Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ustadz Hanan Attaki: Belajar Sejarah Tajamkan Nalar Berpikir

Hanan Attaki
VisiMuslim - Meski masih sore, sekitar pukul 16.30 WIB, Masjid Agung Trans Studio Bandung hampir penuh oleh pemuda-pemudi. Sama seperti Rabu sebelum-sebelumnya, Ustadz Hanan Attaki dijadwalkan mengisi taklim mingguan di masjid ini.

Benar saja, memasuki waktu Maghrib, setelah adzan dan iqomah dikumandangkan, Ustadz Hanan Attaki pun mengimami sholat. Dengan suaranya yang khas, ia membawakan membaca ayat-ayat Al-Qur’an dari pertengahan Juz 1.

Setelah beberapa jama’ah menyelesaikan sholat sunnah ba’diyah Maghrib, Ustadz Hanan duduk di kursi yang telah disediakan panitia. Dengan kupluk hijau khasnya, ia memulai taklim mingguan.

“Mulai minggu ini hingga kedepannya, kita akan sedikit-sedikit mempelajari sejarah. Kajian Rabu malam kita ganti dengan siroh (sejarah, red.) karena kita sudah berjalan dengan waktu selama empat tahun dan Alhamdulillah sudah bergulir trend hijrah dimana-mana atas izin Allah,” ujar Hanan Attaki setelah mengucap salam dan sholawat untuk mengawali kajian pada Rabu (11/12/2019).

Menurut Hanan, kajian Rabu malam ini sudah saatnya belajar lebih terstruktur lagi. Jika sebelumnya Hanan mengisi kajian tematik tentang iman, perasaan, dan muamalah, kali ini akan menyampaikan beberapa materi Islami melalui siroh nabawiyah.

Kajian sejarah, khususnya siroh nabawiyah atau kisah-kisah yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW, menurut Hanan akan berkhasiat salah satunya adalah mempertajam nalar berpikir, dan memupuk kebijaksanaan seseorang.

Selain itu, dengan mempelajari siroh dan sejarah dengan dalil yang jelas, diharapkan kajiannya tidak akan menyentuh soal fikih yang debatable.

“Kenapa kita mengangkat siroh dan sejarah karena sejarah ini tidak eksklusif dengan satu jenis mazhab fiqih yang mengangkat satu adegan, satu angle, nilai, dengan lebih lengkap,” ujarnya.

Menurut Hanan, jika terjebak dalam diskusi fikih, sementara tidak memiliki kapasitas bahkan bukanlah seorang ulama, siapapun akan salah jika membahasnya. Karena yang berhak membahas fikih hanyalah para ulama.

“Walaupun kita benar, kita tetap salah. Karena itu (membahas fikih, red.) bukan bagian kita. Justru ketika kita merasa paling benar sendiri dalam persoalan fiqih tanpa merujuk kaidah para ulama justru di situ kita sedang membuat mazhab fikih kita sendiri, sehingga kita akan terjebak dalam perdebatan fiqih,” ujarnya.

“Kita mah ngikut aja di belakang para ulama,” lanjutnya.

Pembahasan sejarah, kisah Nabi Muhammad SAW, dan tentang kehidupan para sahabat, dapat mempertajam nalar berpikir seseorang dan memupuk kebijaksanaan dalam hidup.

“Salah satu kelebihan dari banyak membaca sejarah adalah membuat seseorang memiliki nalar yang lebih tajam dalam melihat sebuah peristiwa. Sehingga dengan nalar yang tajam ini dia bisa membaca zaman dan menentukan sikap,” terangnya.

Ia pun mengungkapkan bahwa dulu, kebiasaan para sahabat itu membacakan kisah-kisah para Nabi kepada anak-anaknya. Karena kisah-kisah para Nabi ini akan membantu berpikir anak anak lalu membuat persepsi berpikir, standar kebenaran dan nilai, sehingga bisa mandiri dan bijak menilai sesuatu.

Salah satu contoh khasiat dari membaca kisah, mempelajari sejarah adalah Umar bin Khattab. Sahabat Nabi ini terkenal dengan kebijaksanaan, ketajaman nalar berpikir, dan banyak ide brilian dan jenius di masa pemerintahannya.

“Kecerdasan gagasan, nalar yang tajam, kebijaksanaan. Salah satu yang punya kebijaksanaan dan kecerdasan adalah Amru bin Ash, dan Umar bin Khattab. Saking cerdas, dan tajamnya nalar Umar, dan kebijaksanaannya, maka sampai ada fikih Umar,” ujarnya.

Hanan menjelaskan, jika para sahabat itu menjalankan fikih yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, Umar lebih menerjemahkan ajaran Nabi pada konteks yang lebih kontemporer di masanya.

“Sehingga muncullah kebijakan-kebijakan Umar yang sifatnya membaharu, sehingga disebut sebagai fikih Umar. Karena pembaharuan yang dilakukan Umar bukan tidak sesuai dengan Nabi, tapi tidak ada di zaman Nabi, tapi tidak melenceng dari apa yang dicontohkan Nabi,” terang Hanan.

Ide brilian yang dicetuskan Umar, salah satunya adalah pembukuan Al-Qur’an. Umar mengusulkannya di zaman pemerintahan Abu Bakar, melihat banyaknya sahabat Nabi yang hafal Al-Qur’an syahid di medan perang.

Meskipun saat itu selain dihafal Al-Qur’an juga ditulis dalam lembaran-lembaran, Umar mengusulkan pembukuan Al-Qur’an yang kemudian disempurnakan di pemerintahan Utsman bin Affan, sehingga sampailah pada umat Islam Al-Qur’an yang utuh saat ini.

“Kenapa Umar dia banyak ide brilian, salah satu khasiatnya Umar itu suka membaca kisah dan sejarah,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Hanan, pembahasan sejarah dan kisah Nabi merujuk pada bahasa Al-Qur’an, yang sebagian besarnya adalah bahasa story telling.

Meskipun Al Qur’an adalah petunjuk hidup, namun penyampaian petunjuknya melalui bahasa kisah.

“Ketika kita membaca Al-Qur’an sebagian besar isinya adalah diisi dengan kisah-kisah. Walaupun Al-Qur’an bukan buku cerita, walaupun Al-Qur’an bukan novel,” ujarnya.

Hal yang paling mendasar membedakan Al-Qur’an dengan buku sejarah, novel atau buku cerita adalah susunan dan tujuannya.

Jika novel, buku sejarah dan cerita menggambarkan kisah dengan runut, Al-Qur’an berisi cerita yang acak. Karena Al-Qur’an bukanlah buku cerita.

“Soalnya Al-Qur’an bukan buku cerita, bukan novel, bukan buku sejarah tapi dia petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan berbentuk teks dan teks itu sebagian besar ayatnya berisi dengan story telling,” terangnya.

Hanan menegaskan bahwa dari huruf pertama hingga huruf terakhir dalam Al-Qur’an adalah kebenaran. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Al Qur’an adalah petunjuk hidup untuk seorang yang ingin taat kepada Allah, bukan hanya ibadah semata.

Kajian Ustadz Hanan Attaki pada Rabu (11/12/2019) malam itu diisi dengan cerita mengenai kisah-kisah Nabi dan sahabat. Diantaranya adalah membahas kisah hikmah perceraian yang diperintahkan Allah, yaitu perceraian Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsy.

Taklim mingguan Ustadz Hanan Attaki dan pemuda hijrah rutin digelar di Masjid Agung Trans Studio Bandung setiap Rabu malam. Pengisi utamanya selalu diusahakan Ustadz Hanan Attaki.

Selain itu, pemuda hijrah a.k.a Shift juga tengah mengampanyekan #lastewaste dengan menyarankan para hadirin untuk membawa tumblr atau botol minum sendiri, tidak membeli air minum kemasan sekali pakai. Hal ini juga dikampanyekan oleh BarisanBangunNegeri. [www.visimuslim.org]

Sumber : Kiblat

Posting Komentar untuk "Ustadz Hanan Attaki: Belajar Sejarah Tajamkan Nalar Berpikir"