Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menelisik Islam Dalam Bumi Pertiwi

 


Oleh : Roro Ery (Pemerhati Sosial, Member AMK)

Launching Film Jejak Khilafah Di Nusantara akan tayang sebentar lagi tepatnya tanggal 20 Agustus 2020 bertepatan dengan 1 Muharram yang ditandai sebagai Tahun Baru Islam 1442 Hijriyah.

Film tersebut tidak hanya menuangkan fenomena secara audio visual saja, namun sebagai seorang muslim dan sebagai rakyat Indonesia tentu ada ibrah di balik film tersebut untuk mengetahui bahwa Khilafah pernah ada di tanah negeri nusantara. Bahkan atas utusan kekhalifahan Islam, Sultan Turki pada saat itu tahun 1479 lalu

Khilafah sendiri merupakan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.  Menegakkan khilafah suatu kewajiban sudah sangat jelas, hanya dengan khilafah saja seluruh hukum-hukum Islam di muka bumi ini akan bisa ditegakkan. Lebihnya lagi, jika sejarah Islam di Indonesia dicermati dan ditelusuri oleh seluruh umat islam, maka sesungguhnya beberapa wilayah Indonesia pernah menjadi bagian dari khilafah.

Dalam menelisik bahwa khilafah pernah ada bahkan keberadaannya diakui dengan fakta yang terungkap jelas dalam pernyataan yang disampaikan oleh Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 di Yogyakarta (9 Februari 2015)

Dalam pidatonya, Sri Sultan menyebutkan, "Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaaha illallah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau."

"Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.” (SindoNews.com 22 Pebruari 2015)

Bahkan Sri Sultan juga menyebutkan pada tahun 1903 saat dilakukan kongres khilafah di Jakarta, Sultan Turki mengutus M. Amin Bey yang menyatakan haram hukumnya penguasa Muslim tunduk pada Belanda. Ia juga menyebut atas dorongan Sultan, salah satu abdi ngarso dalem Sultan Yogja kemudian mendirikan organisasi Muhammadiyah. “Dialah KH Ahmad Dahlan!”  tegasnya.

Berawal dari sejarah wali songo yang menarik untuk dikaji. Tersebab generasi Y banyak mendapatkan cerita yang sudah tersebar di kalangan masyarakat mengenai kehebatan Wali Songo. Di antara cerita yang diyakini oleh sebagian orang adalah Wali Songo merupakan utusan Khilafah Turki Utsmani. Cerita wali songo ini konon bermula dari kitab Kanzul ‘Ulum (Kanzul ‘Hum) yang ditulis oleh Ibnu Bathuthah dan saat ini disimpan di museum Istana Turki di Istanbul.

Wali Songo merupakan penyebar Islam di tanah Jawa. Secara harfiah "wali" diartikan wakil, sedangkan "songo" dalam bahasa Jawa artinya sembilan. Mereka melakukan dakwah di tanah Jawa dengan cara yang berbeda-beda dan tersebar diberbagai daerah.

Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam di wilayah Gresik, Jawa Timur. Berdakwah dengan cara pergaulan di masyarakat. Budi pekerti dan ramah tamah selalu diperlihatkan saat pergaulan sehari-hari dengan masyarakat. Juga mendirikan pondok pesantrena dan masjid sebagai tempat untuk mengajarkan agama Islam.

Sunan Ampel dikenal dengan nama Raden Rahmat. Menyebarkan Islam melalui pendidikan pesantren di wilayah Surabaya. Juga sebagai perencana berdirinya Kerajaan Islam Demak.

Sunan Bonang sering disebut Raden Makdum Ibrahim menyebarkan Islam melalui kesenian. Ia menciptakan tembang tombo ati yang terkenal hingga saat ini.

Sunan Giri disebut juga Raden Paku tidak hanya menyebarkan Islam di tanah Jawa tapi juga sampai ke Maluku. Menyebarkan Islam melalui dunia seni, berpengaruh terhadap pemerintahan di Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa.

Sunan Drajat disebut juga Raden Qasim menggunakan kegiatan sosial sebagai media untuk berdakwah. Ia yang mempelopori penyantunan kepada anak-anak yatim dan orang-orang sakit. Sampai Di bidang politik Sunan Drajat sangat mendukung Kerajaan Demak.

Sunan Kalijaga disebut Raden Mas Syahid dalam dakwahnya dengan memanfaatkan media wayang. Di mana memasukan cerita-cerita tentang ajaran-ajaran Islam. Termasuk juga lewat seni ukir atau seni suara. Beberapa lagu yang berhasil diciptakan seperti Lir Ilir atau Gundul Pacul.

Sunan Muria disebut Raden Umar Said ikut membantu berdirinya Kerajaan Islam Demak. Ia banyak menyebarkan Islam di sekitar Jawa Tengah. Dan sarana yang dipakai berdakwah lewat kesenian dan kebudayaan.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah berasal dari Palestina. Ia belajar agama diberbagai negara sejak usia belia. Merupakan satu-satunya wali yang menjadi kepala pemerintah, dengan mendirikan Kasultanan Cirebon dan Banten.

Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq, mendekati masyarakat dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Itu bisa terlihat pada arsitektur Masjis Kudus yang memiliki keunikan. Berasal dari Palestina dan menyebarkan Islam di pesisir Jawa Tengah. Pernah menjadi Senapati atau panglima perang Kerajaan Islam Demak ( kompas.com 12 Februari 2020 )

Berdasarkan ringkas cerita masing-masing wali diatas, ini menunjukkan bahwa mereka merupakan utusan dari khilafah untuk mendakwahkan Islam di nusantara. Keberadaan Islam memiliki hubungan yang sangat dekat, hingga Islam berkembang di Indonesia sangat pesat. Hal tersebut dilihat dari jumlah penduduk muslim terbanyak no 1 di dunia saat ini. Allahu Akbar.

Fakta ini menjadi suatu kebanggaan dan juga tamparan untuk kita sebagai seorang muslim. Sudahkan akhirnya kita menjadi sosok wali seperti masa dahulu yang mendakwahkan Islam? Seharusnya kita meneladani mereka dengan menjalankan syariat serta mendakwahkan Islam, sesuai apa yang dicontohkan oleh rasulullah. Pun Islam yang didakwahkan tidak hanya sekedar sholat zakat dan puasa, tetapi juga sampai kepada bahwasanya Islam sebagai solusi seluruh problematika manusia yang hanya bisa dijalankan dalam naungan Khilafah.

Demikianlah 9 wali yang berperan besar dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Tanpa mereka, Islam tak pernah hadir di setiap rumah-rumah kita. Tentu perjalanan mereka menyebarkan Islam tak semudah membalikkan telapan tangan. Ada saja tantangan yang diberikan oleh Allah untuk menguji keimanan mereka. Namun adapula kemudahan dan keberkahan seluas langit dan bumi. Untuk lebih tau bagaimana kisah penyebaran Islam di Nusantara. Jangan lupa saksikan film Jejak Khilafah di Nusantara yang akan rilis pada 20 Agustus 2020.

Posting Komentar untuk "Menelisik Islam Dalam Bumi Pertiwi"