapnya 12 remaja Thailand di gua  sepanjang 10 km sontak membuat dunia terbelalak. Berbondong-bondong bantuan tenaga ahli penyelam dari beberapa dunia datang, Tiongkok, Inggris, Amerika, Rusia dan Australia adalah sejumlah negara yang memberikan bantuannya. Proses dramatis penyelamatannya pun seolah menyihir dunia untuk sejenak mengalihkan perhatiannya ke Thailand. Tidak cukup itu, dukungan pemerintah dan masyarakat sekitar untuk 12 remaja itu pun begitu mengharukan. Mereka memberikan apa saja yang dimiliki untuk membantu. Punya makanan, sayur, tempat, pompa air, semuanya diberikan dalam partisipasi pertolongan. Hingga akhirnya drama penyelamatan itu pun berhasil dan menjadikan ke 12 remaja itu bagaikan bintang baru. Tak tanggung-tanggung Presiden FIFA pun mengundang mereka untuk melihat Final Piala Dunia 2018 di Rusia, sebagai hiburan atas keselamatan mereka. 

Sementara di belahan dunia lain, dengan korban jauh lebih banyak. Bukan hanya terperangkap dan terkepung tetapi juga terbunuh. Jutaan lainnya masih mengungsi di kamp-kamp penampungan. Dan bukan hanya di satu negara bahkan di beberapa negara. Syiria, Rohingya, Palestina, Pattani dan Afghanistan, tetapi dunia tak peduli dengan itu semua. Padahal tragedi ini telah berlangsung bertahun-tahun. Apakah berbeda nilai nyawa di dunia islam dengan nyawa di belahan bumi lainnya??. Apakah tidak layak hidup bagi meraka yang muslim?. Apakah nilai kemanusiaan itu hanya untuk ras dan agama tertentu?. Berbagai pertanyaan ini merasuki relung pikiran kita. 

Kita patut curiga, apakah memang ada diskriminasi dalam upaya penyelamatan manusia. Masih teringat dalam ingatan kita bagaimana manusia kapal dari Rohingya ditolak masuk Malaysia dan Thailand (m.detik.com/sabtu, 12 april 2018 01:04 wib), hingga akhirnya terdampar di Lhokseumawe Aceh Utara.  Bagaimana ribuan pengungsi Syiria terombang ambing karena tidak ada negara Eropa yang mau menerima. 

Ideologi kapitalisme yang konon menjunjung tinggi Hak asasi manusia, diantara salah satu hak itu adalah hak hidup tetapi faktanya justru berlainan dilapangan. Hanya sekedar penutup bopeng buruknya wajah kapitalisme. Pada satu sisi mereka begitu peduli bahkan kepada paus yang terdampar. Tak ketinggalan mereka mendirikan lembaga khusus penganggulangan dan pencegahan  bencana alam seperti greenpeace atau sejenisnya. Tetapi semuanya terdiam ketika semua itu terjadi di dunia Islam. 

Kondisi ini semakin meyakinkan kita bahwa, pelayanan baik yang diharapkan dari kapitalisme tidak akan pernah berwujud nyata. Apalagi kepada dunia islam. Karena karakter Barat yang terus menerus memasung sikap islamophobia dalam diri mereka. Mereka menganggap Islam ancaman yang bisa melenyapkan impian mereka. 

Tidak untuk Islam

Semua jargon manis demokrasi-kapitalisme bukan untuk Islam. Kita tahu dalam demokrasi ada kebebasan berpendapat, tetapi itu bukan untuk Islam, karena keyataannya berpendapat wajibnya Khilafah dilarang oleh meraka hari ini. Berpendapat bahwa yang layak menjadi sumber hukum adalah alquran pun akan dipersekusi bahkan dibully.  Kebebasan beragama itu pun bukan untuk umat Islam. Karena sejatinya umat Islam hampir di penjuru dunia menalami teror dan intimidasi karena persoalan penampilan mereka atas anjuran agama. Mulai dari pelarang cadar, pelaranga shalat, pelarangan jenggot dan sebagainya. Jika mereka konsisten dengan ide itu seharusnya tidak ada perlarangan-pelarangan semacam itu.  Yusuf Qardlawi pun berpendapat seandainya Barat itu mau menepati ide-idenya seharusnya umat Islam tidak dilarang untuk mendirikan negara berdasarkan Agamanya, yakni Khilafah. Tetapi apa yang sekarang terjadi?? Mereka mengkriminalisasi ide khilafah.

Dan celakanya, semua itu yang dulu hanya terjadi di Eropa atau Amerika justru sekarang terjadi di negeri mayoritas muslim, Indonesia.

Begitu juga kebebasan berprilaku hanya untuk mereka para pemuja kapitalisme. Lihatlah bagaimana hari ini, merajalelanya LGBT di barat dan Timur tidak terbendung lagi. Meski agama kristen, menolak itu. Kaum nudis, femen, genk, mafia dan sebagainya tumbuh subur dalam dunia kapitalisme demokrasi. Tetapi Islam dan Umat Islam tidak akan pernah mendapatkan itu. Justru yang ada adalah sitigmatisasi dan pembusukan karakter Islam. 

Kalau dalam demokrasi kita mengenal kebebasan berekonomi. Sayangnya hanya untuk mereka para kapitalis saja. Mereka bisa sesuka hatinya menguasai barang-barang yang menguasai hajat hidup rakyat banyak dengan atas nama undang-undang. Tetapi Islam jangan berharap akan mendapatkan itu semua. Meski hari ini ada Bank Syariah itu tidak lebih dari pengerdilan peran Islam dalam urusan ekonomi, karena faktanya Bank syariah dibonsai karena hanya bisa melakukan wadiah saja, selebihnya tidak ada bedanya dengan bank konvensional, hanya sekedar ganti istilah saja.

Termasuk di dalam urusan misi-misi kemanusiaan. Untuk Islam tidak pernah dapatkan itu semua. Kita masih ingat dalam tragedi Kapal Mavi Marmara yang dibajak dan tembaki oleh Israel padahal mereka adalah tim relawan kemanusiaan untuk Palestina. Terlalu seringnya kita merasakan ketidakadilan dunia kapitalisme kepada Islam, maka tidak ada yang bisa diharapkan untuk menolong umat Islam ini kecuali kepada sistem Islam. Karena selama kita masih dikangkangi oleh Kapitalisme dunia maka jangan berharap ada keadilan untuk Islam.  Semua itu bagaikan pungguk merindukan bulan. Hal ini mengingatan kita kepada firman Allah.  

“Sungguh besar kebencian apa yang ada dimulut mereka, dan apa yang disembunyika di hati-hati mereka lebih besar lagi “ ( QS. Ali Imran : 118 )

Berharap kepada Khilafah

Khilafah akan menjamin jiwa setiap manusia, sebagai pengejawantahan dari prinsip muhafadzatu ala nafsi. Baik dia itu muslim atau kafir. Sejarah mencatat bagaiman Umar bin Khattab membebaskan Kristen Nasrani Palestina dari kekejaman Romawi. Bagaimana Shalahuddin al Ayyubi memberikan jaminan keamanan semua orang kristen pada saat jatuhnya Al Quds, padahal mudah baginya untuk membunuh mereka semua. Bagaimana Khilafah Utsmaniyah memberikan bantuan kepada Scotlandia dan Irlandia sebanyak 100.000 sterling. Akibat “ The Great Hunger “ yamg melanda kedua negara tersebut. 

Islam tidak melihat siapa yang dibantu, apakah muslim atau bukan. Karena dia akan melihat dia sebagai manusia. Maka sisi-sisi manusiawi lah yang dimunculkan ketika melihat orang. Meski kadang-kadang dari sisi keimanan kita membencinya. Tetapi karena amanat Al Quran maka Islam akan tetap berpegang teguh pada Al Quran 

janganlah kebencianmua kepada suatu kaum, membuat kalian berlaku tidak adil.”  (TQS. Al Maidah : 8 )

Sungguh indah peradaban dalam Khilafah. Hanya kesombongan dan kekufuranlah yang membutakan  semuanya. Tetapi tidak ada yang patut kita sedihkan dengan semuanya. Karena peradaban ini pasti akan kembali, dan   manusia akan menyambutnya dengan suka cita. In Sya Allah. [vm]
loading...

Belum ada Komentar untuk "Paradoks Aksi Kemanusiaan dalam Kapitalisme"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel