Generasi Sadis Jauh Dari Islam


Oleh : Lisa Budiarti

Speechless, melihat kondisi remaja saat ini. Begitu banyaknya fakta-fakta yang membuat miris, masalah kenakalan remaja seolah menjadi santapan sehari-hari di kanal berita. Sederet permasalahan remaja hari ini seperti seks bebas, aborsi, narkoba, dan tawuran pelajar hingga saat ini kian marak. Bahkan kasus Cyberbullying kian meningkat seiring perkembangan teknologi dan penggunaan medsos.

Baru-baru ini ramai dijagat twitter tagar #JusticeForAudrey menyusul kasus kekerasan yang dialami oleh AY atau Audrey remaja 14 tahun yang dikeroyok 12 orang remaja putri hanya karena masalah sepele. Audrey bukanlah yang pertama kalinya, betapa banyak remaja yang bernasib sama. Belum hilang ingatan kasus Yuyun remaja yang diperkosa kemudian di bunuh, kasus Eno yang diperkosa kemudian dibunuh dengan memasukan gagang cangkul ke dalam kemaluannya. Dan masih banyak lagi kasus serupa yang korban dan pelakunya masih remaja.

Bukan hanya perilakunya yang semakin sadis, perang kata-kata pun tak kalah sadis. Kasus cyberbully makin menjadi, mereka tak segan mengata-ngatai korban dengan kata-kata kotor. Tak sedikit korbannya depresi hingga bunuh diri.

Kasus-kasus seperti ini bak gunung es, namun upaya penanggulangannya sangatlah lemah sehingga tidak akan memberikan efek jera bagi pelaku maupun orang lain. Sebagai contoh, upaya hukum selalu saja berbenturan dengan usia pelaku yang masih dibawah umur sehingga tak sedikit kasus kekerasan remaja hanya diselesaikan secara kekeluargaan atau mendapat hukuman ringan dengan alasan dibawah umur.

Sekulerisme Biang Masalah Kenakalan Remaja

Semua yang terjadi di dunia ini tak lepas dari sistem kehidupan yang diterapkan saat ini. Begitu pula masalah yang terjadi akibat dari penerapan sistem yang tidak sesuai fitrah manusia. Sistem sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) menjadi biang masalahnya. Bagaimana tidak, akibat dijauhkannya agama dari para remaja banyak remaja yang tidak tau aturan, tidak tau tata krama terhadap orang tua, dan tak sedikit mereka tak paham arti hidup ini. Belum lagi mereka senantiasa disuguhkan tontonan-tontonan berbau liberal. Tak bisa dipungkiri tontonan saat ini bisa menjadi tuntunan. Betapa banyak remaja saat ini yang membebek para idolanya, mirisnya tontonan yang disuguhkan justru menjerumuskan mereka kedalam kehidupan liberal yang merusak.

Disfungsi peran keluarga menjadi penyebab terbesar dari kasus kenakalan remaja. Ibu yang sejatinya sekolah pertama kini kehilangan fungsinya akibat tuntutan kerja. Tak sedikit mereka yang menjadi pelaku karena orang tua cerai atau ditinggal Ibu bekerja. Mindset bahwa orang tua yang sayang anak adalah yang dapat mencukupi semua kebutuhan anak berupa materi adalah keliru, anak juga perlu dibekali pendidikan baik pendidikan agama maupun akhlak. Akibatnya, remaja memiliki sifat-sifat pemarah, egois, sombong, hedonis dan jaih dari agama.

Disaat kondisi remaja yang kian rusak, ada sebagian dari remaja yang ingin lebih mengenal agamanya justru pemerintah menakut-nakuti dengan sebutan Islam radikal, teroris, anti pancasila dsb. Padahal satu-satunya cara yang mampu membuat mereka lebih baik adalah dengan meluruskan akidahnya. Mengenalkan Islam sebagai solusi permasalahan hidup.

Selamatkan Remaja dengan Islam

Berbeda dengan agama lain yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, Islam memiliki seperangkat aturan hidup baik yang mengatur hubungan manusia dengan Rabbnya, manusia dengan dirinya dan manusia dengan sesamanya. Itulah sebabnya Islam bukan hanya agama saja melainkan sebagai mabda/ideologi.

Perlu kita ketahui kasus kenakalan remaja sering kali diakibatkan oleh permasalahan percintaan. Dalam hal ini, Islam secara gamblang mengatur sistem sosial atau sistem pergaulan laki-laki dan perempuan. Islam sangat menjaga interaksi lawan jenis, sebab hukum asal laki-laki dan perempuan adalah terpisah kecuali pada perkara-perkara yang dibolehkan seperti jual beli. Sehingga akan meminimalisir pertemuan laki-laki dan perempuan dan budaya pacaran yang identik dengan khalwat dan mengarah kepada zina akan bisa dihentikan.

Yang tak kalah penting adalah perbaikan sistem pendidikan yang dalam Islam akan mencetak generasi berakhlakul karimah dan penuh empati, sebab dakwah dalam Islam adalah wajib. Sehingga bisa saling amar ma'ruf nahi munkar. Peran masyarakatpun tak kalah penting, dengan adanya dakwah dan suasana Islam akan menjauhkan remaja dari perilaku-perilaku sia-sia seperti nongkrong atau sekedar main game.

Kunci utama dari semua ini adalah negara, sebab semua itu akan sia-sia manakala negara masih saja membuka peluang budaya liberal masuk, penerapan sistem pendidikan yang hanya mengacu pada materi dan sanksi hukum yang ringan, tidak akan mampu menghapus kenakalan remaja. Negaralah penanggungjawab utama dari semua ini. Negara tidak hanya berperan secara preventif melainkan secara kuratif dengan cara mencabut akar masalah semua ini yakni sekulerisme. Sebab, sekulerisme telah menjangkiti para remaja sehingga mereka mampu berbuat sadis kepada siapapun. Negara tidak hanya memberikan hukuman yang seringnya akan menguntungkan pelaku namun merugikan korban. Negaralah seharusnya mengubah sistem aturan liberal menjadi sistem aturan yang berdasarkan Islam.

Maka diperlukan peran sinergis antara keluarga, masyarakat dan negara untuk mengatasi semua itu. Dalam hal ini negaralah yang memiliki peran lebih besar, sebab pemegang kebijakan adalah negara.
Wallhu'alam bish sawwab.[vm]

Belum ada Komentar untuk "Generasi Sadis Jauh Dari Islam"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...