Islam adalah Jati Diri, Bukan Pemanis Janji


Oleh: Aulia Rahmah 
(Founder Komunitas Lingkar Iman dan Tsaqofah)

Beberapa waktu belakangan ini fenomena hijrah marak terjadi di tengah-tengah masyarakat. Mereka berbondong-bondong untuk kembali menggunakan simbol-simbol Islam dalam kesehariannya. Mulai dari artis papan atas yang sungguh-sungguh bertaubat dan kini marak datang ke majelis-majelis ilmu, hingga para politisi yang menjelang pesta demokrasi tahun ini pun tak ingin kalah Islami dengan membuat gimmick "mendadak religius". Mengunggulkan kuantitas ibadah ritual mereka atau paslon jagoannya sebagai upaya memberikan citra baik di masyarakat sebagai pribadi yang Islami. 

Kepribadian Islam seseorang sebenarnya tidak bisa diukur hanya dengan banyaknya jumlah rakaat sholat, banyaknya sedekah, atau seberapa ia rajin melakukan amalan sunnah. Tetapi kepribadian Islam harus dinilai dari dua aspek, yaitu pola sikap dan pola pemikirannya. Seseorang yang memiliki kepribadian Islam harus memiliki pola sikap Islam dan pola pemikiran Islam. Jadi, apabila ia telah melakukan ibadah ritual yang banyak, namun dalam kesehariannya ia tidak menjadikan aturan Islam sebagai sumber pengambilan keputusan melainkan masih mempertahankan nilai-nilai sekuler-liberal dalam memutuskan segala sesuatu, maka sosok tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pribadi Islami. Begitu pun juga ketika ia memiliki pemikiran Islami namun tidak direalisasikan dalam sikapnya, maka sosok itu pun belum bisa disebut berkepribadian Islam. Karena seseorang dengan kepribadian Islam, pola sikap dan pola pikirnya akan selaras dengan nilai-nilai Islam secara keseluruhan.

Fenomena simbolisasi Islam memiliki beragam dampak, di satu sisi ini berdampak baik karena dapat memperkuat perasaan ber-Islam seseorang yang dapat meningkatkan ketakwaan individunya. Namun di sisi lain, justru berdampak pada pengerdilan nilai Islam yang agung karena sudah terwakilkan dengan hal-hal bersifat simbolis. Sebut saja tren berhijab yang merebak di masyarakat, berbagai model hijab dirilis tanpa memperhatikan lagi bagaimana standarisasi pakaian muslimah yang sesuai syariat Islam. Demikian pula dengan berbagai label syariah yang tersemat di banyak lembaga keuangan, seolah semua yang telah berlabel syariah aman digunakan tanpa memperhatikan lagi tiap-tiap akad yang terkandung di dalamnya. Dan masih banyak lagi lainnya. Hal ini lambat laun menjadikan masyarakat mudah berpuas diri dengan keadaan saat ini beserta perubahan-perubahan yang betsifat parsial. Sehingga mereka lupa terhadap kedudukan agama Islam yang sesungguhnya dan mudah mengambil Islam hanya dari beberapa aspek dan meninggalkan aspek yang lain.

Seperti istilah umum yang sering digunakan, "Islam bukanlah agama prasmanan". Kita tidak bisa sesuka hati mengambil hanya yang bermanfaat bagi kepentingan kita. Seharusnya kitalah yang menyesuaikan kepentingan kita dengan Islam. Karena dalam setiap aturan Islam yakinlah akan ada maslahatnya, sekalipun tentu itu bukan tujuan utama. Ya, Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Islam bukan sekedar agama ritual, namun Islam adalah sebuah mabda (ideologi) yang wajib digunakan oleh seluruh muslim dalam semua aspek kehidupannya.

Nabi Muhammad SAW adalah teladan sempurna dengan kepribadian Islam yang kuat dalam dirinya. Beliau terbaik dalam ibadah ritual dan juga paling luar biasa dalam aktivitas politisnya. Ya, beliau adalah seorang politisi sejati. Menyebarkan ajaran Islam penuh kesungguhan sehingga terselamatkanlah masyarakat Arab dari kondisi jahiliyah kala itu. Hingga pada akhirnya ia berhasil menerapkan aturan Islam yang sempurna dalam sebuah lingkup negara Islam. Ya, begitulah hakikat berpolitik dalam Islam. Bukan sebuah aktivitas berebut kursi belaka, tetapi utamanya ada pada pengurusan dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Hampir seluruh Nabi dan Rasul melakukan aktivitas ini, mengemban ajaran Allah SWT dan mengajarkan pada kaum/umatnya.

Maka jika mengaku diri meneladani perilaku Nabi dan Rasul sudah selayaknya kita berpegang teguh pada aturan Rabb Semesta Alam, Allah SWT. Menjadi hukum syara standar dalam memutuskan setiap tindakan, tidak dengan aturan buatan manusia yang sudah terbukti nyata kerusakannya. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Islam adalah Jati Diri, Bukan Pemanis Janji"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...