Islam Menjawab Masalah HIV/ AIDS


Oleh: Herliana 
(Pemerhati Sosial dan Pendidikan)

Angka penderita HIV/ AIDS setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Baru-baru ini ada tiga siswa SD berinisial H (11 tahun), SA (10 tahun), dan S (7 tahun) dari desa Nainggolan kabupaten Samosir yang positif mengidap HIV/ AIDS. Hal ini  membuat para orang tua siswa dan masyarakat dirundung rasa was-was dan takut untuk menyekolahkan anaknya bersama tiga anak pengidap HIV/ AIDS itu karena takut tertular lewat sentuhan. Padahal mereka bisa jadi korban dari perilaku seks bebas orang tuanya. (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45942934) 

Jika kita menilik lebih jauh, berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan, Sumut menempati posisi 7 di Indonesia yang terbanyak mengalami kasus HIV/ AIDS. Sementara berdasarkan data yang terpublikasi, angka prevalensi HIV/AIDS di Sumut mencapai 28,97 per 100.000 penduduk. Artinya, setiap 100.000 penduduk di Sumut terdapat 29 orang mengidap HIV/AIDS sehingga semua pihak perlu aktif dan peduli menanggulanginya. (http://medan.tribunnews.com/2018/10/22/inilah-data-pengidap-hivaids-di-sumut-hingga-3-anak-sd-di-samosir-terkena-hiv-dilarang-bersekolah) 

Sementara data dari Komisi Penaggulangan AIDS (KPA) di kota Medan, estimasi jumlah LSL (laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki) semakin meningkat mencapai 8.495 orang. Kepala Puskesmas Teladan dr. Kus Puji Astuti mengatakan LSL yang sudah mengakses  layangan tes HIV di klinik VTC tahun 2016 sebanyak 1.680 orang. Dengan begitu, masih banyak LSL yang tidak mengakses layangan tes HIV dengan alasan masih memiliki pasangan perempuan atau istri. Dengan data tersebut, dapat diprediksi bahwa penularan HIV pada perempuan dan anak juga akan meningkat. Hal ini akan menghancurkan generasi di Indonesia. (http://sumutpos.com. 2017/02/27)
Maraknya perilaku seks bebas, khususnya di kalangan remaja, berbanding lurus dengan infeksi HIV/AIDS. Data Dinas Kesehatan kota Medan tahun 2016 persentase pengidap usia 20-29 tahun (72 persen), usia 15-24 tahun (19 persen), usia 35-44 tahun (4 persen) dan  usian >45 tahun (4 persen). Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak ada di kalangan homoseksual (46,34 persen) heteroseksual (45,68 persen) dan IDU atau jarum suntik (4,66 persen), transfusi darah (2,44 persen) dan perinatal (0,44 persen). 
(http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KAB_KOTA_2016/1275_Sumut_Kota_Medan_2016.pdf)
Dekadensi  Moral 

Data di atas merupakan cermin, betapa sudah sedemikian bobroknya moral generasi penerus hingga tindakan yang jelas-jelas melanggar agama makin merebak. Seks bebas, LGBT, aborsi dan kecanduan narkoba adalah perbuatan maksiat yang dilarang agama, namun terbukti telah menjadi gaya hidup sebagian besar remaja. Akibatnya, penyakit mematikan Aids pun menjadi ancaman generasi penerus ini.

Jumlah kasus yang terdata seperti dipaparkan di atas, tentunya belum mencerminkan keadaan sebenarnya, melainkan sebagai fenomena gunung es. Realitas di lapangan angkanya pasti jauh lebih banyak, mengingat belum semua orang dengan HIV/Aids (ODHA) terdeteksi. Di antaranya karena keengganan memeriksakan diri.

Upaya Pencegahan

Sejatinya, upaya pencegahan penularan HIV/Aids terus-menerus dilakukan. Indonesia dibantu UNICEF sudah mengambil langkah penting untuk mencegah dan mengurangi penularan HIV di kalangan kaum muda, ibu hamil dan anak-anak yang rentan. LSM-LSM telah banyak yang memberikan edukasi kepada mereka-mereka yang rentan terkena HIV/Aids. Seperti penyuluhan pada para pelaku seks aktif, seperti Pekerja Seks Komersial (PSK).  Pengetahuan tentang HIV/Aids pun telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Misalnya dikemas dalam materi Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan disosialisasikan ke sekolah-sekolah.

Sayangnya, materi penyuluhan tentang HIV/Aids untuk masyarakat umum maupun pelajar itu minus muatan moral dan agama. Bahkan faktor moral dan agama sengaja dihilangkan dan sama sekali tabu dibicarakan, karena menurut mereka, HIV/Aids sekadar fakta medis yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan moral dan agama.

Ini karena dalam pandangan mereka, tidak semua ODHA adalah para pelaku tindak amoral seperti pelaku seks bebas. Ada anak yang tertular HIV/Aids dari ibunya, atau istri baik-baik tertular dari suaminya. Jadi, dalam logika ini, memasukkan nilai-nilai moral atau agama hanya akan memvonis ODHA sebagai pelaku tindak amoral. Karena itu ODHA dibela habis-habisan. Bahkan sengaja dibaurkan dengan masyarakat sehat, sehingga upaya pencegahan penularan HIV menjadi tak ada artinya.

Padahal, akar munculnya penyakit HIV/Aids memang terkait dengan perilaku sosial yang erat kaitannya dengan moral. Sebab jika ditelusuri, munculnya HIV/Aids terjadi karena aktivitas sosial yang menyimpang dari tuntunan agama.

Program-program dari pemerintah malah menunjukan ketidakefektifan menimbulkan masalah baru dan lepas tangan penjagaan terhadap generasi penerus bangsa. Seperti kampanye pencegahan HIV/Aids, ada istilah ABCD. Ringkasnya, A=Abstinence alias jangan berhubungan seks; B=Be faithfull alias setialah pada pasangan, C=Condom alias pakailah kondom, atau D=no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika. Realitasnya program kondomisasi lebih menonjol. Padahal, orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan komdom sama saja dengan menyuburkan seks bebas. Apalagi, faktanya kondom justru dibagi-bagikan di lokasi-lokasi prostitusi, hotel dan tempat-tempat hiburan yang rentan terjadinya transaksi seks. Apa namanya kalau bukan menganjurkan seks bebas?

Maka jelaslah sudah solusi yang ditawarkan sistem sekuler saat ini bukan menghilangkan media penyebaran HIV/ AIDS yaitu seks bebas tetapi malah menyuburkannya. 

Islam the Real solution

Media utama penulatan HIV/AIDS adalah seks bebas. Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas itu sendiri. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan Islam yang menyeluruh dan komprehensif, dimana setiap individu muslim dipahamkan untuk kembali terikat pada hukum-hukum Islam dalam interaksi sosial (nizhom ijtima’i/aturan sosial).

Seperti larangan mendekati zina dan berzina itu sendiri, larangan khalwat (beruda-duaan laki perempuan bukan mahram, seperti pacaran), larangan ikhtilat (campur baur laki perempuan), melaknat perilaku kaum sodom (LGBT), kewajiban selalu menutup aurat, memalingkan pandangan dari aurat, larangan masuk rumah tanpa izin, larangan bercumbu di depan umum, dll. Sementara itu, kepada pelaku seks bebas, segera jatuhi hukuman setimpal agar jera dan tidak ditiru masyarakat umumnya. Misal pezina dirajam, pelaku aborsi dipenjara, perilaku lesbian dan homo dibunuh dengan dijatuhkan dari tempat yang paling tinggi dan dilempari batu. 

Di sisi lain, seks bebas muncul karena maraknya rangsangan-rangsangan syahwat. Untuk itu, segala rangsangan menuju seks bebas harus dihapuskan. Negara wajib melarang pornografi-pornoaksi, tempat prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya. Industri hiburan yang menjajakan pornografi dan pornoaksi harus ditutup. Semua harus dikenakan sanksi. Pelaku pornografi dan pornoaksi harus dihukum berat, termasuk perilaku menyimpang seperti homoseksual.

Sementara itu, kepada penderita HIV/Aids, negara harus melakukan pendataan konkret. Negara bisa memaksa pihak-pihak yang dicurigai rentan terinveksi HOV/Aids untuk diperiksa darahnya. Selanjutnya penderita dikarantina, dipisahkan dari interaksi dengan masyarakat umum. Karantina dimaksudkan bukan bentuk diskriminasi, karena negara wajib menjamin hak-hak hidupnya. Bahkan negara wajib menggratiskan biaya pengobatannya, memberinya santunan selama dikarantina, diberikan akses pendidikan, peribadatan, dan  keterampilan.

Di sisi lain, negara wajib mengerahkan segenap kemampuannya untuk membiayai penelitian guna menemukan obat HIV/Aids. Dengan demikian, diharapkan penderita bisa disembuhkan.

Khatimah

Demikianlah, pencegahan seks bebas ini bisa efektif jika masyarakat dididik dan dipahamkan kembali untuk berpegang teguh pada ajaran agama. Masyarakat yang paham bahwa hubungan seks adalah sakral dan hanya bisa dilakukan dengan pasangan sah melalui pernikahan akan membentuk kehidupan sosial yang sehat. [vm]
loading...

Belum ada Komentar untuk "Islam Menjawab Masalah HIV/ AIDS"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel