Virus Corona Tak Membuat Gerah Indonesia


Oleh: Irma Setyawati S.Pd (Aktivis Muslimah Pasuruan)

Mewabahnya virus corona di China tidak membuat Pemerintah Indonesia membatasi warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke negeri panda tersebut.

(Harianjogja.com). Kementerian Kesehatan tidak akan menutup akses atau melakukan pembatasan  perjalanan dari dan ke Daratan China melalui jalur udara, laut dan darat. Kementerian Kesehatan hanya mengeluarkan anjuran perjalanan (travel advisory) guna meminimalisir dampak pandemi tersebut.

"Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti," kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (22/1/2020) malam. Anas menjelaskan terdapat upaya yang dilakukan pihaknya sebagai pintu gerbang negara dalam upaya membentengi diri dari penyebaran penyakit mematikan ini.Hal tersebut seperti peningkatan pengawasan terhadap penerbangan asal China, pengadaan fasilitas kesehatan seperti thermal scanner, health alert card dan alat pelindung diri, serta membekali petugas dengan informasi terbaru.

Sejumlah negara di dunia telah mencegah kedatangan warga China masuk ke wilayah negaranya masing-masing pasca mewabahnya virus Corona. Diantaranya, Korea Selatan, Korea Utara, Australia dan Arab Saudi. Negara-negara tersebut tak ingin warga China yang datang sebagai turis malah membawa virus Corona. Sikap yang di tunjukkan pemerintah Indonesia justru sangat kontradiktif dengan sikap negara-negara tersebut. Justru Jumat (24/1/2020) Pemerintah Indonesia menerima ratusan turis China yang berasal dari Kota Shenzen, China dan mendarat di Bandara Hang Nadim, Kota Batam. Dan di sambut dengan antusias oleh pemerintah setempat bak tamu agung. 

Tidak hanya wisatawan, Ombudsman RI menyebut bahwa para pekerja asal China sebenarnya hampir setiap hari masuk ke Indonesia, khususnya ke Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Mereka umumnya pekerja di smelter-smelter yang dimiliki oleh perusahaan asal China. Selain itu, tercatat pula sebanyak 70 persen penumpang pesawat yang masuk ke Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah dari Jakarta merupakan pekerja asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

Pemerintah seolah tidak mau berkaca pada fakta yang terjadi di dunia, fakta telah menunjukkan bahwa virus yang disebut berasal kota Wuhan, China itu telah menjangkiti Amerika Serikat, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Thailand, Australia, Nepal, Vietnam, Malaysia, Kanada, Kamboja dan Sri Lanka. Selain negara-negara itu, wilayah milik China yang ada di luar China daratan, yaitu Hong Kong dan Makau, juga telah melaporkan kasus corona virus. Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat wabah yang mirip Server Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) ini telah mencapai 82 orang pada Selasa. Sedangkan jumlah pasien yang terinfeksi telah mencapai 2.900 orang di seluruh dunia.

Bahkan 4 Ilmuwan dari Amerika dan Australia yang telah membuat proyeksi sebaran virus corona, menyebutkan bahwa Indonesia berpotensi untuk kena. Tim ilmuwan ini menciptakan model simulasi epidemik virus corona Wuhan (2019-nCoV). Mereka memakai parameter Susceptible-Exposed-Infected-Recovered (SEIR) yang dihitung dalam 10 hari (5 hari inkubasi + 5 hari pemulihan). Mewabahnya virus mematikan tersebut bertepatan dengan perayaan Imlek 2020 dimana warga China kerap memanfaatkan hari liburnya untuk liburan ke luar negeri. Tak terkecuali Indonesia.

Jika Indonesia tidak luput dari ancaman virus corona tersebut, harusnya Pemerintah segera mengambil langkah-langkah nyata berikut, di antaranya:

1. Mengeluarkan larangan masuk ke Indonesia baik pekerja maupun wisatawan asal China. Karena faktanya penyebaran Virus Corona yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China.

2. Baik pekerja maupun wisatawan asal China yang sudah telanjur berada di Indonesia pun segera didata dan diperiksa secara khusus untuk memastikan mereka terbebas dari Virus Corona. Jika ada yang sudah terkena mereka harus di karantina sampai sembuh

3. Pemerintah Indonesia juga harus membatasi warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke China.

4. Pemerintah harus segera merubah cara pandang untung rugi dalam menghadapi sebuah masalah. Ini menyangkut masalah nyawa rakyat. Jangan sampai khawatir bisnis dan investasi melemah akhirnya tetap membiarkan keluar masuknya warga dari dan ke China.

Pemerintah harusnya belajar dari strategi Sistem Pemerintahan Islam yang di pimpin oleh Rasulullah dan Khalifah- Khalifah setelahnya dalam menghadapi merebaknya wabah penyakit. Islam tidak hanya mengajarkan do’a saja untuk menangkal sebuah penyakit. Sebagaimana pernyataan MenKes beberapa waktu yang lalu.
Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu," (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mencegah wabah tersebut menjalar ke negara-negara lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasulullah mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

Peringatan kehati-hatian pada penyakit lepra juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah SAW. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Jauhilah orang yang terkena lepra, seperti kamu menjauhi singa."
Di masa ke Khalifah Umar bin Khattab, wabah kolera menyerang Negeri Syam. Khalifah Umar bersama rombongan yang saat itu dalam perjalanan menuju Syam, terpaksa menghentikan perjalanannya. Umar pun meminta pendapat kaum muhajirin dan kaum anshar untuk memilih melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagian dari mereka berpendapat untuk tetap melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi berpendapat untuk membatalkan perjalanan
Umar pun kemudian meminta pendapat sesepuh Quraisy. Yang kemudian menyarankan agar Kholifah tidak melanjutkan perjalanan menuju kota yang sedang diserang wabah penyakit.

"Menurut kami, engkau beserta orang-orang yang bersamamu sebaiknya kembali ke Madinah dan janganlah engkau bawa mereka ke tempat yang terjangkit penyakit itu," ujar sesepuh Quraisy sebagaimana dikutip dalam buku Pesona Akhlak Nabi, (Ahmad Rofi' Usmani, 2015). Namun di antara rombongan, Abu Ubaidah bin Jarrah masih menyangsikan keputusan Khalifah. "Kenapa engkau melarikan diri dari ketentuan Allah?" ujarnya.

Begitulah Islam mengajarkan upaya – upaya preventif dan kuratif menghadapi wabah atau virus penyakit. Semakin jelas bahwa Islam bukanlah agama langit yang hanya mengajarkan aturan beribadah pada Pencipta saja, akan tetapi Islam adalah agama yang menjadi pegangan dalam menyelesaikan seluruh persoalan hidup manusia. Termasuk mengatasi merebaknya wabah penyakit. []

Belum ada Komentar untuk "Virus Corona Tak Membuat Gerah Indonesia"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...