Rezim Sekuler Buru Mesjid dan Penceramah Radikal


Oleh : Rut Sri Wahyuningsih
Pengasuh Grup Online Obrolan Wanita Islamis (BROWNIS)

Dimunculkannya kembali isu radikalisme mesjid dan penceramah menunjukkan tingkat kepanikan yang tinggi rezim sekuler neolib menghadapi kesadaran politik umat Islam yg kian menguat, terutama jelang aksi bela tauhid 212. Dan ternyata, biidznillah..acara reuni aksi bela tauhid 212 tanggal 2 Desember kemarin berlangsung sukses dan lancar. Tidak ada cheos, aksi saling dorong, pembakaran hingga sampah sekecil kulit kacang pun tak ada yang terselip di sela-sela paving pelataran Monas dan sekitarnya.

Bukti apalagi yang akan diminta oleh rezim ini bahwa umat Islam tak lagi buta politik. Mereka sadar sepenuhnya apa kebutuhan mereka. Yaitu persatuan. Satu akidah, satu syariat dan satu umat.

Dengan pongah BIN mengkategorisasikan 3 Zona Masjid yang terpapar radikalisme. Juru Bicara Kepala BIN Wawan Hari Purwanto mengatakan kategorisiasi tersebut berdasarkan konten yang dipaparkan penceramah dan bukan  masjidnya. Karena menurutnya  gak ada masjid yang radikal. Sebelumnya, Kasubdit Direktorat 83 BIN Arief Tugiman mengategorisasikan, masjid yang terpapar paham radikal menjadi tiga level. Pertama, 7  masjid level rendah, 17 level sedang, dan 17 lainnya level tinggi.

Kategori masjid pada zona merah yang menjadi sorotan BIN, memiliki kriteria yang sangat jelas menyimpang dari falsafah dan norma-norma Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan  sudah mendorong ke arah-arah yang lebih simpati ke ISIS. Ini yang membawa aroma konflik Timur Tengah ke sini (Indonesia). Mengutip ayat perang, sehingga menimbulkan ESKOM: Emosi, Sikap, Tingkah Laku, Opini, dan Motivasi. 

Maka BIN telah melakukan pendekatan kepada lima puluh penceramah yang dianggap terpapar. Selama mereka menunjukkan perbaikan, kita izinkan untuk ceramah. Selama ini kita lakukan pendekatan dialogis. Kita ingin memberikan literasi, karena ini kan masalah literasi. Ini bisa terjadi dimana saja. Sehingga perlu ada upaya-upaya supaya nanti ada perubahan. Karena kita menjaga keamanan dan ketertiban ( www.idntimes.com/20/11/2018).

Inilah wajah sekulerisme sesungguhnya. Ayat - ayat dalam Alquran secara haq berisi khabar gembira ( Bisyaro)  dan peringatan ( Nadhiro) . Sebagai ulama, pendakwah, yang dipercaya umat karena keilmuannya dan keteladanannya maka sudah sewajibnyalah mereka berada di garis terdepan menyampaikan kepada umat. Bukan sebatas perkara literasi yang remeh temeh. Tapi sudah menyangkut hukum syara, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan oleh seorang hamba. Alquran adalah Kalamumullah, bukan kitab buatan manusia, maka tidak ada yang harus dipilah-pilah di dalamnya. Terlebih dalam akidah kaum muslim hanya ada satu hal yang tak boleh pudar dan terlepas. Yaitu kalimat tauhid yang menjadi bukti bahwa mereka akan selalu mengesakan Allah, tidak mempersekutukan dengan apapun.  

Maka Umat tidak boleh  terpengaruh Isu2 yang terus mendiskreditkan umat Islam karena Islam bukan ajaran radikal tapi hukum-hukumnya justru membawa kebaikan bagi umat manusia. Arus liberalisasi dan hedonisme yang masif meracuni generasi muslim hari ini adalah salah satu bukti bahwa kerusakan yang diakibatkannya karena kaum muslim meninggalkan satu hukum yaitu hukum sosial dan muamalah yang sebenarnya sudah diatur oleh Allah zat Yang Maha Bijak dan Maha Mengatur. Kriminal, perkosaan, hilangnya nashob, eksploitasi perempuan, narkoba, pembuangan bayi, penghilangan nyawa karena harta dan sebagainya adalah bukti kesekian bahwa hukum buatan manusia tak mampu menciptakan keadilan hakiki. Akan lebih parah jika kaum muslim terus terpalingkan dan mempercayai apa yang diisukan padahal tak ada dalil yang membenarkannya. Ketentraman sungguh mahal, karena penguasa yang panik. Tak mau kehilangan zona nyamannya berkuasa dan memeras rakyat.

Maka, hanya satu yang hari ini harus dilakukakn oleh kaum muslim. Yaitu bangkit dan mulai bergerak untuk menghadang upaya-upaya pesanan kaum kafir pembenci Islam yang dibawa oleh penguasa dan kaki tangannya. Meskipun jalan kebangkitan ini tak mudah.  Dan  penentangan atas arus kebangkitan Islam merupakan sunnatullah. 

Umat justru harus segera menentukan sikap untuk  berada di barisan perjuangan mengembalikan Islam dlm pengaturan kehidupan. 

Sungguh, tak akan ada peristiwa politik terbesar yang telah ditunjukkan selain peristiwa reuni aksi bela tauhid 212 kemarin. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah jika kita bersungguh- sungguh. Kaum muslimin kini tahu, bahwa pembelaan terhadap kalimat tauhid yang dikriminalisasikan para pembenci Islam adalah bagian dari politik yang mulia itu, yaitu kesadaran untuk menjadikan kaum muslim sebagai Khoiru Ummah. Yang akan menegakkan kembali peradaban cemerlang sebagaimana yang telah diabadikan dalam Alrquran. Wallahu a' lam biashowab. [vm]
loading...

Belum ada Komentar untuk "Rezim Sekuler Buru Mesjid dan Penceramah Radikal"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel