Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nyawa Floyd Versus Nyawa Kaum Muslimin


Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Dunia murka melihat kekejaman aparat kepada George Floyd. Video penyiksaan itu viral  lantaran seorang polisi kulit putih, Derek Chauvin, berlutut di leher Floyd ketika dirinya telungkup di jalan, membuatnya terhimpit.

Aksi ini sangat dramatis pilu, Floyd lemas ditindih selama 8 menit 46 detik dan akhirnya kehilangan denyut nadi. Padahal sebelumnya Floyd memohon untuk tidak disiksa lagi.

"Aku tidak bisa bernapas," kata Floyd berulang kali,  memanggil ibunya dab memohon," tolong, tolong, tolong." Namun aparat itu terus menindihnya hingga ia hilang kesadaran selama 6 menit. Sejam kemudian ia dinyatakan telah tewas.

Video yang memuat adegan tragis ini memantik kerusuhan besar yang dibarengi penjarahan di berbagai kota dan negara. Dunia pun takjub dengan "Floyd effect" yang menyentuh pemikiran dan perasaan dunia barat bahwa ketidakadilan terhadap ras mampu membangkitkan sentimen internasional.

Sayangnya itu hanya berlaku untuk Floyd yang sedang malang nasibnya. Sebelumnya di dunia kaum Muslimin banyak video yang sama atau lebih naas daripada kasus Floyd bertebaran di media massa dan sosial. Jika Floyd ditindih oleh aparat, banyak kaum Muslimin yang nyawanya melayang dengan cara yang lebih sadis.

Diinjak, dipukul, dan ditembak adalah pemandangan yang biasa di Palestina namun minim respon dari Barat. Pernah sebuah video viral sepasang ayah dan putranya yang mati ditembak oleh tentara zionis Israel di jalanan. 

Namun dunia membisu, tidak menganggap itu sebagai kejahatan yang harus dibasmi. Banyak Muslimah Palestina diperkosa begitu juga di Kahsmir dan Uighur. Lalu dimanakah suara HAM Internasional?

Semua diam membisu. Dimana kemarahan warga, ketika satu juta Muslim Uighur disekap di kamp dekonsentrasi. Banyak yang diikat, disetrum dan dijahit matanya. Tetapi tidak membuka mata internasional untuk menghukum negara komunis China.

Teramat pedih luka hati mereka yang jadi korban, yang jadi anak yatim piatu. Ketika pesawat tempur Amerika Serikat menghujani Irak, Suriah dan Pakistan dengan bom.

Gedung-gedung hancur, fasilitas umum rusak parah, listrik padam dan sumber air pun beracun akibat bahan kimia bom yang mencampurinya.

Dimanakah kemarahan dunia kepada junta militer Myanmar yang membunuh warga Rohingya, membakar kampungnya dan membiarkannya hidup terombang-ombing di lautan hingga sekarat dan banyak yang mati.

Mereka ditolak oleh banyak negara. Dan banyak pulan yang tenggelam. Ini lah standar ganda barat. Ketika yang korban itu kaum Muslimin dunia buta.

Jika korban itu Non Muslim, dunia penuh dengan amarah layaknya api yang ingin melahap semuanya. Jika pelaku kezhaliman adalah Muslim maka digelari sebagai teroris. Jika pelaku nya Non Muslim, dunia menyebutnya sebagai orang yang kurang waras.

Mengapa semua itu bisa terjadi? Karena cara pandang Barat yang sekuler yang menganggap satu-satunya agama dan ideologi yang berbahaya bagi mereka adalah agama dan ideologi Islam.

Padahal Islam bukan ancaman bagi siapa pun. Islam adalah agama universal yang telah terbukti 14 abadnya menaungi manusia dengan wilayah 2/3 dunia. Pada saat itu, warga negara Khilafah Islam hidup makmur walaupun berbeda agama, ras dan suku.

Toleransi dalam Peradaban Islam adalah yang nomer satu menurut banyak pakar Barat Non Muslim. Warga Non Muslim pada saat itu diberikan kebebasan beragama dan diberikan peluang yang sama untuk mendapatkan jaminan kesehatan, pendidikan dan pekerjaan gratis dengan warga Muslim.

Bandingkan dengan Floyd yang dianggap korban kekerasan ras. Floyd beserta 30 juta orang Amerika hidup tanpa pekerjaan dan dibawah garis kemiskinan harus berakhir nyawanya dengan cara yang tragis. Semoga sistem sekuler ini segera ditinggalkan agar tidak ada lagi kerusuhan karena perbedaan SARA dan penjajahan atas Kaum Muslimin bisa segera diselesaikan. []

Bumi Allah SWT, 5 Juni 2020

Posting Komentar untuk "Nyawa Floyd Versus Nyawa Kaum Muslimin"