Pilpres Usai, Umat Bersikap


Oleh : Sukmawati Sukardi 

Mahkamah Konstitusi (MK) telah memukul palu terkait sengketa Pilpres dengan putusan menolak seluruh gugatan pihak pelapor yakni pihak Paslon Presiden Prabowo-Sandi dengan demikian maka keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait kemenangan Jokowi Maruf dianggap sah.

Keputusan MK bersifat final yakni tetap dan mengikat semua pihak  dituntut untuk menerima keputusaan tersebut. Prabowo – Sandi sendiri telah menerima keputusan MK bahkan telah melakukan rapat konsolidasi bersama partai koalisi Adil Makmur untuk menentukan nasip partai partai koalisi (yang saat ini bisa dikatakan sedang berada di persimpangan, dan yang terbaru  Prabowo telah bertemu dengan Jokowi di MRT dalam suasana politik rekonsiliasi. 

Yang kita soroti sebenarnya bukan melulu hasil keputusan MK sebab sedari awal mudah untuk diprediksi.  Yang menjadi perhatian salah satunya adalah akan kemana arah politik dan kebijakan publik lima tahun mendatang, khususnya bagi ummat Islam, di bawah kepemimipinan (Eksekutif) kembali Jokowi dan penguasaan parlemen oleh partai penguasa PDIP, serta lebih dari semua itu adalah masih di bawah sistem politik yang sama yakni sistem Demokrasi Sekuler ?

Mengapa ini menarik menjadi pertanyaan dan mengapa ummat (Islam) yang menjadi sorotan?. Sebab jika kita mengamati lima tahun terakhir berbagai kegaduhan sosial-politik seolah seringkali menimpa ummat Islam. Diantaranya isu Pencabutan Perda oleh Mendagri. Padahal di dalam Perda tersebut terdapat sejumlah Perda yang bersepahaman dengan aturan/Syariah Islam, semisal larangan peredaran minuman keras, himbauan mengenakan pakaian muslim/muslimah, kewajiban baca Quran bagi siswa, dll.

Meski pada akhirnya pencabutan 3.143 Perda tersebut tidak menyentuh secara langsung Perda yang bernafaskan syariah, namun “serangan” tak serta merta berhenti. Grace Natali ketua umum Partai Solidaritas Indonesia seolah menyerang Perda Syariah. Melalui pernyataan pada pidato politiknya terkait salah satu dari tiga misi PSI masuk Senayan adalah tidak akan pernah mendukung Perda-perda syariah. Pernyataan yang terkesan provokatif dan menyakiti ummat Islam. 

Kegaduhan lainnya yang menimpa ummat Islam adalah kasus penistaan agama yang di lakukan oleh mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahya Purnama alias Ahok.  Demi mendorong berjalannya proses hukum terhadap Ahok yang  menistakan Q.S Al Maidah, Ummat Islam terpaksa  bersikap tegas dengan melakukan aksi 411 dan 212.  Aksi 411 awalnya sangat damai namun berakhir dengan ricuh,  Gas airmata di tembakan ke arah massa padahal di tempat itu hadir sejumlah Ulama dan Habaib termasuk Syeikh Ali Jaber juga Almarhum KH. Arifin Ilham (Kyai yang terkenal dengan dzikir dan seruan dakwah yang menyejukan) merekapun ikut merasakan perihnya gas airmata. 

Pada 19 Juli 2017 salah satu Ormas Islam yakni Hizbut Tahrir Indonesia yang dikenal dengan dakwahnya yang cerdas dalam menyampaikan pendapatnya seputar ideologi Islam. Damai, bersih, dan tertib dalam melakukan aksi-aksi massa justru dicabut Badan Hukum Ormasnya oleh Kementerian Hukum dan Ham, ini menjadi pukulan menyakitkan pula bagi ummat Islam di Indonesia. Bahkan timbul kekhawatiran ini menjadi awal bagi nasib Ormas Islam lainnya terutama yang dikenal kritis terhadap kekuasaan. 

Adanya kesan monsterisasi terhadap sejumlah media online berbasis Islam, kemenkominfo sempat memblokir 11 situs Islam. hal ini disayangkan oleh salah satu tokoh MUI Ustadz Zaitun Rasmi.  Selain itu munculnya kasus Saracen seolah menjadi pembenaran akan perlunya media sosial Islam diwaspadai hingga akhirnya semua akun medsos yang mengatas namakan Muslim Cyber Army (MCA) harus siap-siap dinyatakan penyebar Hoax dan ujaran kebencian.  

Kegaduhan lain yang hingga kini kasusnya belum selesai adalah berbagai tuduhan dan fitnah yang dialamatkan kepada salah satu ulama yang dihormati oleh muslim Indonesia, yakni Habib Rizieq Syihab padahal tuduhan tersebut dinilai lemah dan bersifat “politis”. Habib keturunan Rasulullah SAW ini merupakan  pimpinan Ormas Front Pembela Islam, Ormas yang selain dikenal dengan ketegasannya dalam memberantas kemaksiatan (nahi mungkar) juga sangat dikenal dengan aksi-aksi heroiknya tanggap darurat bencana, bahkan ada yang membuat meme “jangan benci FPI, siapa tahu kelak mereka yang menemukan mayatmu”, belakangan FPI juga dianggap kritis terhadap pemerintah. 

Pengkotak-kotakan terhadap Ummat Islam juga kian terasa, ini merupakan kegaduhan yang menimbulkan berbagai dampak, diantaranya pembubaran pengajian yang diisi oleh Ustadz-Ustadz tertentu. Ummat Islam yang rindu terhadap penerapan Syariat Islam, rajin ngaji, hijrah, membawa bendera al Liwa dan ar Roya (Bendera Tauhid) dilabeli radikal atau ekstrim sehingga dinilai buruk (padahal  semua itu justru bisa jadi indikasi bahwa mereka adalah muslim yang paham tsaqofa Islam). Adapun ummat Islam yang liberal dan sekuler  fasluhuddin anil hayah (memisahkan agama dari kehidupan), tak setuju syariat Islam, anti ajaran Islam seperti Khilafah, dll disebut Islam moderat, toleran dan dinilai baik (padahal bisa jadi sikap demikian justru pertanda bahwa mereka tak paham ajaran Islam atau pemahamannya telah tercampur dengan ideologi diluar Islam).

Itulah sekelumit kegaduhan yang terjadi, masih banyak ketidaknyamanan dan rasa ketidak adilan  yang dinikmati  ummat Islam  tak disebut satu -persatu pada tulisan ini.

Sikap Umat, Berhenti Jadi Objek Politik 

Setelah MK memutuskan menolak gugatan Pelapor, dan kini secara otomatis pemenang Pilpres adalah Pasangan Jokowi-Ma’ruf maka Indonesia akan kembali dipimpin oleh Presiden yang sama tentunya  dengan segala atribut yang masih sama (Sikap, ide, fikiran, dll) termasuk perangkat kekuasaan yang kemungkinan masih di isi oleh orang-orang yang sama atau orang berbeda namun memiliki karakter pemahaman yang sama.

Akankah hal ini menjadi sinyal bagi ummat Islam, bahwa kegaduhan demi kegaduhan baru  yang menimpa ummat Islam masih akan berlanjut? Tentu harapannya tidak, semua mengharapkan perlakuan  adil dan pemenuhan hak-hak diberikan kepada semua pihak.  

Namun bagaimanapun ummat Islam tetap tak bisa berharap banyak pada kondisi diluar habitatnya, habitat ummat Islam adalah sistem Islam sehingga keadilan bagi mereka akan terasa langka diluar sistemnya. Selain itu ummat Islam harus kembali sadar bahwa keadilan dan kemakmuran hakiki hanya akan diraih dengan aturan dari yang Maha Pengatur Allah SWT. 

Oleh karena itu ummat Islam dituntut tampil menjadi Subjek peradaban termasuk dimensi politik . Bukan lagi menjadi objek politik yang dirayu saat musim Pemilu  lalu dicampakan pasca Pemilu.

Saatnya Ummat Islam  mengedepankan ide dan solusi yang bersumber dari Islam di semua bidang kehidupan, menampilkan jawaban Islam dalam  menyelasaikan semua masalah yang lahir akibat sistem Kapitalisme. Semisal bagaimana solusi Islam dalam membangun dan mengelola Insfrastruktur tanpa utang, tanpa riba, bagaimana hebatnya Islam memberantas korupsi, bagaimana Islam menstabilkan harga bahan-bahan pokok, dll.

Ummat Islam perlu paham betul potensi diri mereka yakni ummat terbaik jika mereka menjadi muslim yang bertaqwa. Taat pada segenap aturan Allah SWT di semua dimensi kehidupan (Aqidah, Akhlak, Ibadah Politik/Pemerintahan, Ekonomi, Sosial, Pendidikan, Kesehatan, dst).  Allah SWT  berfirman : “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah ...” (QS. Ali Imran ayat 110)

Oleh karena itu sikap yang di tunjukan ummat Islam adalah terus melakukan dakwah, merapatkan persatuan, bertindak bijak atas setiap khilafiah furu’ (perbedaan cabang) disetiap gerakan (Haroqah) muslim, dan tetap berani  melakukan mutabaah (kontrol) pada jalannya kebijakan politik meski mengandung resiko semisal pencabutan izin Ormas, hal itu menjadi konsekuensi perubahan besar,  alami terjadi dalam setiap siklus peradaban manusia. 

Terakhir, sikap yang sifatnya jangka panjang ummat Islam perlu memiliki visi besar bersama yakni mengembalikan kehidupan Islam,  menjadikan dunia dan mahluk yang hidup di dalamnya berada dalam nauangan Islam, aman dalam perlindungan dan keadilan Islam, merasakan dilubuk hati keindahan  Islam, yakni dengan terwujudnya bisyaroh Rasulullah SAW yang tertuang dalam hadits sahih yang diriwayakan oleh Ahmad  : “... Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah (sesuai metode kenabian). Kemudian Nabi Muhammad SAW diam.”

Dengan demikian dunia dan seisinya  umat manusia, hewan, tumbuhan akan merasakan surga sebelum surga yang sesungguhnya. Insya Allah. Wallahu ‘alam bissawab. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Pilpres Usai, Umat Bersikap "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...