Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ramadhan Bulan Perjuangan


Oleh : Yan S. Prasetiadi

Alhamdulillah hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan kedatangan bulan mulia, di bulan ini Allah memberikan pahala berlipat ganda bagi umat Islam, dan tentunya esensi bulan Ramadhan sebagai bulan ibadah dan perjuangan merupakan bahan bakar kebangkitan kaum muslimin.

Karena itu, teladan sirah nabawiyyah telah memberikan kita gambaran, betapa umat Islam generasi awal sungguh serius dalam berjuang demi agama di bulan mulia itu, salah satu contoh keseriusan tersebut terlihat dari berbagai perang dan ekspedisi militer yang terjadi pada bulan mulia Ramadhan. 

Berikut ini dokumentasi sirah nabawiyyah, yang diambil dari kitab Nur al-Yaqin fi Sirah Sayyid al-Mursalin (editor: Majid al-Hamwi, cet. III, Dar Ibn Hazm, 2008), mengenai perang dan ekspedisi militer yang dilakukan kaum muslimin saat bulan Ramadhan:

Dimulai pada Ramadhan 1 Hijriyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim ekspedisi militer yang dipimpin Hamzah bin Abdul Muthallib ra, yang berjumlah tiga puluh (30) orang dengan membawa liwa putih, menuju al-‘Ish untuk menghadang kafilah Quraisy yang kembali dari Syam.

Pada Ramadhan 2 Hijriyah, terjadi perang Badar Kubra, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa tiga ratus tiga belas (313) pasukan, sedangkan kaum Quraisy membawa hampir seribu (1000) pasukan lengkap bersama kavalerinya. Hasilnya kurang lebih satu jam pertempuran, kaum muslimin menang dan kaum kafir Quraisy mengalami kekalahan dengan tujuh puluh terbunuh, serta tujuh puluh jadi tawanan perang kaum muslimin.

Masih pada Ramadhan 2 Hijriyah, sekitar tujuh hari pasca Badar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menuju Bani Sulaim dan tinggal selama tiga hari di daerah Qarqarah al-Kudr, namun tidak terjadi perang karena musuh telah melarikan diri. Masih di bulan Ramadhan tersebut, diutus juga ‘Umair bin ‘Adi ra untuk menghukum ‘Ashma’ binti Marwan dari Bani Umayyah yang mencela Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah.

Pada Ramadhan 6 Hijriyah, Zaid bin Haritsah ra, diutus bersama beberapa pasukan menyerang Bani Fazarah di Wadi al-Qura’, karena sebelumnya mereka melakukan kejahatan menyerang Zaid saat pulang berdagang dari Syam. Tindakan ini sebagai hukuman bagi Bani Fazarah;

Di tahun yang sama ekspedisi militer Abdullah bin ‘Atik ra digelar untuk memerangi Abu Rafi Sallam bin Abu al-Huqaiq sebagai provokator penduduk Khaibar untuk menyerang umat Islam; Masih di tahun yang sama di Khaibar, ekspedisi militer yang dipimpin Abdullah bin Rawahah ra ditugaskan memerangi Usair bin Rizam (atau Yusair bin Rizam) atas pengkhianatannya.

Ramadhan 7 Hijriyah, ekspedisi Ghalib bin Abdullah al-Laitsi ra diutus ke penduduk al-Maifa’ah di Nejd, bersama seratus tiga puluh (130) pasukan, yang berhasil membunuh sebagian musuh serta menawan sebagian lainnya.

Ramadhan 8 Hijriyah, ekspedisi Abu Qatadah al-Harits bin Rib’i ra diutus menuju wilayah Idham bersama delapan (8) pasukan, sebagai sebuah batu loncatan guna mendukung rencana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Makkah secara legal.

Akhirnya di tahun tersebut, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, Makkah bisa ditaklukkan karena kesalahan Quraisy yang melanggar perjanjian Hudaibiyyah, akibat ikut andil dalam serangan yang dilakukan kabilah Bakr terhadap kabilah Khuza’i. Kabilah Khuza’i termasuk pendukung Daulah Madinah, sedangkan kabilah Bakr pendukung Quraisy, yang seharusnya keduanya terikat perjanjian genjatan senjata.

Di tahun yang sama, hari kelima pasca Fathul Makkah, ekspedisi Khalid bin al-Walid ra bersama tiga puluh (30) kavaleri ditugasi menghancurkan situs al-‘Uzza, berhala paling besar milik kafir Quraisy yang berada di dalam wilayah Nakhlah sekitar empat puluh kilometer dari Makkah. Sedangkan ekspedisi Amr bin al-‘Ash ra ditugasi menghancurkan situs Suwa’, berhala terbesar kabilah Hudzail. Lalu ekspedisi Sa’ad bin Zaid al-Asyhali ra bersama dua puluh (20) kavaleri menghancurkan situs Manah (atau Manat), berhala tersebut milik kabilah Kalb dan Khuza’ah (atau milik Aus dan Khajraz sebelum masuk Islam).

Terakhir di bulan Ramadhan 10 Hijriyah, ada ekspedisi ‘Ali bin Abi Thalib ra bersama banyak pasukan, diutus menuju Bani Madzhij sebuah kabilah di Yaman, yang bertujuan mengajak mereka masuk Islam. Awalnya pasukan ‘Ali bin Abi Thalib ra mendapat perlawanan, setelah perlawanan berhasil dilumpuhkan, akhirnya mereka menerima kekalahan dan memeluk Islam.

Jadi perang dan ekspedisi militer, yang tercatat dilakukan pada bulan Ramadhan berjumlah empat belas (14) kali. Jika ditambah dengan total perang dan ekspedisi militer yang dilakukan Nabi shallallu ‘alaihi wa sallam pasca Daulah Madinah tegak, totalnya menjadi sembilan puluh empat (94) kali.

Demikianlah gambaran perjuangan umat Islam generasi awal di bulan Ramadhan, karena itu meski umat Islam kini menghadapi pandemi yang luar biasa serta menghadapi berbagai tantangan di berbagai belahan dunia, darah perjuangan yang ada dalam sanubari kaum muslimin, pasti bisa memacu kekuatan terpendam umat Islam, sehingga mampu bertahan ditengah ancaman apapun, bahkan mampu membalikkan keadaan menjadi umat pemenang. Wallahu a’lam. [www.visimuslim.org]

Posting Komentar untuk "Ramadhan Bulan Perjuangan"