Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Assalamu'alaikum: Bukan Hanya Sekedar Salam


Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Revowriter Cilegon)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Wacana Mengganti Assalamualaikum Dengan Salam Pancasila

Dilansir oleh Liputan6.com, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengklarifikasi mengenai pernyataan Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang ditafsirkan berniat untuk mengganti salam Assalamualaikum dengan Salam Pancasila. Melalui keterangan tertulis yang diterima pada, Sabtu (22/2/2020), BPIP tidak pernah mengusulkan penggantian Assalamualaikum dengan Salam Pancasila. Maksudnya adalah dalam hal kesepakatan-kesepakatan nasional mengenai tanda bentuk salam dalam pelayanan publik, maka yang digunakan adalah Salam Pancasila.

Salam Pancasila sebagai salam kebangsaan untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan serta menguatkan persatuan dan kesatuan yang terganggu karena menguatnya sikap intoleran. Salam Pancasila pertama kali dikenalkan oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Dewan Pengarah BPIP di hadapan peserta Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Bogor tanggal 12 Agustus 2017.

Salam Pancasila sendiri diadopsi dari Salam Merdeka yang diperkenalkan Bung Karno melalui Maklumat Pemerintah 31 Agustus 1945 dan berlaku 1 September 1945. Maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 tersebut hingga kini belum pernah dicabut.

Maka, Salam Merdeka yang sekarang diadopsi menjadi Salam Pancasila tetap relevan di tengah kecenderungan orang atau kelompok tertentu yang lantang mengucapkan salam keagamaan yang berisikan pesan damai, tetapi tidak berbanding lurus dengan perbuatannya yang tidak memberi damai kepada orang lain. (Liputan6.com, 23/02/20).
Mengganti Salam Dan Nilai-Nilai Islam: Islamophobia Akut

Seakan tak ada hentinya upaya mengkriminalisasi dan menjauhkan nilai-nilai agama (Islam) di negeri ini. Ulama dipersekusi dan kriminalisasi, khilafah sebagai ajaran Islam pun tak luput dikriminalisasi. Mesjid diawasi, da'i harus disertifikasi, PAUD hingga Perguruan Tinggi diduga ada radikalisasi. Sekarang kepala BPIP  membuat pernyataan yang mengejutkan dengan mengatakan agama musuh Pancasila, konstitusi di atas ayat illahi. Lalu,  mengganti Assalamu'alaikum dengan salam Pancasila. Ada apakah dengan semua ini?

Jika ini tak sengaja atau salah ucap, mengapa faktanya seperti berkesinambungan antara pernyataan satu dengan yang lainnya yang memperlihatkan phobia akut terhadap nilai-nilai Islam. Dan aneh jika seorang muslim phobia terhadap nilai-nilai Islam. Bukankah seharusnya seorang Muslim menjadi representasi keislamannya. Dan mendakwahkan nilai-nilai Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Membenturkan agama dengan Pancasila, seolah-olah yang patuh terhadap agama (Islam) adalah radikal dan tidak pancasilais. Islam digambarkan sebagai biang masalah dan pemecah belah bangsa. Muslim yang berusaha patuh terhadap keislamannya dan menawarkan solusi Syariah Islam diposisikan sebagai anti NKRI. Pandangan yang tendensius, karena secara keimanan tidak mungkin Allah Swt menciptakan manusia, bumi, langit dan isinya tidak sepaket dengan aturannya.

Dan dalam sejarah, Baginda Rasulullah Saw telah mencontohkan bagaimana syariah Allah Swt bisa diterapkan di muka bumi. Memberi Rahmat bagi seluruh alam, bukan sebagai biang masalah. Ketika khilafah ada, dan warga negara khilafah bukan hanya Muslim tapi ada juga kafir dzimmy, kehidupan yang ada damai dan sejahtera. Para sejarawan memuji bagaimana Islam memperlakukan non muslim dengan baik.

Seorang orientalis dan sejarawan Kristen bernama T.W. Arnold dalam bukunya, The Preaching of Islam : A History of Propagation Of The Muslim Faith, dia banyak membeberkan fakta-fakta kehidupan dalam negara Khilafah.
“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani–selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani–telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa

Salam Di Dalam Islam: Ciri Khas Muslim, Do'a Dan  Pemersatu Umat

Disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, bahwa salam pertama kali diucapkan saat Adam ‘alaihissalam diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk menemui para malaikat.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam dalam bentuknya dan tingginya adalah enam puluh hasta. Lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Pergilah dan ucapkanlah salam kepada mereka –para malaikat yang sedang duduk—lalu dengarkanlah apa salam yang mereka ucapkan kepadamu, karena itu adalah ucapan salammu dan salam keturunanmu’. Adam lalu mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum’. Para malaikat menjawab, ‘Assalamu’alaika wa Rahmatullahi’. Mereka memberikan tambahan, ‘wa Rahmatullahi’. Maka setiap yang masuk surga adalah seperti bentuknya. Maka makhluk selalu berkurang bentuknya sampai sekarang”.

Salam (Assalamu'alaikum) di dalam Islam bukan hanya sekedar salam, Islam memiliki syariat tentangnya. Sebagaimana yang difahami bahwa di dalam Islam memiliki sumber hukum yaitu Al Qur'an dan As Sunnah, maka seorang muslim ketika melakukan apapun harus berdasar pada dua sumber hukum ini sebagai konsekwensi keimanannya. Banyak sekali nash-nash syara yang menjelaskan tentang salam, di antaranya:

An Nawawi menyebutkan dalam Shohih Muslim Bab ‘Di antara kewajiban seorang muslim adalah menjawab salam’. Lalu dibawakanlah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim no. 2162)

Jika kita melihat dari hadits di atas, akan terlihat perintah untuk memulai mengucapkan salam ketika bertemu saudara muslim kita yang lain. Namun sebagaimana dinukil dari Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya, mereka mengatakan bahwa hukum memulai mengucapkan salam adalah sunnah, sedangkan hukum membalas salam adalah wajib. (Subulus Salam, 7/7)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Amalan islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali. ” (HR. Bukhari no. 6236)

Ibnu Hajar mengatakan, “Mengucapkan salam kepada orang yang tidak kenal merupakan tanda ikhlash dalam beramal kepada Allah Ta’ala, tanda tawadhu’ (rendah diri) dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” (Lihat Fathul Bari, 17/459)

Ibnu Hajar mengatakan, “Memulai mengucapkan salam menunjukkan akhlaq yang mulia, tawadhu’ (rendah diri), tidak merendahkan orang lain, juga akan timbul kesatuan dan rasa cinta sesama muslim.” (Fathul Bari, 1/46). . (Rumaysho.com).

Berkaitan dengan salam terhadap non Muslim, ulama Mazhab Syafi‘i berbeda pendapat soal ini. Masalah ini dibahas oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Azkar yang mengangkat perbedaan pandangan ulama tersebut.
Artinya, “Adapun perihal non-Muslim, ulama kami berbeda pendapat. Mayoritas ulama kami memutuskan bahwa memulai salam kepada non-Muslim tidak boleh. Tetapi sebagian ulama menyatakan hal itu tidak haram, tetapi makruh. Tetapi ketika mereka memulai salam kepada Muslim, maka cukup dijawab ‘Wa ‘alaikum’ dan tidak lebih dari itu,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 216).

Jelas, Islam memiliki syariat tentang salam dan salam ini sebagai ciri khas umat Islam, sebagai doa juga pemersatu umat di seluruh dunia. Tidak memandang dari bangsa atau negara mana, ras dan latar belakang apa,  kulit hitam ataukah putih, ketika ada seorang muslim mengucapkam salam, maka akan dijawab dengan "Wa'alaikumussalam".

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Quran:

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu,” (QS. An-Nisa: 86).

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.

Posting Komentar untuk "Assalamu'alaikum: Bukan Hanya Sekedar Salam"