Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandemi Berakhir: Pilihan atau Takdir?




Oleh: Sherly Agustina, M.Ag. (Member Revowriter dan WCWH)

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (TQS. Al Baqarah: 286).

Sampai hari ini belum ada tanda-tanda berkurangnya kasus covid-19 dan pandemi berakhir. Dilansir oleh TribunTernate.com, berdasarkan laporan data BPNB Indonesia per Sabtu (27/7/2020) tercatat ada 1.868 kasus baru. Jadi, total kasus covid-19  menjadi 97.286 orang, pasien sembuh sebanyak 55.354 orang dan  4.714 pasien positif covid-19 dilaporkan meninggal dunia (25/7/20).

Para tenaga medis di antaranya dokter dan suster pun tak luput menjadi korban. Krisis kesehatan berdampak pada segala bidang termasuk krisis ekonomi. PHK di mana-mana, pengangguran meningkat dan pengusaha ada yang sampai gulung tikar. Semua berharap, kapan pandemi ini berakhir? Pilihankah atau menunggu takdir dari Allah?

Allah Swt. berfirman:

"... Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (TQS. Ar Ra'du: 11)

Dalam tafsir Syeikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di dijelaskan, Allah mengabarkan tentang sunnah dari sunnah-sunnah-Nya yang telah berjalan pada makhluk-Nya, bahwa Dia tidak akan menghilangkan nikmat dari suatu kaum berupa kesehatan, keamanan, kelapangan karena keimanan dan amal saleh mereka hingga mereka mengganti apa yang jiwa mereka miliki berupa kebersihan dan kesucian dengan melakukan dosa dan tenggelam di dalamnya, sebagai hasil dari berpalingnya mereka dari kitab Allah, tidak peduli dengan syariat-Nya, tidak memperhatikan batasan-batasan-Nya, tenggelam di dalam syahwat, dan mengikuti jalan kesesatan. 

Saat ini nikmat kesehatan, keamanan dan kelapangan sedang Allah cabut, bisa jadi sebagai ujian dan teguran bagi para hamba-Nya. Allah cabut karena keimanan telah berubah menjadi dosa, jika hamba-Nya ingin keadaan ini berubah maka pilihannya adalah merubah dosa dengan keimanan kepada Allah. Tidak berpaling dari kitab dan syariah Allah, tidak tenggelam di dalam syahwat dan kesesatan. 

Ini dari sisi keimanan, dari sisi syariah Allah mengatasi pandemi jauh-jauh hari sudah Rasul Saw. contohkan sebagai panutan bagi umat Islam. Jika dalam ilmu kedokteran tolok ukur berakhirnya pandemi adalah kasus semakin berkurang, upaya mitigasi covid-19 berhasil dan vaksin sudah ditemukan hasil kerja keras para tenaga medis. Maka, pilihannya ada pada para pemegang kebijakan di negeri ini. 

Sudahkah mencontoh Rasul Saw. dan berhasil menurunkan kasus covid-19? Apakah hanya menunggu takdir dari Allah tanpa usaha yang telah Allah syariatkan. Bukankah Allah ciptakan akal bagi manusia untuk berfikir, lalu Allah beri wahyu agar akal bisa dibimbing oleh wahyu dan berada di jalan yang benar sesuai syariah-Nya.

Solusi pandemi ini yaitu  dengan menerapkan syariah-Nya. Jika syariah-Nya diterapkan bukan hanya masalah pandemi yang berakhir tapi juga seluruh masalah di muka bumi ini. Krisis ekonomi dan mirisnya nasib guru dan para buruh, fenomena prostitusi dan korupsi yang kian menggila, lemahnya hukum tumpul ke atas tajam ke bawah. 

Penguasaan politik pemerintahan dan SDA oleh korporatokrasi, sistem demokrasi yang cacat bawaan sudah banyak merusak negeri ini bahkan dunia. Sekulerisme yang menjalar  ke tubuh umat, menafikan agama dari kehidupan dan politik tak mengenal halal dan haram. Akibatnya, umat Islam semakin jauh dari Allah dan lenyapnya keberkahan. Jawaban semua ini adalah bersegera pada ampunan Allah Swt. dengan segera menerapkan syariah-Nya.

Firman-Nya: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa". (QS. Ali Imran : 133)

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.

Posting Komentar untuk "Pandemi Berakhir: Pilihan atau Takdir?"