Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

New Normal Life, Antara Solusi atau Bunuh Diri?



Oleh : Ummu Maryam

Alkisah terdapat satu kampung yang sedang dilanda teror dari segerombolan serigala hutan yang lapar. Korban luka sampai meninggal mulai berjatuhan, bahkan jumlahnya meningkat setiap harinya, ternyata serigala tersebut jumlahnya semakin bertambah banyak. Kondisi ini membuat suasana kian mencekam, tidak ada satupun penduduk yang berani keluar rumah. Akibatnya rakyat mulai menghadapi krisis kelaparan karena mereka tidak dapat keluar mencari nafkah. 

Di tengah kondisi tersebut, muncul lah gagasan untuk kembali menjalani kehidupan normal yang baru dengan mencoba bertahan hidup di tengah ancaman bahaya serigala, agar penduduk bisa kembali bekerja memenuhi kebutuhan hidup mereka, terselamatkan dari badai kelaparan, dan berusaha mencari cara agar serigala tersebut tidak membahayakan mereka.

Begitulah ilustrasi sederhana untuk mengambarkan situasi yang ada di negeri nusantara. Setelah hampir 3 bulan bergelut dengan pandemi Covid-19 dengan berbagai kebijakan yang tidak jelas arah, kini muncul wacana untuk memulai new normal life, dengan maksud agar kehidupan dan perekonomian bisa segera pulih. Dengan begitu masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Salah satu daerah yang dianggap sudah mulai bersiap untuk menjalankan wacana ini adalah Jawa Barat.

Dilansir dari jabar.tribunnews.com (26/05/2020) Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, Daud Achmad, mengatakan bahwa Jawa Barat sudah melakukan salah satu dasar untuk pemberlakuan new normal tersebut, yakni leveling atau pengkategorian setiap daerah berdasarkan temuan penyebaran Covid-19. Dari 27 kabupaten kota di Jawa Barat ada 5 daerah terkategori level biru, 19 dilevel kuning dan 3 dilevel merah, ungkap Daud saat diwawancara di Gedung Sate, Selasa (26/5).

Berdasarkan pembagian level ini, ada beberapa perlakuan berbeda yang diterapkan.  Daerah dengan level merah diharapkan untuk melajutkan pemberlakuan PSBB. Daerah dengan level kuning kegiatan boleh meningkat 60 persen dengan tetap jaga jarak dan protokol kesehatan. Adapun daerah dengan level biru kegiatan berjalan seperti biasanya dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Sebenarnya apa itu new normal life? Menurut Wiku Adisasmita, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menerangkan bahwa new normal adalah perubahan prilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun tetap menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. New normal ini akan diberlakukan sampai ditemukannya vaksin untuk menangkal virus Covid-19 ini.

Di Indonesia, pemberlakuan new normal Life ini dilakukan dengan cara membatasi jumlah kerumunan, membatasi jarak, keharusan memakai masker dimana pun, skrining suhu di sekolah, mal dan kantor, membatasi perjalanan dinas atau pribadi kecuali pada saat penting saja, larangan masuk sekolah bagi anak yang sakit dan pengaturan jumlah penumpang di transportasi umum. (www.kompas.com 26/05/2020)

Namun sayang, menjelang diberlakukannya new normal life pada Juni mendatang, banyak pihak yang melayangkan kritik terkait keputusan pemerintah tersebut. Karena kurva kasus positif Covid-19 masih terus menanjak. Pemerintah diharapkan tidak terburu-buru memberlakukan new normal karena tiap tempat kerja memiliki karakteristik masing-masing. Kemampuan rumah sakit untuk menguji, mengisolasi, menangani setiap kasus serta melacak tiap kontak pun harus ditingkatkan terlebih dahulu.

Adapun sektor industri diprediksi tidak akan berhasil dalam new normal life ini, karena bahan baku produksi yang mengandalkan impor tidak ada dan ekspor dalam negeri pun mengalami penurunan. Jadi percuma saja pekerja masuk pabrik karena bahan baku tidak ada, tidak menutup kemungkinan PHK tetap akan terjadi. Ditambah lagi ketidak hati-hatian pemerintah dalam memberlakukan new normal bisa menyebabkan lonjakan yang lebih besar kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Sistem kapitalisme yang diemban oleh negeri ini dan mayoritas negara lain memang mendorong rakyatnya untuk masuk fase new normal life. Karena sistem yang bobrok ini  telah terbukti gagal menangani wabah Covid-19 apalagi memberikan ketenangan dan kesejahteraan bagi masyarakat.  Sistem ini hanya menitik beratkan pada perekonomian saja dan mengesampingkan keselamatan nyawa manusia. Akibatnya nyawa manusia dipertaruhkan ibarat kelinci percobaan. Virus dibiarkan menyebar demi keuntungan secuil dengan tebusan kematian ratusan bahkan ribuan jiwa masyarakat asalkan roda perekonomian bisa berputar. 

Lain halnya dengan sistem pemerintahan Islam. Sistem ini jauh berbeda dari sistem kapitalisme. Satu nyawa saja sangat berharga dalam Islam, itu sebab seorang pemimpin muslim akan senantiasa mencurahkan segala daya dan upaya untuk memelihara nyawa setiap warga negaranya. Karena memahami betul firman Allah Swt. dalam Al Qur'an yang artinya: 

“... Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya....” (QS. Al-Maidah 32)

Sistem perekonomian Islam pun lebih kokoh dibanding sistem ekonomi kapitalisme yang berbasis ribawi. Islam tidak mengandalkan pajak untuk kas negara melainkan hasil dari pengelolaan sumber daya alam secara mandiri dan beberapa pos lain seperti kharaj, fai, sedekah, zakat, hibah dll. Dengan demikian negara tidak akan kekurangan terlebih lagi jika negara tersebut memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Pemerintah Islam pun akan menanggung biaya hidup warganya yang terdampak wabah sebagai bukti tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang berkewajiban mengayomi urusan rakyatnya. Oleh sebab itu tidak akan ada kasus dimana rakyat kelaparan karena pemerintah tidak memberikan bantuan yang layak.

Selanjutnya Islam pun memiliki langkah preventif  dalam penanganan wabah yaitu dengan segera menerapkan lockdown di daerah wabah, kebijakan ini terbukti ampuh dalam mencegah penyebaran wabah secara meluas. Adapun masyarakat yang ada  di luar daerah wabah  bisa tetap melakukan aktivitas seperti biasanya termasuk aktivitas ekonomi, sehingga mereka bisa membantu warga yang sedang mengalami wabah.

Beginilah kehebatan Islam dalam memecahkan seluruh problematika manusia, karena sistem ini berasal dari Allah Swt. Zat yang Maha Sempurna. Namun aturan Islam ini  tidak akan pernah diterapkan di tengah sistem kapitalis yang rusak. Sistem yang sahih ini hanya bisa diberlakukan dalam naungan kepemimpinan Islam yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian. Maka solusi hakiki dalam menangani wabah ini adalah dengan mengembalikan aturan Islam di tengah umat untuk mengatasi beragam problematika sesuai arahan syara' bukan PSBB ataupun New Normal Life dalam naungan sekular.
Wallahu  a'lam bi ash Shawab

Posting Komentar untuk "New Normal Life, Antara Solusi atau Bunuh Diri?"