Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Biarkan Anak Indonesia Digenggam Corona


Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar nomer lima di dunia. Negeri ini juga akan memiliki bonus demografi yang sangat besar. Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan  terus bertambah menjadi 318,96 juta pada 2045 (Katadata.co.id, 9/9/2019).

Regenerasi adalah hal yang wajar. Ketika generasi orang tua telah tiada, anak-anak yang telah beranjak dewasa akan menjadi pemimpin umat di masa depan. Hasil proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sebesar 30,1 persen atau 79,55 juta jiwa penduduk Indonesia adalah anak-anak berusia 0-17 tahun. Artinya bisa dikatakan bahwa satu diantara tiga penduduk Indonesia adalah anak-anak.

Anak-anak memerlukan perlindungan yang ekstra untuk menjaga kesehatan dan nyawanya selain penguatan akidah. Dan menjadi hal yang  lumrah ketika para orang tua khawatir atas wacana akan diterapkannya new normal di segala bidang khususnya di sekolah.

PSBB pun dinilai belum mampu menurunkan angka penularan virus Covid-19 yang terus naik. Pantauan terakhir angka positif Corona telah mencapai 27.549 orang (Tirto.id,2/6).

Jelang tahun ajaran baru, 127 anak berusia 0-14 tahun di Surabaya positif Covid-19. "Kemarin (30/5) ada tambahan delapan kasus. Untuk anak usia 0-4 tahun ada 36 kasus, sementara anak usia 5-14 tahun ada 91 kasus. Jadi sekarang total ada 127 kasus anak yang terinfeksi Covid-19," ungkap fikser seperti dilansir BASRA (1/6).

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020. Langkah pembukaan sekolah dikhawatirkan mengancam kesehatan anak karena penyebaran virus corona (Covid-19) belum menurun. Bahkan kasus Covid-19 pada anak di Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain. 

Retno mengungkapkan, dari data Kementerian kesehatan terdapat sekira 831 anak yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Usia anak yang tertular itu berkisar 0-14 tahun. "Penularan virus yang mewabah itu terjadi melalui kontak dari orang tua dan keluarga terdekat," ujar Retno dalam keterangan resminya, Rabu (Okezone, 27/5).

Data juga menunjukkan 129 anak meninggal dunia dengan status PDP. Yang menyedihkan, 14 anak meninggal dengan status positif Covid-19. Terdapat 3.400 anak yang dalam perawatan dengan berbagai penyakit. Dari jumlah itu, ada 584 orang terkonfirmasi positif dan 14 orang meninggal dunia.

"Anak-anak tertular itu menunjukkan bukti bahwa rumor Covid-19 tidak menyerang anak-anak, tidak benar" imbuh Retno.

Dia pun menambahkan, "Beberapa negara membuka sekolah setelah kasus positif Covid-19 menurun drastis bahkan sudah nol kasus. Itupun masih ditemukan kasus penularan Covid-19 yang menyerang guru dan siswa. Peristiwa itu terjadi di Finlandia. Padahal mereka tentu mempunyai sistem kesehatan yang baik. Persiapan pembukaan yang matang. Sekolah pun jadi klaster baru," kata Retno.

Begitu juga dengan China. Pembukaan sekolah dilakukan setelah tidak ada kasus positif Covid-19 selama 10 hari. “Pembukaan disertai penerapan protokol kesehatan yang ketat. Para guru yang mengajar sudah menjalani isolasi dahulu selama 14 hari sebelum sekolah dibuka,” terang Retno.

Banyaknya data serangan Corona terhadap anak-anak ini membuat gundah para orang tua. Watiek Ideo, seorang penulis buku anak yang juga ibu dari seorang pelajar kelas 6 SD, kemudian menggagas petisi 'Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi' di laman change.org.

Watiek memberi gambaran, bila anak-anak masuk ke sekolah saat pandemi bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah.

"Bisakah kita benar-benar percaya kalau anak-anak tidak akan mengucek mata atau memegang hidung dan mulutnya selama di sekolah? Bisakah kita memastikan anak akan tetap jaga jarak 1,5 meter saat jam istirahat karena mereka sedang excited ketemu satu sama lain? Lalu siapkah guru-guru mengawasinya?" kata Watiek.

Membayangkan bagaimana anak-anak menjalankan protokol kesehatan yang sedemikian ketat, membuat Watiek dan orang tua di luar sana ragu untuk memasukkan anak mereka ke sekolah saat pandemi.

Watiek berharap, pemerintah mau mempertimbangkan saran Ikatan Dokter Anak Indonesia untuk tetap melaksanakan metode pembelajaran jarak jauh mengingat sulitnya melakukan pengendalian transmisi apabila terbentuk kerumunan.

Menurut data IDAI, hingga tanggal 18 Mei 2020 jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus. Sedangkan jumlah anak yang berstatus PDP meninggal sebanyak 129 orang dan 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak dinyatakan meninggal dunia akibat COVID-19. (Disarikan dari Okezone, 27/5).

Maka sebaiknya pemerintah mengkaji ulang ide pembukaan kembali sekolah pada 13 Juli 2020. Sebaiknya pemerintah lebih menggalakkan program home schooling yang terstruktur yang dalam sinergitas Kemendikbud, Kemenag & Kemenkes agar angka penularan corona kepada anak-anak bisa ditekan. Hendaknya pembukaan sekolah kembali dilakukan ketika tidak ada lagi kasus Covid-19 di Indonesia. []

Bumi Allah SWT, 3 Juni 2020

Posting Komentar untuk "Jangan Biarkan Anak Indonesia Digenggam Corona"