Revolusi “Arab Spring”: Pemicu dan Indikasinya


Oleh: Dr. Hazim Badr

Ketika Revolusi ini mulai meletus di banyak negeri Muslim, yang dimulai tahun 2011 M, ia mulai mengejutkan setiap orang yang mengira, bahwa umat Islam telah dilupakan oleh zaman. Begitupula bagi mereka yang mengira, bahwa tanda kematian umat Islam telah dituliskan sejak lama. Mereka juga yang mengira, bahwa Revolusi ini tidak akan mampu bergerak melawan kedzaliman, kesewenang-wenangan dan kediktatoran yang dikonsolidasikan oleh Barat Kafir penjajah, yang telah menggoncang jantung Revolusi itu, dan potensi tersembunyi yang bisa berimbas pada kekacauan besar terhadap agenda-agenda penjajah, dan mempengaruhi prioritas politik global mereka di negeri-negeri Muslim. Maka upaya menghentikan revolusi, membunuh, dan menggagalkannya adalah obsesi utama Barat dan rencana utama politis mereka.

Tidak diragukan lagi, apa yang disebut sebagai “Musim Semi Arab” adalah sebuah perlawanan umat ini yang spontan dan natural. Sebuah perlawanan terhadap kedholiman dan kesewenang-wenangan setelah berbagai upaya untuk menjinakkan dan meredamnya sejak runtuhnya Khilafah, sejak satu abad yang lalu, melalui berbagai upaya konsolidasi  yang telah memecah-belah dan mencabik-cabik Khilafah menjadi negara-negara kecil, dengan menggunakan antek penjajah Barat, dengan menerapkan hukum Kapitalisme Barat terhadapnya, serta merenggut seluruh potensinya, sementara para pemudanya hidup dalam nestapa, kehinaan, ketakutan, pengintaian, pencabutan hak milik, serta kesempitan hidup lainnya.

Pada mulanya  tuntutan Revolusi adalah mencabut kedholiman dari umat, namun tuntutan tersebut menjadi sangat jelas dalam pencarian identitasnya.  Umat telah mengetahui (dalam Revolusi syam tepatnya)  kewajibannya untuk bergerak guna mengembalikan kekuasaan yang telah dirampas darinya, yaitu Khilafah, yang justru mendorong musuh-musuhnya untuk mengerahkan seluruh upaya  mereka demi menghancurkan dan merampas Revolusi tersebut. Setelah Barat penjajah dan para penguasa mengira mereka telah melakukan apa yang dirasa cukup untuk menghancurkan Revolusi tersebut, dengan  mengelabuhi dan membodohi umat, serta memisahkannya dari aqidahnya, tibalah saatnya umat menjawab dengan jawaban yang mengguncang dan lantang, bahwa mereka telah menentukan pilihannya dengan perubahan, dan setelah beberapa dekade mereka bersabar atas perbudakan, mereka pun mengumumkan bahwa mereka belum mati, dan sungguh mereka telah siap  mengorbankan jiwa, dan harta mereka di jalan agama Islam dan dalam rangka mengembalikan kemuliaannya.

Benar, bahwa Revolusi ini belum mencapai tujuan hakikinya hingga detik ini. Itu disebabkan oleh berbagai upaya perampasan dan pengalihan terhadap revolusi, memperlambat tuntutan dan ketentuannya, menekan, menyiksa para pemudanya, dan upaya monsterisasi terhadap mereka, hingga mereka  menjauhkan diri dari Revolusi tersebut. Namun, Revolusi ini ternyata tetaplah berlanjut. Mereka yang mengira lain, padahal jelas salah. Revolusi itu bukanlah revolusi yang bersifat sporadis. Namun, merupakan gerakan perubahan yang terpendam dan terus diperbaharui bagi umat yang tidak diam atas kedhaliman dan ketidakadilan.  Ia merupakan pergerakan sejarah yang gemilang bagi umat yang mencari identitasnya, yang berjalan di atas tujuannya dalam mewujudkan persatuan umat, hukum dan negaranya. Lihatlah, mereka putra-putra terbaik umat di Sudan hari ini keluar menghadapi penguasa mereka.  Lihatlah di Aljazair, Maroko, serta Yordania menggeliat demi mewujudkan hal itu. Sesungguhnya Revolusi ini masih terus  berlangsung, walaupun menghadapi berbagai keacuhan dan kegagalannya, ia akan terus berkobar  dari satu waktu ke waktu, dan gerakannya akan terus  berlangsung. Kita mampu menyaksikan kembalinya Revolusi ini di negara revolusioner itu sendiri, dimana ia bisa saja  menyebar ke negara lainnya. Karena keterpurukan yang melanda putra-putra terbaik umat tidaklah berubah, dan pemicu Revolusi itu masih terus berlangsung, bahkan semakin bertambah dan semakin kritis.

Sebagaimana sebuah bangsa yang tidak pernah memberontak pada penguasanya, mereka tertidur di atas bantal-bantal empuk sebuah keputusan yang telah rapuh dan susunan hukum yang telah tercabik-cabik  di setiap sendi kehidupannya. Ini bisa mendorong mereka untuk meletup dan berevolusi kapan pun. Apa yang terjadi di sebuah Muslim telah menjalar dan menyebar  pada seluruh pemuda umat, karena umat ini satu, perasaannya satu, dan umat ini pun merupakan satu kesatuan, karena problem dan penyelesaian masalahnya hanya satu.

Sesungguhnya Revolusi ini mengemban benih-benih Islam dan seluruh perasaannya. Ini tampak jelas, ketika masjid-masjid dijadikan sebagai titik tolak berbagai demonstrasi. Saat  Jumat yang penuh berkah, jutaan manusia menunaikan sholat berjamaah di lapangan, dan saat itu takbir dikumandangkan, dan para pejuang Revolusi turun memberikan seruan atas hukum yang ada dari mimbar-mimbar. Salah satu syiar mereka saat itu adalah (Ia [revolusi] untuk Allah, ia untuk Allah, dan umat menginginkan Khilafah). Semuanya sejalan dengan akidah Islam yang dianut oleh para pejuang Revolusi yang hendak menjatuhkan penguasanya. Dengan ini, revolusi itu mempunyai ciri khas, dengan tuntutannya atas dasar Islam, sekalipun kesadaran sebagian pejuang Revolusinya belum terbentuk dengan sempurna, namun Islam mampu menjadi sentuhan yang istimewa bagi revolusi ini, dan menggerakkannya. Sedangkan faktor Nasionalisme dan kesukuan di negara ini, atau itu, bukanlah penentu,  sekalipun kaum Sekular dan medianya berusaha untuk memanipulasi hal tersebut, karena ketundukan mereka pada musuh-musuh umat.

Seperti itulah, Islam sebagai pemantik awal Revolusi, juga menjadi penghapus jejak paling besar dalam waktu yang bersamaan. Para musuh Islam telah sengaja menghalangi, dan melarang munculnya Revolusi dengan ciri keislamannya, serta seruan perubahan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Islam. Mereka pun merekayasa tuntutan rakyat dengan tuntutan pada kebebasan, demokrasi, dan negara sipil.

Maka muncul bantahan atas kebohongan mereka, dengan mengajak masyarakat pada gerakan-gerakan Islamis, seperti yang terjadi di  Mesir dan Tunisia. Begitu pula tuntutan para pejuang Revolusi pada Khilafah di Suriah. Kaum Muslim sesungguhnya menginginkan agama dan Islamnya, namun Barat Kafir dan para penguasa negeri Muslim, dan kaum Sekular mengaborsi janin Revolusi  ini dalam bentuk penyesatan opini, konspirasi serta skenario untuk melarang Islam politik memimpin gerakan perubahan. Kadang kala karena tidak adanya kesadaran para pejuang Revolusi itu terhadap apa yang mereka inginkan. Kadang karena perangkat yang mereka miliki, seperti alat untuk menghukumi negara revolusioner tersebut, berupa kekuatan politik sekuler dan  para pemimpin bayaran dalam militer.

 A. Revolusi telah Berhasil dan Gagal

Dari paparan yang telah dibahas di awal, bisa disimpulkan, bahwa berbagai “Revolusi Musim Semi Arab” telah berhasil dalam beberapa hal, tetapi gagal dalam hal lain:

Berhasil dalam menghancurkan dinding tebal pada diri umat, yaitu diam dan rasa takut pada umat. Terlihat umat telah menyatu dalam satu kesatuan yang mewadahi putra-putrinya yang mukhlis berikut gerakannya, untuk berkorban di jalan ideologi, kehormatan, kemuliaan serta negaranya. Sesungguhnya umat sedang menghadapi musuh yang nyata, yaitu para penguasa mereka, dan mereka tidak mungkin menjalin perdamaian dengannya. Umat pun  sepakat untuk melengserkan para penguasanya, tentu berikut hukum-hukumnya, yang juga berarti penolakan umat  terhadap siapapun yang berdiri di belakang hukum positif ini, yaitu Kafir penjajah yang telah mengkonsolidasikan terwujudnya sistem Kapitalistik Liberal di negeri kita. Penolakan umat ini sendiri telah merupakan kemenangan bagi Islam atas Demokrasi Sekular dari segi peradaban.

Kemudian, Revolusi ini telah berhasil dalam menelanjangi pilar-pilar kenegaraan yang mendalam di negeri Muslim, yaitu antek Barat Sekular, yang meliputi para politikus, pemimpin militer bayaran dan seluruh perangkatnya, dan bagaimana Barat menggunakan mereka dalam mendistorsi Revolusi, mengendalikan serta menindasnya.

Revolusi ini juga telah berhasil menghancurkan seruan-seruan kebangsaan dan nasionalisme, dan dengan hancurnya semuanya itu, maka berakhirlah permainan kesektean, golongan dan sektarianisme di negeri-negeri Muslim. Dengannya pula maysarakat tersadarkan atas kedustaan dan pertunjukan “Khilafah aba-abal” (ISIS), sehingga negeri Islam sendiri terbebas darinya dan dari para pemimpinnya. Itu sesungguhnya hanya digunakan untuk mencitraburukkan Islam dan Khilafah.

Revolusi ini juga berhasil dalam menghilangkan tanda pengenal besar yang mampu memantik api Revolusi yang tak terbendung lagi, bukan hanya di negeri kita, namun juga dunia internasional, yang mampu menggoncang dan menghancurkan seluruh tatanan kenegaraan. Itulah wajah buruk Kapitalisme yang telah merampas, membunuh dan menghancurkan siapapun yang berdiri di hadapan negara-negara Kapitalis dan jajahannya. Beberapa orang mulai mengaitkan antara keluarnya gerakan Rompi Kuning di perancis dengan Musim Semi Arab.  Beberapa Partai Sayap Kanan Ekstrim di Eropa bahkan telah kembali menggeliat, dan begitu juga pengaruh politiknya. Semua itu mereka lakukan karena indentifikasi mereka terhadap para pengungsi yang lari dari kawah condodimuko Musim Semi Arab, serta perselisihan mereka atas prioritas poliltiknya. Sampai Amerika, negara nomor wahid di dunia, belum terbebas dari berbagai Revolusi ini, posisinya di negara kita telah merosot, dimana Revolusi ini telah mengancam singgasana antek-antek Amerika dan hegemoninya.

Namun, Revolusi ini gagal dalam mencapai tujuan yang disuarakan, yaitu mengganti sistem yang salah dan bodoh, yang melilit umat secara totalitas. Revolusi ini juga gagal dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, yang sesuai dengan ideologi dan sejarahnya yang gemilang, yaitu mengembalikan hukum Islam dengan kesatuannya dan kekhilafahannya. Revolusi ini juga gagal, karena ia tidak memiliki sudut pandang yang jelas dan mengkristal atas apa yang ingin diwujudkannnya, dan apa yang menjadi tujuannya. Revolusi ini juga gagal, karena alphanya kesadaran politik dalam diri mayoritas pejuang Revolusi dan para pemilik kekuatan politis yang memimpin pergerakan revolusi tersebut, juga mereka yang belum menyadari tuntutan yang diperjuangkan demi perubahan mendasar yang sesungguhnya.

Mereka itulah umpan yang lezat bagi para pemain dan makar penguasa, beserta antek Sekularnya, juga siapapun yang berdiri di belakang mereka di Barat sana, dan orang-orang yang berpaling kepada mereka dengan melakukan revisi-revisi sistematis atas peraturan dasar, tanpa merubah hakikat peraturan itu sendiri, maka kembalilah sistem peraturan lama dengan wajah baru, kemudian diberikanlah para penggagas Islam Moderat posisi khusus dalam permainan demokrasi, namun di saat yang sama, mereka menggagalkannya. Sebagian dari mereka lantas mengubah arahnya, dan penyiksaan ditimpakan pada  sebagian yang lain dengan berbagai jenis siksaan, di saat seperti itu masuklah pihak ketiga mempertontonkan kehebatan senjata mereka demi memperkuat dominasinya atas Revolusi.  Begitulah gagalnya berbagai Revolusi yang ada, karena ia tidak memiliki pemimpin politik yang sadar akan Revolusi tersebut, yang mampu memimpinnya pada gerbang keamanan dan penggulingan kekuasaan sesuai syariat Islam.

Gagalnya revolusi-revolusi juga disebabkan oleh tidak adanya  aktivitas  thalab an-nushrah  kepada para panglima militer yang mukhlis di kalangan umat, untuk membantu Revolusi tersebut agar berhasil melengserkan kekuasaan penguasanya secara total, dan mengubah sistemnya. Mestinya, Revolusi ini tidak membiarkan pimpinan militer bayaran tersebut memimpin tentara. Mestinya dalam gerakan Islam di Mesir, misalnya, (beserta mayoritas penduduknya membantu mereka dengan nyawa dan harta) tidak menerima kekuasaan, kecuali setelah dipastikan lepasnya komando militer yang  menjadi antek, yang memang tengah menunggu mereka. Namun, mereka tidak  sadar dan tidak tahu ketika mereka meraih kekuasaaan, tanpa adanya panglima militer yang mukhlis untuk menerapkan syariat Islam itulah gerbang kegagalan sesungguhnya, bahkan ia adalah politik bunuh diri. Inilah yang telah diperingatkan oleh Syaikh Hazim Abu Ismail pada mereka, sejak Revolusi Januari (10/3/2011 M), yang telah menyadari secara pasti pentingnya dukugan Revolusi dari  para panglima militer yang mukhlis, bukan orang-orang bayaran. Sudah sepatutnya Mursi dan jama’ahnya meminta dukungan para pimpinan militer  yang mukhlis, yang dimilikinya untuk menyerahkan kekuasaan saat masyarakat sedang berdemo di lapangan-lapangan, sehingga para penguasa dan penolongnya yang berasal dari pimpinan militer selaras dan sepakat atas bentuk kekuasaan yang diinginkan, yaitu Islam maka menyatulah keinginan umat dengan keinginan militernya, dan tidak ada satupun tentara agen yang mampu menghalanginya di bawah desakan opini publik. Namun, Mursi dan jama’ahnya tidak melakukan hal itu!

Revolusi ini telah gagal, ketika para pemimpinnya meraih kekuasaan berdasarkan sebuah  permainan demokrasi yang busuk, dimana ini merupakan hal yang paling inten diawasi oleh Barat di negeri-negeri kita, sesuai dengan kepentingannya, dengan siasat dan pengelabuhan, maka sampailah pimpinannya pada kekuasaan, namun tidak dengan Islam.

Dalam konteks Mesir, di bawah tekanan Revolusi dan gerakannya yang terus berkobar, gerakan-gerakan Islam diizinkan untuk mencalonkan kandidatnya hingga  mereka berhasil tampuk kekuasaan dengan jalan demokrasi yang dicengkram oleh para pengawal lama Sekular dan tentara-tentara bayaran. Namun, setelah satu tahun upaya menggagalkan gerakan Islam tersebut dilakukan, mereka akhirnya menghentikannya dan menarik pemberian (demokrasi) dari gerakan Islam yang mereka berikan sendiri. Apakah setelah itu ada yang memperjuangkan apa yang diperjuangkan gerakan Islam dengan demokrasi sebagai pondasi, rujukan dan jalan untuk mencapai perubahan? Sesungguhnya gerakan-gerakan Islam yang  telah berhasil mengalahkan gelombang arus Revolusi menanggung kekalahan yang menyakitkan, keikutsertaan mereka  dalam pemerintahan rezim antek, serta meninggalkan semua bentuk pemerintahan Islam, dan kesediaan mereka  menerapkan demokrasi beserta perangkat undang-undang Barat dan negara sipilnya, yang mengupayakan keberlangsungan peraturan-peraturan berbahaya di negeri kita, dimana itu merupakan tindakan kriminal yang diperbuat oleh gerakan ini pada masyarakatnya dan pejuang revolusinya.

Gerakan islam yang telah mencapai tampuk kekuasaan ini telah menyatakan tidak adanya hubungan antara mereka dengan Islam, justru mereka menggagalkan berbagai aliran yang mengklaim dirinya sebagai kelompok Islam. Lalu Anda katakan, bahwa demokrasi dan negara sipil adalah penyelesaian masalah?  Orang-orang yang memilih gerakan Islam tersebut sejujurnya telah kecewa, karena aparat yang mereka pilih, dahulu memperjuangkan Islam maka mereka membantu mencapai tampuk kekuasaaan tersebut, tetapi mereka justru tidak menerapkan apa yang diimani oleh para pejuang Revolusi tersebut, yaitu Islam.

Konspirasi Dunia Internasional Menghadapi Revolusi Musim Semi Arab:

Apa Strategi untuk Mengakhirinya?

Revolusi datang sebagai halilintar yang membinasakan Barat penjajah, posisinya sebagai penguasa riil di negeri-negeri Muslim, dan pemegang tali kendali berbagai perkara di dalamnya, yang merampas kekayaannya, pemecah  belah persatunnya yang wajib, dan pemersatu agamanya, ia memerintah seluruh perangkat anteknya  untuk menggugurkan Revolusi dan membinasakannya, seluruh bantuan yang memungkinkan pun dikerahkan untuknya. Seluruh strategi dikeluarkan demi mewujudkan hal itu dalam beragam upaya, yang memaksa setiap warga keluar menghadapi penguasanya dalam setiap perkembangan revolusi di setiap negara. Secara umum, strategi, alat-alat eksekutor, dan media Barat yang dipenuhi makar itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Barat penjajah melihat, bahwa strategi utamanya adalah mengahadang Revolusi untuk merubah sistem secara total, dan mendirikan pemerintah Islam yang adil sebagai penggantinya, yang mampu mengembalikan kekuasaan umat yang dicuri darinya: Negara Kesatuan Khilafah. Barat tidak melihat Revolusi ini, kecuali sebagai gerakan Islam,  ia tidak memonopoli dan tidak akan melancarkan siasat pada revolusi tersebut, kecuali memang sudah sepatutnya seperti itu. Barat, walaupun menamai revolusi tersebut sebagai “Musim Semi Arab” itu hanya untuk mengelabuhi umat, agar mereka bisa memalingkannya dari gerakan yang bertolak dari ideologinya. Sesungguhnya mereka mengetahui secara pasti, bahwa gerakan umat atas dasar Islam itu mampu merelisasikan lengsernya kekuasaan. Maka, Barat sengaja mencitraburukkan Revolusi, bahwa ia hanyalah sebuah gerakan nasionalisme yang terbatas, yang tuntutannya secara khusus  hanya sebatas penyelesaian problema kenegaraan, nasional dan bentuk pemerintahan. Yang mengupayakan pembentukan sebuah nation state bagi agen baginya, yang membantunya dalam mengupayakan dan mempertahankan penjajahannya di negara kita. Oleh sebab itu, Barat penjajah bertekad memisahkan seluruh simbol  keagamaan Islam dari revolusi, karena ia sadar, betul bahwa ia mampu memalingkan tuntutan masyarakat dan seruan para pejuang Revolusi, jika payungnya adalah nasionalisme. Ia juga menyadari sepenuhnya, bahwa seruan Islam dalam revolusi tidak akan berdiri di hadapannya, kecuali menjadi pemacu kemerdekaan secara total dari hegemoninya, serta persatuan umat Islam dan penegakan hukum Allah SWT di muka bumi.
  2. Barat memerintahkan pada seluruh perangkat agennya untuk mempertontonkan pada pejuang Revolusi, bahwa tuntunan yang diinginkan mereka adalah demokrasi, kebebasan dan negara sipil. Padahal maksud terselubung di balik itu adalah upaya memadamkan Islam, dan seruan kepadanya. Hal yang paling ditakuti  Barat adalah Islam politik, dan gerakan ideologisnya dalam diri umat, maka rezim Barat  telah menyiapkan bala tentara untuk menghadapinya dengan seluruh media dan seluruh pemimpin gerombolan Sekularnya demi memimpin gerakan politik Sekularis Liberal, yang mengelabuhi para pejuang Revolusi dengan slogan-slogan ini, dan memutarbalikkannya dari pemahaman-pemahaman Islam,  dengan itu para peuang Revolusi itu tidak akan menyeru pada hukum Islam.
  3. Sebagaimana Barat menggunakan perangkat Sekularnya dalam mengaborsi embrio Revolusi dan menggagalkannya, ia juga menggunakan perangkat Islamisnya dan menggagas Islam Moderat. Moderat dalam pandangan Barat artinya moderat dalam standar Barat: Sekularisme harga mati. Para Muslim pun sudah mengetaui kekuatan ini dengan baik, sejak mereka  mencicipinya berulangkali. Kekuatan ini memberikan  keselamatan bagi sistem  yang bahkan sudah hampir runtuh di banyak negara, agar tetap  berdiri dengan kedua kakinya untuk kedua kalinya, sebagai buah ketundukannya pada penjajah dan sebagai bentuk perlawanan atas Islam. Tindak kriminal gerakan tersebut sangat sistematis: Pertama, gerakan ini menyerukan pada apa yang diseru kaum Sekular, yaitu demokrasi yang telah runtuh, dan negara sipil. Kedua, ia tidak menyerukan satupun penerapan  Islam di tengah masyarakat, maka terkontaminasilah pemikiran mereka dengan metodenya. Ketiga, ia sebenarnya telah bergabung bersama sistem mereka yang telah rusak dan partai-partai Sekularnya dalam pemerintahan, dan melaksanakan pemerintahan dengan dasar demokrasi yang telah memberikan peluang baginya untuk mencapai  atau mendekati kekuasaan. Bukankah demokrasi yang dipenuhi keraguan ini telah membawa gerakan tersebut pada tampuk kekuasaan di Mesir, kemudian Barat menghabisinya? Lalu mengapa gerakan ini tetap berpegang teguh pada demokrasi dan malah menjadikannya penentu hukum dan pelerai? Apakah ini sebuah kebodohan yang nyata ataukah ia sebuah pengkhianatan?
  4. Barat telah menguasai Revolusi Tunisa dan memalingkannya dengan bertopang pada negara-negara besar di dalamnya, maka gugurlah Revolusi di sana ketika masyarakat dikelabuhi oleh undang-undang Sekularis yang berlaku, dan Pemilu Demokratis, dan dipasanglah pengawal-pengawal lama rezim, dengan Ibn Ali yang dipimpinn oleh al-Baji as-Sibsi beserta gerakan Islam Sekularis yang dipimpin oleh al-Ghonusyi yang menolak dengan lantang pengadopsian undang-undang negara dengan istilah yang membuat syariah sebagai sumber penetapan hukum. Setelah itu keadaan tidak berubah di sana, justru menjadi semakin buruk. Di Mesir pun Barat dan antek-antek Sekularnya mempopulerkan hukum tersebut pada kaum Muslim, setelah mereka mengetahui keinginan masyarakat adalah Islam, mereka juga merealisasikan keinginan tersebut melalui jalan demokrasi yang busuk.Tujuan di balik itu semua adalah menggagalkan upaya mereka, dan mempertontonkan ketidakmampuan Islam untuk berkuasa. Di Mesir, negara-negara besar ini kemudian mengakhiri kekuasaan tersebut dengan dipimpin oleh para tentara agen   yang  memenuhi satu negeri dengan kobaran api dan kekuatan yang brutal setelahnya, juga untuk mengusir Islam dan kaum Muslim, serta untuk meratakan seluruh daerah dengan penyiksaan demi memadamkan bara api Revolusi.Di Libya pun, negaranya masih dalam tekanan pertikaian antar negeri atas harta rampasan perang dan kekayaan alamnya. Keamaanan negara pun lenyap, dan tidak ada kekuasaaan yang mampu mengatur dan megurusi masyarakat di sana, para tentara yang tunduk pada Barat, merekalah pemilik suara tertinggi di sana. Begitu pula Yaman, ia telah gugur di antara tempat penjagalan satu dengan lainnya, kelaparan, pemecahbelahan, kekacauan yang besar, dan peperangan dengan pejabat yang telah memusnahkan ladang hijau dan daratan demi memuluskan rencana Barat penjajah. Sedangkan di Suriah, karena kekuatan militer di sana lebih besar dan lebih jelas arahnya pada agamanya, serta seruannya untuk berhukum pada aturan tuhannya, tampaklah fenomena yang lebih menyakitkan di bawah kendali Barat yang kriminal dan seluruh pembantunya yang menjadi anjing penjaganya, dimana mereka menyembelih para pejuang Revolusi dengan seluruh milisi dan makar politiknya, mereka menghalangi keberlangsungan Revolusi tersebut sebagaimana yang mereka inginkan, dan mereka menghalangi kembalinya pemerintahan pada Islam di sana.
  5. Salah satu cara yang dilakukan Barat penjajah dalam mengendalikan Revolusi adalah dengan memerintahkan rezim bonekanya untuk memonsterisasi masyarakat dan membunuh mereka dengan berbagai keputusan, hingga mereka bungkam dan takut, serta tidak akan berpikir untuk keluar menghadapi penguasa kedua kalinya. Apa yang terjadi di Mesir dalam cengkraman tangan as-Sisi, dan dengan dorongan Barat (demokratis), berupa labelisassi yang berlebihan dan ekstrem terhadap semua yang mengatasnamakan Islam, serta pembangunan puluhan penjara, penyiksaan,  penculikan, dan hukuman mati, itu semua tidak lain adalah sarana teror yang tersistematis untuk menghancurkan kepercayaan diri masyarakat, dan sebagai upaya monsterisasi atas revolusi dari segala gerakannya. Apa yang terjadi di Suriah tidaklah jauh dari analisa kita, dan cara-cara mereka dengan apa yang kita bahas, labelisasi Islam dan kaum Muslim dengan istilah teroris untuk membenarkan legitimasi mereka, serta upaya membendung gerakan mereka melawan rezim pemerintahan, maka tuduhan terorisme menjadi sebuah busi yang siap sedia bagi siapa saja yang berusaha untuk mencapai perubahan, sedangkan media di dalam negeri kaum Muslim menjadi alat Barat untuk menyeru masyarakat atas  penghalalan darah manusia, kehormatan, harta mereka hanya karena mereka memiliki perasaan Islam dalam diri mereka. Semua itu dilakukan demi monsterisasi para pejuang Revolusi, memecahbelah barisan mereka, dan menciptakan ketakutan pada masyarakat dari sebatas upaya mendekati pada mereka.
  6. Salah satu cara yang digunakan mereka adalah mencitraburukkan media Sekular untuk menggambarkan revolusi yang telah gagal dan berakhir, revolusi yang membawa kehancuran serta bencana  bagi warga Arab, dimana tidak ada  keamanan,  tidak pula kemajuan perekonomian karenanya, sebaliknya pertumbuhan dan nasib hidup mereka mengalami kemunduran!!Seperti itulah Barat dan rezim perangkatnya mengupayakan berbagai penyesatan demi fokus pada doktrinisasi dalam diri umat. Bahwa bencana, dan musibah besar yang menimpa kaum Muslim hari ini telah menimpa mereka sebelumnya akibat dari revolusi, maka mereka menyebut revolusi sebagai  pembawa bencana hingga mereka mengelabuhi masyarakat agar tidak memikirkannya, hingga para warganya tidak terjerumus dalam revolusi untuk kedua kalinya.


Pernyatan Musuh Umat, Rencana Jahat terhadap Revolusi:

Ini merupakan beberapa pernyataan (para politikus dan pemikir di Barat, rezim antek dan citra buruknya, Yahudi…) untuk dipertimbangkan, bahwa mereka telah menegaskan rencana jahat, dan ketakutan Barat dan Timur terhadap Revolusi:
  1. Tony Blair, Perdana Menteri Inggris periode lalu, berkata: “Advokasi kaum Liberalis di Timur Tengah adalah hal yang wajib dilakukan, atau kita akan menghadapi kaum Muslim di penghujung Musim Semi Arab” (2011). Blair pun telah menegaskan, bahwa Revolusi Musim Semi Arab telah membekukan sistem pengaturan terorisme, dia juga menambahkan bahwa revolusi 30 Juni (penggulingan tentara atas mursi) adalah Revolusi yang sebenarnya yang pernah berlangsung di Mesir, dan merupakan krisis yang sebenarnya, hampir saja Revolusi tersebut membelot pada identitas aslinya (Islam) setelah kelompok teroris berhasil meraih tampuk kekuasaan dengan Revolusi (2015). Dia pun berkata sesungguhnya kerugian-kerugian yang dihasilkan dari Revolusi Musim Semi Arab menyulitkan beban, ditambah ketika Musim Semi Arab bermula, kami telah mengupayakan campur tangan kami demi mencapai stabilitas di suatu tempat (2016).
  2. Presiden perancis Immanuel Macroon mengatakan, bahwa Tunisia telah berhasil membangun negara sipilnya, walaupun banyak terjadi penculikan tahanan politik dari pemilik ideologi keagamaan (2018).
  3. Senator Amerika atas wilayah Virginia Ritchard Blak memberikkan argumen atas Revolusi Syam sebagai berikut: “Sesungguhnya kejatuhan (Syiah) Nushairiyah di Damaskus akan berimplikasi berdirinya Negara Islam, dan setelah satu bulan kejatuhan Damaskus itu, negara-negara (Arab) lain juga akan runtuh” (2015).
  4. Jonathan Efenis seorang kepala intelejen Inggris, untuk spionase (MI5) berkata: “Sesungguhnya pergolakan Musim Semi Arab telah memberikan ancaman teroris yang nyata di sebuah tempat, dan di Inggris secara pasti” (2012).
  5. Ron Nicholas seorang penulis di koran New York Times mengungkap bahwa sebagian pimpinan gerakan pemberontak Arab (yang didukung kuat oleh Amerika) telah menerima pelatihan dari orang-orang Amerika terkait tatacara melakukan seruan pemberontakan dan pengaturan dari segi sarana media modern dan tatacara pengawasan pemilihan umum” (2011).
  6. Seorang pemikir Amerika, Noam Chomsky berkata: “Di masa musim Semi Arab, Obama sebenarnya telah mensubsidi para loyalis diktatornya yang kejam secara total dan terus menyuplai subsidinya ini untuk jangka waktu sepanjang mungkin. Disamping itu, Obama dan para loyalisnya sebenarnya telah bertaruh untuk mengembalikan sistem usang  setelah Revolusi ini.”
  7. The Guardian, Inggris, telah menyebutkan bahwa: “Sebab potensial di balik Revolusi belumlah lenyap, sementara kondisi saat ini dalam banyak aspek dapat menyulut api, dengan cepat, sejak tahun 2011. Di sana juga ada banyak faktor, yang sangat jelas dalam peran perlawanan yang lain. Di antaranya adanya tokoh-tokoh terkemuka yang berpengaruh, yang memonopooli kekuasaan ditambah dengan kerusakan besar dan para cukong, yang terus bergerak, dan memperkuat rezim tersebut”. Seorang penulis Britain David Hersath juga menegaskan, bahwa kondisi yang memicu kobaran api Revolusi Musim Semi Arab tahun 2011 sekarang semakin membara.” (2018)Smash Meilin, penulis, telah meringkas makalahnya sendiri di The Guardian dengan judul “Musim Semi Arab dan Barat: Tujuh Pelajaran dari Sejarah” (2011). Mindset masyarakat Barat penjajah adalah menguasai Musim Semi Arab, maka ia berkata: Barat tidak pernah bosan dan lemah dalam upaya mencengkram  Timur Tengah, apapun hasilnya nanti. Kekuatan besar adalah dukungan pakar (ahli) dalam mengemas sistem pemerintahan untuk melanggengkan penguasaan mereka terhadap sumber minyak. Barat juga menyatakan, bahwa orang-orang Arab yang tetap teguh untuk mengurus urusan mereka sendiri sebagai orang Fanatik. Campur tangan militer asing di Timur Tengah justru mendatangkan kematian, kehancuran dan perpecahan. Namun, pemuda-pemuda Timur Tengah tidak pernah melupakan sejarah gemilangnya walaupun  Amerika dan Eropa melupakan hal itu.
  8. Sekjen Jami’ah Duwal ‘Arobi, Ahmad Abu al-Ghaith mengutarakan, bahwa peristiwa Musim Semi Arab hanya menyisakan kehancuran, dan tersebarnya terorisme di kawasan (Timur Tengah) (2018).
  9. Menteri Urusan Islam, Dakwah dan Penasihat Saudi, Abdul Lathif bin Abdul Aziz al-Syaikh telah memperingatkan bahaya Revolusi yang membuat kebanyakan orang menganggap mereka sebagai penyeru fitnah yang berupaya menguasai pemerintahan. Dia menambahkan, predikat bohong, palsu dan menipun terhadap apa yang disebut Revolusi Musim Semi Arab. Revolusi berlumuran racun, dan penghancur umat Islam, dan ia sesungguhnya dipenuhi dengan kehancuran dan pemusnahan terhadap suatu negeri, dan penduduknya, ia juga membumihanguskan ladang subur dan daratan (2019).
  10. Orientalis Yahudi, Eyal Zeser, menegaskan di koran (Israel Yaum), bahwa upaya kudeta terhadap Muhammad Mursi memberikan Israel keuntungan strategis, karena pelengseran mursi dari kekuasaannya akan mewujudkan skenario monsterisasi yang dimunculkan oleh Musim Semi Arab (2012). Seorang pemikir, komentator dan pengasuh rubrik politik di koran (Heratz) Arieh Syafiet, berkata bahwa Jendral Abdul Fattah al-Sisi merupakan salah satu pejuang Ssrael setelah ia berhasil mengkudeta Revolusi Mesir, dan berhasil mengakhiri pemerintahan Ikhwan (2013). Seorang Jurnalis Yahudi, Hegie Elyad,  juga telah mengingatkan, bahwa Musim Semi Arab akan berimbas pada Musim Gugur Arab. Sedangkan Aavie Benyahu, mantan seorang Jurubicara Militer Yahudi berkata: “Barat harus membiarkan kesewenang-wenangan pemerintahan al-Sisi  dan mendukungnya dengan dukungan yang pasti….. Perang yang dilancarkan oleh al-Sisi melawan gerakan Islam telah memberikan Israel keuntungan yang signifikan dalam stabilitas pemerintahan.” Jendral Amus Jalboue juga mengatakan dalam makalahnya di koran (Marief): “Sesungguhnya Musim Semi Arab telah mengembalikan Israel pada jalur awalnya, dimana Israel menolak pembuatan hukumnya atas mayoritas bangsa Arab, karena ia memberikan kesempatan pada organisasi yang memusuhi gerakan Zionisme untuk mengutarakan  eksistensinya dan menunjukkan sejauh mana perhatian mayoritas Arab pada posisinya.”Sedangkan majalah ekonomi (Dzi Merkez) telah mengutip pernyataan dari mantan Menteri Perang di Dalma, institusi Yahudi, Benyamin Ben Elyeadz: “Sesungguhnya mempertahankan kewenangan militer di Mesir, dan tidak menyerahkannya kepada lembaga sipil telah memberikan keuntungan strategis bagi institusi (Yahudi).”

Tuntutan: Revolusi Membutuhkan Pedoman Berdasarkan Syariat

Dari apa yang kami paparkan di atas, bisa kami nyatakan sebagai berikut:
  1. Revolusi Musim Semi Arab membutuhkan revolusi (baru) terhadapnya untuk memperbaiki langkahnya. Revolusi yang tujuan satu-satunya adalah untuk mencabut rezim antek Sekularis hingga ke akar-akarnya. Revolusi yang mampu manjadikan kaum Muslim mengamputasi seluruh  hubungan mereka dengan negara-negara asing, serta menolak mentah-mentah mahar politik, Revolusi yang murni untuk ideologi Islam yang berjalan bersama para pejuang Revolusi dan umat untuk mencapai Khilafah, kewajiban dari Rabbnya, sumber kemuliaan, dan energi keselamatannya. Tidak diragukan lagi, inti permasalahan Revolusi ini adalah peperangan antara umat yang menuntut Islam dan menerapkan pemerintahan Islam, dengan musuh-musuhnya yang ingin memalingkan keinginan umat dengan mengarahkannya untuk mengikuti rancangan Sekular yang dipenuhi racun, agar bisa melanggengkan rezim untuk mempertahankan kepentingan hegemoni barat.
  2. Hal terpenting yang dibutuhnkan Revolusi adalah kesadaran terhadap rancangan Barat penjajah di negeri kita, maka upaya mengemis bantuan kepada Barat justru berbahaya  dan dosanya sangat besar. Barat telah berpengalam dalam politik, itu yang menyebabkan bangsa, rezim dan berbagai kelompok, hingga para pejuang Revolusi ini meminta bantuan Barat dalam politik mereka, dan dalam upaya penyelesaikan permasalahannnya. Perkara ini harus dihentikan. Jika tidak, maka mereka tidak menghasilkan apa pun. Para pejuang Revolusi tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama, yang telah dilakukan rezim penguasa bayaran, yang menganggap bahwa Barat penjajah merupakan penyelesai masalah mereka. Padahal, mereka inilah yang telah melakukan kejahatan besar dengan menjadi antek Barat. Walaupun berbagai tekanan terhadap revolusi, dan berbagai upaya pelemahannya, dan berbagai kebutuhan finansial, serta penindasan dan pembunuhan yang dilakukan rezim penguasa terhadap para pejuang Revolusi, maka mereka tetap tidak merangkak dalam belaian Barat penjajah. Karena, pada akhirnya, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Maka para pejuang Revolusi harus tahu dengan gamblang, bahwa kepentingan yang diwajibkan oleh agama mereka bagi diri mereka adalah menghentikan seluruh kepentingan Barat atas mereka.
  3. Wajib hukumnya, bagi siapapun yang memimpin Revolusi ini untuk bergerak berdasarkan Islam. Para pimpinannya hendaklah jujur (tidak boleh berkhianat). Jika tidak, maka ia tidak akan pernah mampu memimpin umat dengan kepemimpinan yang hakiki, meski ia mengklaim telah mengadopsi metode Islam. Namun, ketika ia tidak berjalan bersama umat menuju tujuannya yang tinggi (yaitu menerapkan Islam secara total dalam negaranya), maka dengan cepat fakta sebenarnya dia akan terungkap di depan umat. Umat akan meninggalkannya, dia pun kemudian jatuh. Sungguh senandung para pejuang Revolusi di seluruh negeri Musim Semi Arab itu mengutuk rezim dan politik Kapitalis Sekularnya yang telah gagal di seluruh lini kehidupan (yang nota bene merupakan contoh pemerintahan Barat di negeri-negeri Muslim dan mempertahankan cengkramannya). Setelah ini,  tidak akan diterima lagi dari para pejuang Revolusi itu, kecuali tuntutan dan perjuangan untuk melempar dan membuang rezim-rezim ini di tong sampah sejarah, serta mengganti dengan pemerintahan Islam. Islamlah yang bisa membebaskan, dan mengurusnya dengan hukum Allah yang adil dan menentramkan. Jika kurang dari semuanya itu, bisa dianggap gagal, membuang-buang waktu dan membelokkan dari kebenaran yang sungguh-sungguh, dan perjuangan yang membuahkan hasil, yang diridhoi Allah SWT.
  4. Sudah sepatutnya bagi para pejuang Revolusi itu untuk tidak mengulurkan tangannya pada uluran tangan rezim antek, pengkhianat, dan tidak menerima permainan politik yang diinginkan Barat berdasarkan kaidah-kaidah Barat, sebagai bentuk penyesatan kepada mereka, dan penyimpangan terhadap revolusi mereka. Kekuatan Revolusi dan buaian kaum Muslim terhadap Revolusi itu merupakan kekuatan yang lebih dari cukup, untuk meraih apa yang mereka inginkan. Kekuatan ini lebih dari cukup untuk memaksa para tentara dan pemimpinnya agar tunduk pada tuntutan para pejuang Revolusi, tidak perlu lagi referendum dan pembuatan hukum positif buatan manusia, serta melibatkan diri dalam pemilu berdasarkan Demokrasi yang buruk, yang telah mencuri berbagai Revolusi, juga tidak perlu melakukan negosiasi untuk menyerahkan kekuasaaan yang tidak utuh, sebagaimana yang terjadi di banyak negeri. Para penjajah Barat Kafir juga telah menggunakan apa yang disebut sebagai, “Islam Moderat” untuk memimpin perubahan, karena lemahnya perangkatnya, atau kader-kader Sekularnya di negeri kita! Namun, sangat disayangkan, gerakan-gerakan Islam moderat setuju dengan senarai persyaratann Barat, sehingga Revolusi ini mengalami penyimpangan, dan berbalik.
  5. Para pejuang Revolusi itu juga sepatutnya memiliki kesiapan yang matang untuk menerima kekuasaaan secara total, di atas puing reruntuhan rezim yang ada, ketimbang ikut terlibat dari rezim. Sudah sepatutnya bagi para pejuang Revolusi itu agar memilikki agenda perjuangan politiknya yang sempurna, untuk diterapkan di dalam negaranya, dan mereka juga mempunyai UUD Islami yang sudah siap di tangan mereka. Mereka juga harus meminta kekuasaan yang utuh dari militer (para pemimpinnya yang mukhlis tentunya) agar menerapkan Islam, maka tidak ada alasan bagi militer ketika itu, kecuali tunduk pada tekanan Revolusi. Jika antek-antek bayarannya, di kalangan perwira militer itu menolak, maka Revolusi akan terus berkobar sampai mereka tunduk. Namun, yang terjadi di Mesir, misalnya, justru aktivis Islam menerima tampuk kekuasaan atas dasar UUD Sekular, dan melalui proses Pemilu Demokrasi, di sana mereka didukung oleh tentara-tentara antek. Merekalah yang mengatur negara, dan di tangan merekalah seluruh kendali persoalan itu berada. Hasilnya pun aktivis Islam itu sampai pada kekuasaan secara formal, namun Islam belum.
  6. Revolusi-revolusi ini telah menegaskan, bahwa pernyataan para aktivis Islam, “Pilihan kami adalah Demokrasi, dan sumber rujukan kami adalah Islam” sepakat terbukti merupakan pernyataan yang rusak, karena pernyataan itu mencampuradukkan dua hal yang bertolakbelakang. Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang sempurna, yang menyingkirkan agama dari kehidupan, serta menyerahkan pembuatan hukum kepada manusia, dan bukan  sekedar mekanisme pemilihan suara saja, sebagaimana yang mereka klaim. Sungguh Demokrasi Sekular adalah sistem Barat penjajah, yang menguasai sekaligus membinasakan rakyat. Cukuplah para akitivis Islam itu yang mengalami kegagalan, menjadi penantangnya, yang meremehkan persoalan, serta menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan perubahan.Kami tegaskan kepada para aktivis Islam itu, bahwa Barat tengah tenggelam dengan demokrasi di negerinya sendiri, maka janganlah kalian selamatkan mereka di negeri kita. Siapa saja yang mengetahui hakikat demokrasi, kebebasannya dan negara sipilnya dengan sebenar-benarnya, pasti paham bahwa Demokrasi itu merupakan gagasan, dan alat penjajahan untuk mewujudkan kepentingan Barat Kapitalis dan kriminal di negeri kita. Demokrasi adalah berhala Amerika, yang akan dimakan sendiri, ketika bisa mengancam kepentingannya. Bukankah  pilihan kalian (Demokrasi) di Mesir telah mengantarkan Muhammad Mursi ke tampuk kekuasaan?  Tetapi, mengapa Amerika justru merampasnya dari kalian tanpa rasa malu, padahal Amerika siang malam berkoar-koar tentang demokrasi, kemudian ia justru  memerintahkan militer untuk menghancurkan semua yang berbau Islam hingga hari ini?Telah tiba saatnya kalian harus paham, semoga Allah merahmati kalian, sungguh Demokrasi Amerika adalah sistem Kufur, yang memisahkan agama dari kehidupan, dan karenanya masyarakat Amerika hidup dalam kegagalan dan terbelakang di setiap sendi kehidupannya; kedzhaliman, kriminalitas, rasis, berbagai penyakit, ketiadaan rasa aman, dan materialistik yang sangat mengerikan.. Apakah kalian tidak tahu, bahwa Demokrasi Amerikalah yang menyebabkan merebaknya peperangan, dan penguasaan atas seluruh potensi rakyat di dunia? Apakah kalian tidak sadar, bahwa Amerika menginginkan demokrasi di negeri-negeri kaum Muslim hanya untuk satu tujuan saja: memerangi Islam dan menghalangi kembaliya Islam, serta merusak masyarakat, melakukan sekularisasi dan mempertahankan hegemoninya?
  7. Kami juga tegaskan kepada mereka: Ketahuilah, sesungguhnya Barat penjajah tidak akan pernah mampu membelokkan umat dari tujuannya yang hakiki, yaitu pemerintahan berdasarkan Islam. Jika kalian berdiri di pihak umat, maka gaungkanlah seruan-seruan Islam yang hakiki, dan rancangan umat, yaitu Khilafah. Ketahuilah, bahwa Revolusi sesungguhnya adalah revolusi yang mampu memutus seluruh hubungannya dengan Barat penjajah dan sistemnya. Janganlah kalian tergiur dengan iming-iming sebagian kursi parlemen di sini atau di sana, karena sesungguhnya ia tidak ada nilainya dalam agama Allah, selama kedaulatan di tangan rakyat (demokrasi), bukan di tangan Allah, dan selama komando militer masih tunduk pada titah majikannya di Barat, daripada berjuang bersama umat dalam medan pertempuran perubahan yang hakiki.
  8. Kami katakan kepada kaum Sekular Liberal, kami tahu bahwa Barat Kafir penjajah telah memperalat kalian dalam membelokkan revolusi dan menguburnya hidup-hidup, serta memecah belah barisan pejuang, dengan menampakkan seolah Revolusi mereka menuntut demokrasi, kebebasan dan negara sipil. Karena, yang paling ditakuti Barat adalah Islam politik. Kami pun tahu, bahwa Barat telah menghubungi kalian untuk membiayai pergerakan kalian dan memimpin kalian agar bisa mengerangkeng Revolusi, dan mengarahkan Revolusi sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Kami pun sadar, bahwa Barat telah memperalat suara-suara kalian dan media bayaran, untuk menyebarluskan seruan-seruan Liberal dan pemikiran Sekular, agar terus dielu-elukan, dan menuduh Islam beserta pejuangnya. Ketahuilah, wahai para pembela peradaban Barat, bahwa kalian adalah orang-orang terasing, baik dari segi pemikiran maupun perasan, dari khalayak para pejuang Revolusi. Hanya, di negeri kami, kalian telah berhasil dikokohkan, melalui dukungan kedutaan-kedutaan Barat kepada kalian, juga melalui harta najis yang kalian belanjakan, serta melalui media. Kalian sendiri tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan rancangan politik yang kalian miliki setelah runtuhnya rezim, untuk kalian sampaikan kepada para pejuang Revolusi di arena dan lapangan terbuka, karena jika kalian melakukannya, niscaya itu akan memantik kemarahan para pejuang Revolusioner yang haus akan Islam dan sistemnya kepada kalian.
  9. Yang dituntut hari ini adalah mengarahkan kompas agar Revolusi itu bisa berjalan ke arah arah yang benar. Yang benar adalah, umat Islam di negeri-negeri yang mengalami Revolusi itu maupun yang lain, menginginkan Islam dan Negara Islam. Ini mengharuskan sistem yang akan digunakan oleh kaum Muslim untuk memerintah adalah sistem yang berdasarkan akidah para pejuang Revolusi, dari kalangan generasi Muslim, yaitu sistem Islam dan Khilafah Islam. Juga menuntut, agar orang yang memberikan dukungan kepada sistem ini, yang menjaga, melindungi serta menolongnya, dari kalangan militer Muslim adalah mereka yang mengaimani apa yang diimani oleh para pejuang Revolusi. Supaya umat bisa mencapai tujuannya ini, hendaklah aspirasi umat ini disatukan dengan aspirasi putra-putrinya yang ikhlas, dari kalangan militer. Jika itu tidak bisa diwujudkan, maka umat tidak akan pernah mencapai tujuan yang diharapkannya. Siapapun yang berprasangka, bahwa militer itu rusak, dan menjadi antek, maka kami tegaskan kepada mereka, bahwa yang rusak itu hanya sebagian pimpinannya, dan ini bisa disingkirkan melalui tangan-tangan orang-orang ikhlas di dalam tubuh militer itu sendiri, dengan izin Allah, setelah mereka menyaksikan pengorbanan umat demi agamanya, maka dunia di mata mereka tidak ada artinya. Mereka pun akan menyerakan kekuasaan kepada orang-orang yang ikhlas dari putra-putri umat.
  10. Kami tegaskan kepada umat dan para pejuang Revolusi, uruslah urusan kalian, dan hendaklah seruan kalian jelas dan mengkristal, dengan alternatif yang kalian inginkan. Hendaklah slogan-slogan kalian hanya untuk menegakkan sistem Islam, dan negara Khilafah. Tidak cukup slogan, “lengserkan saja”, dan tidak cukup, “Rakyat ingin menjatuhkan rezim” agar Barat mau melepaskan kepala rezim, lalu memberikan untuk kalian orang yang lebih buruk darinya. Ketahuilah, bahwa yang menggagalkan di negeri-negeri yang mengalami Revolusi adalah Demokrasi Barat, dan sistem palsunya yang penuh kebohongan. Dimana semuanya itu membuat masyarakat banyak menertawakannya di atas dagu-dagu sebagian orang yang tertundukan itu. Mereka pun berhasil menggagalkannya, dan memberangusnya dalam pemerintahan yang rapuh, dengan cepat mereka dihempaskan. Tolaklah legalisasi sistem, UUD dan perundang-undangan Kapitalis, yang menyalahi agama kalian. Tuntutlah pemerintahan dengan legalitas dan perundanga-undangan Islam yang akan menyelematkan. Perhatikanlah, siapa orang-orang yang berjuang bersama kalian, dan yang berada di belakang kalian. Dia memiliki visi yang sempurna dan utuh bagi sistem Islam, politik Islam, dan pemerintahan Islam. Dia juga memiliki rancangan UUD negara Khilafah, yang disampaikan kepada kalian dan siap diterapkan.
  11. Sesunggguhnya Hizbut Tahrir mengajak kalian untuk ini. Ia ada bersaam kalian di arena, lapangan, masjid dan mimbar. Hizb bekerja keras untuk kebaikan Islam dan umat ini, ia pun memimpin gerakan perubahan berdasartkan Islam di tengah-tengah kalian, dengan tema, “Perubahan hakiki merupakan kewajiban dan janji (Allah)”. Ia pun telah membersamai para pejuang Revolusi dan demonstran, untuk mengarahkan, menguatkan, dan dekat dengan mereka, agar mereka bisa melangkah pada arah yang diridhoi Allah SWT atas kita, agar jerihpayah kita tidak dikhianati dan dicuri. Hizbut tahrir, ketika melakukan semua itu, selalu mengajak mereka yang memiliki kepedulian terhadap problem umat untuk menyampaikan visi mereka yang utuh, agar bisa membebaskan umat, dengan rancangan untuk mereka. Sekaligus menantang kaum Sekular untuk menunjukkan pemikiran Liberal mereka, agar disimak khalayak. Revolusi Musim Semi Arab telah menegaskan, dan menunjukkan jalan perubahan yang wajib diikuti untuk membebaskan umat, dan mengembalikan pemerintahan berdasarkan Islam. Tak lain, adalah metode yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir, yaitu metode yang diperintahkan oleh syariat Allah, dan yang teruji dengan realits kekinian. Selain itu, metode ini berhasil menyelesaikan perubahan. Perhimpunan yang terjadi, dan dihancurkannya Revolusi ini merupakann bukti atas semuanya itu, sebagaimana berikut ini: Pertama, Revolusi ini telah menegaskan apa yang selalu disampaikan oleh Hizbut Tahrir, bahwa segala semua sistem di negeri Muslim adalah sistem yang tidak syar’i, yang tidak boleh diterima, diakui, dan tidak pula terlibat dengannya, baik pemerintahan maupun legislasi. Karena itulah, umat tidak pernah mendapati Hizb menggariskan apa yang disebut sebagai aktivitas politik nasional (kebangsaan), yang bersinergi dalam organisasi rezim yang korup di negeri ini, atau negeri itu. Kedua, Revolusi ini juga menegaskan apa yang diserukan oleh Hizb, yaitu tentang wajibnya melakukan perubahan sistem secara total, dan mendirikan sistem Khilafah pada reruntuhannya. Selain itu, tidak akan bisa membebaskan umat. Karena, alternatifnya adalah gerakan-gerakan Islam Moderat, yang justru memperpanjangg umur sistem, dan membantu penghapusan Islam, atau kekuatan Sekularisme akan melahirkan kembali produk rezim. Ketiga, Revolusi ini telah membuktikan apa yang dinyatakan Hizb, bahwa tentara kaum Muslim adalah penggenggam dan penyelamat untuk mengantarkan umat pada tampuk pemerintahan Islam. Ketika kami menyebut tentara Muslim, maka yang kami maksud adalah para pemimpin mereka yang ikhlas, yang mengimani apa yang diimani oleh para pejuang Revolusi, dan seluruh generasi Muslim, dan para pimpinannya yang mukhlis, serta mereka yang menginginkan Islam, dan bukan para pimpinan bayaran, dimana para aktivis Islam itu menadahkan tangan-tangan mereka kepadanya, sehingga mereka memperdaya Revolusi tersebut, dan menggagalkannya, lalu mereka berbalik melawannya.
  12. Sesungguhnya Hizbut Tahrir tidak akan pernah bosan mengingatkan umat, bahwa perubahan yang benar harus berjalan mengikuti ketetapan Nabi saw, dalam menegakkan hukum Allah di muka bumi. Jika umat tidak mengikuti jalan yang ditempuh Rasul saw, dan perintah Allah, maka umat akan tetap berputar mengelilingi dirinya (jalan di tempat), dan tidak akan pernah mencapai apapun, walaupun ia melakukan seribu kali Revolusi. Maka, tanpa kesadaran dan pandangan yang jelas terhadap jalan perubahan yang diridhoi Allah SWT, maka Kafir penjajah dan rezim antek akan terus memimpin umat dari kehinaan pada kehianaan-kehinaan lainnya, dan umat akan terus disesatkan, dikepung, dan dihancurkan.


Road Map Hizbut Tahrir yang telah mengumumkan posisinya dan telah menggerakkan revolusi terhadap penguasanya demi umat adalah sebagai berikut:

Pertama, Hizb menyerukan kepada putra-putra terbaik Muslim agar melanjutkan aktivitasnya keluar menghadapi penguasa mereka di seluruuh negeri umat guna menyampaikan  penolakan mereka terhadap keberadaan mereka, dan keberadaan orang-orang yang mendukung mereka di negeri kita, yaitu Kafir penjajah.  Hizb juga menyerukan kepada mereka agar menjadikan slogan-slogan mereka, slogan yang menyeru kepada penerapan hukum Islam, dan Khilafah. Juga agar mereka tidak menerima  apapun slogan Sekular Libaeral, sebaliknya menarik tangan siapapun yang mempromosikan slogan itu, dan menghancurkannya. Hizb juga menyerukan kepada mereka agar menolak segala bentuk kerjasama dengan rezim, dan terlibat dalam politik dengannya. Hendaknya mereka tidak menerima pemilihan umum, tidak menjadi anggota parlemennya, tidak berjalan bersamanya dalam semua bentuk rancangan politik yang diinginkannya. Karena, kesadaran terhadap segala bentuk rancangan politik Barat, dan sistemnya adalah ujung tombak pemikiran dan aktivitas perubahan.

Kedua, Hizb menyerukan kepada putra-putri umat, para pejuang Revolusi dan para pimpinan politiknya, agar mendekap jamaah, atau Hizb, yang menyeru mereka kepada agama Allah dan pemerintahan Islam, yaitu siapapun yang berjuang bersamannya, dan membenarkan nasihat untuknya, serta menyeru mereka pada kemurnian ajaran Islam, serta berdiri di parit musuh,  beserta penguasanya, dan melawan mereka. Ia tidak pernah mengotori aktivitas politisnya, dengan terlibat dalam sistem, dan tidak pernah menerima mahar politik yang kotor. Itulah Hizb yang telah membuktikan kemampuan politiknya, dan kesiapannya untuk memimpin umat melalui seruannya kepada umat dengan seruan yang benar sejak pertama kali berdiri, tidak pernah berubah dan berganti. Juga melalui tabanni yang dilakukannya terhadap berbagai kepentingan umat, serta melalui UUD yang sempurna, dan siap diterapkan dalam Negara Khilafah yang dipersiapkannya. Sesungguhnya Hizbut Tahrir telah menyerukan umat untuk membuainya, karena ia merupakan pemimpin, yang tidak pernah membohongi umat barang satu hari pun untuk memimpinnya menuju Khilafah Rasyidahnya yang telah dijanjikan.

Ketiga, Hizb telah berkiprah dan memimpin umat beserta seluruh pejuang Revolusi dalam menyeru putra-putri tebaik umat yang ikhlas di dalam tubuh tentara untuk menumbangkan rezim antek penjajah, seta menyerahkan kekuasaan demi menerapkan Islam dalam Khilafah. Gerakan umat telah memelihara, dan mendorong Hizb dalam aktivitas ini hingga berhasil dengan izin Allah SWT. Walaupun langkah mencapai Khilafah masih terhambat, karena ini merupakan ketetapan dari Rabb semesta alam yang tidak akan diingkari-Nya, sedankan Dia terus menguji hamba-Nya, dan mengajari mereka agar Dia melihat keistiqamah hamba-Nya pada kebenaran. Bisa jadi di balik gagalnya Revolusi hingga detik ini ada kebaikan besar yang dicapai, yakni terbentuknya kesadaran umat, kemudian kesadaran itu menggerakkannya ke arah perubahan yang sebenarnya dan memenangkannya.

Akhirnya, kami tegaskan, bahwa Revolusi umat tetap berjalan dan mengalami perbaikan. Keretanya pun tidak akan pernah berhenti, kecuali di terminal Khilafah, yang akan datang dengan izin Allah dan janji Allah akan pergantiaan kekuasaan dan pengoptimalannya semakin mendekat dan terus mendekat. Islam kemarin menjadi lebih kuat dalam menghadapi segala rintangan yang menghadang, begitupula umat hari ini telah siap untuk memimpin  dengan Islam dan tidak lagi membutuhkan apapun kecuali para penolongnya yang beriman dari kalangan militer, dimana itu tidak akan diberikan kecuali oleh Allah, agar keinginan militer itu menyatu dengan keinginan umat, begitupula keinginan orang-orang Mukmin yang jujur dan sadar, yang mengemban dakwah rasul-rasulnya dengan benar, yang mendambakan ridha-Nya dan pertolongan Allah SWT pada mereka.

Telah tiba masanya bagi umat untuk mengetahui, bahwa jalan perubahan yang diserukan Hizbut Tahrir kepadanya adalah jalan yang menyelamatkan mereka, mengoptimalkan potensi mereka, dan mendatangkan pertolongan Allah SWT, yaitu jalan yang tepat dan berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah, adalah jalan yang begitu gigih untuk dibelokkan dari tujuan asalnya oleh musuh-musuh umat , hingga keangkuhan mereka terus berlanjut. Jalan yang mampu memperbaiki seluruh istilah kegagalan dan penggagalan revolusi.

Hari ini, dalam suasan gejolak yang penuh tekanan, dimana pemuda-pemuda umat Islam hidup di dalamnya, menantikan detik-detik meletusnya yang amat besar. Tidak ada penyelesaiian atas perkara umat ini kecuali dengan beralihnya fokus umat pada rancangan satu-satunya yang sebenarnya yang mampu memuliakan umat dan mengembalikan kegemilangan sejarah pertamanya, sebagai sebaik-baik umat yang dipersembahkan untuk umat manusia, di negaranya, Khilafah Rasyidah kedua yang mengikuti metode kenabian. Hanya dengan itu saja Revousi ini bisa diperbaiki arahnya, dan dengannya pula Revolusi ini mampu mencapai tujuannya. Pada hari itu, orang-orang yang meyakini pertolongan Allah akan berbahagia..

اللهم عجل لنا بها و اجعلنا من جنودها و شهودها.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ. (الأنفال : ٢٤)

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila mereka menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” [Q.s. al-Anfal: 24] [vm]

Belum ada Komentar untuk "Revolusi “Arab Spring”: Pemicu dan Indikasinya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...