Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Korban Tewas Akibat Bentrokan di India Meningkat Jadi 38 Orang


New Delhi-Visi Muslim- Korban tewas akibat setelah empat hari kekerasan rasial agama di ibu kota India meningkat menjadi 38 orang, hal ini menjadikan kerusuhan agama terburuk yang dialami Delhi dalam lebih dari tiga dekade. Lebih dari 200 orang terluka, puluhan di antara mereka tertembak, bentrokan ini dipicu karena sebagian besar orang Hindu mendukung undang-undang kewarganegaraan baru yang kontroversial dipandang sebagai diskriminasi terhadap komunitas Muslim minoritas di negara itu.

Meskipun ada jaminan situasi sudah terkendali dari pejabat pemerintah dan polisi pada Rabu namun bentrokan kembali terjadi pada Kamis pagi (27/2/2020), dan jumlah korban tewas terus meningkat tajam. Warga di lingkungan yang terkena dampak paling parah mengatakan bahwa mereka takut meninggalkan rumah.

Kekerasan itu mendorong Kedutaan Besar AS di India mengeluarkan peringatan bagi warga Amerika di ibu kota Delhi, mendesak agar mereka "berhati-hati," "jaga diri", dan "hindari semua area demonstrasi."

Di Washington, Komisi pemerintah AS untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) mengutuk "kekerasan brutal dan tak terkendali" di Delhi dan mendesak pemerintah India untuk "mengambil upaya serius dalam melindungi Muslim dan orang lain yang menjadi sasaran kekerasan massa."

Kementerian Luar Negeri India menolak komentar komisi itu sebagai "fakta tidak akurat dan menyesatkan," dan mengatakan mereka tampaknya "bertujuan untuk mempolitisasi masalah ini."

Hukum baru di balik bentrokan

Hukum kontroversial di New Delhi adalah disahkannya undang-undang Amendemen Kewarganegaraan. Dibawa oleh pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi, undang-undang itu dianggap justeru memudahkan seseorang menghadapi kekerasan agama yang akan  disasarkan kepada imigran dari tiga negara mayoritas muslim yaitu, Pakistan Afghanistan, dan Bangladesh yang tidak diakui oleh pemerintah India.

Ada protes meluas dan mematikan sesaat setelah undang-undang ini disahkan pada bulan Desember, protes terus berlanjut hingga hari ini.

Para penentang ini berpendapat bahwa undang-undang tersebut tidak konstitusional. Mereka mengatakan itu adalah bagian dari rencana yang dilakukan oleh sayap kanan, pemerintah nasionalis Hindu untuk meminggirkan 200 juta Muslim di negara itu.

"Kami tidak tidur di malam hari"

Bentrokan terakhir dimulai di Delhi pada hari Minggu, menjelang kunjungan kenegaraan pertama Presiden Donald Trump ke India.

Rumah-rumah, toko-toko, mobil, dan masjid dihancurkan ketika gerombolan bersenjata dengan membawa tongkat, batu, dan bom Molotov menggeledah setidaknya 10 lingkungan di timur laut Delhi. Belum ada rincian resmi dari jumlah korban, tetapi laporan lokal menunjukkan mayoritas warga yang tewas dan terluka adalah Muslim. Walaupun ada juga diantara umat Hindu dan anggota dinas keamanan ikut terbunuh.

Fakhruddin Ahmed, seorang warga Mustafabad, salah satu daerah yang paling parah di ibukota, mengatakan bahwa masalah bermula ketika gerombolan yang meneriakkan slogan-slogan agama Hindu berusaha memecah protes damai menentang undang-undang kewarganegaraan yang baru, demonstrasi  ini telah dilakukan secara damai selama 40 hari.

"Mereka mulai melempari para pemrotes, yang kemudian pendemo membalasnya," katanya.

Polisi dituduh telah gagal menghentikan pembantaian terhadap Muslim. Pada hari Rabu, Mahkamah Agung India mengatakan jika polisi bertindak tepat waktu kemungkinan bisa menyelamatkan banyak nyawa, dan Pengadilan Tinggi Delhi juga menghukum polisi karena gagal mengajukan kasus terhadap politisi yang memberikan pidato kebencian beberapa hari sebelum bentrokan dimulai. [] Gesang

Posting Komentar untuk "Korban Tewas Akibat Bentrokan di India Meningkat Jadi 38 Orang"