Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandemi dan Resesi: Islam Solusinya


 

Oleh: Anggun Permatasari


Pandemi akibat virus covid-19 belum sirna. Segala upaya dikerahkan pemerintah agar korban tidak bertambah. Apa daya, laju kontaminasinya justru semakin tidak terbendung. 

Laman CNNIndonesia.com., (13/8) melansir, "Kasus positif virus covid-19 di Indonesia bertambah 2.098 kasus pada Kamis (13/8). Dengan demikian, total sudah 132.816 orang di Indonesia yang positif terjangkit covid-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 87.558 orang di antaranya telah sembuh dan 5.968 orang meninggal dunia. Data yang diambil dari situs kemkes.go.id pada Rabu (12/8) mengkonfirmasi hasil tes terhadap 25.814 spesimen. Masih merujuk data yang sama, pasien corona yang sembuh di Indonesia bertambah 1.760 orang. Sementara kasus kematian bertambah 65 orang.

Malangnya, di tengah keresahan terhadap bahaya covid-19, umat harus menghadapi kenyataan bahaya resesi akibat mandegnya roda perekonomian imbas pandemi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia minus hingga 5,32 persen pada kuartal II 2020. Padahal, pada kuartal I 2020, perekonomian Indonesia masih dinyatakan tumbuh dan berada pada angka 2,97 persen. Angka 5,32 persen berbanding terbalik dari kuartal II 2019 yang minus sebesar 5,05 persen. Selain itu, BPS juga menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I 2020 telah terkontraksi di angka 1,26 persen. (Jakpusnews.com., 5/8/2020)

Virus covid-19 sukses menyerang kesehatan masyarakat dan membuat pemimpin negeri kewalahan. Ketidaksiapan secara teknis, materi dan minimnya pengetahuan bagaimana menangani bencana secara cepat dan tepat membuat virus betah berlama-lama di bumi zamrud khatulistiwa.

Berbagai kebijakan diambil, sayangnya usaha tersebut tidak membuat korban pandemi jumlahnya menurun. Apalagi pelonggaran PSBB dengan alasan ekonomi yang lesu, semakin memantapkan virus menjejakan dirinya dimana saja dia suka. 

Para pakar meramalkan bahwa resesi ekonomi yang dialami beberapa negara seperti korea Selatan, Singapura dan Malaysia, kemungkinan besar akan menyapa Indonesia. Apalagi, sejak pandemi menyebar ke seluruh negara. Para pemimpin dunia menuding covid-19 sebagai penyebab perekonomian dunia porak-poranda. Faktanya, laju perekonomian bangsa-bangsa di dunia sudah seret sebelum covid-19 melanda.

Dalam sistem ekonomi sekular kapitalisme, konon terjadinya resesi adalah sebuah kewajaran dalam siklus ekonomi. Namun, resesi yang terjadi bersamaan dengan pandemi diprediksi sangat susah dipulihkan. Malah, imbasnya akan menimbulkan crash dan krisis multidimensi karena resesi tidak hanya menyerang sektor keuangan tapi juga memukul sektor riil.

Idealnya, dalam kondisi labil seperti saat ini, pengerahan seluruh sumber daya sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi. Penanganan covid-19 dan kegiatan ekonomi harus bersinergi agar pemulihan ekonomi lebih cepat dilakukan. Pembukaan akses ekonomi harus diiringi dengan disiplin terhadap protokol kesehatan.

Sayangnya, selama ini Indonesia banyak bergantung pada impor. Sehingga kondisi pandemi yang membuat aktivitas produksi di berbagai negara sangat mempengaruhi konsumsi dalam negeri. 

Minimnya edukasi dan keterbukaan informasi membuat masyarakat tidak mengindahkan anjuran protokol kesehatan. Kebijakan yang berubah-ubah dan tidak adanya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah membuat penyebaran covid-19 semakin sulit dikendalikan.

Dari penjabaran di atas, tentunya sudah jelas bahwa sistem kapitalisme gagal mengatasi pandemi dan resesi. Pandemi sejatinya justru kian menampakkan kebobrokan sistem yang masih diagungkan masyarakat dunia saat ini. Sebaliknya, sebagai seorang Muslim hendaknya kita bermuhasabah, apakah rela akan terus-menerus dizalimi sistem kufur ini? Padahal, Allah Swt. telah memberikan solusi pasti yakni sistem Islam.

Sistem Islam tentunya memiliki seperangkat aturan sempurna yang menyelesaikan masalah secara paripurna. Jika saja para pemangku kebijakan dunia mencontoh nabi, para sahabat dan para khalifah sebelumnya dalam mengatasi pandemi, tentu pandemi yang berasal dari Wuhan, Cina tidak akan menyebar keluar wilayah itu apalagi sampai menyebabkan banyak korban meninggal. Sejarah mencatat pemimpin era Islam sangat sigap dan penuh empati dalam menangani wabah.

Sistem ekonomi Islam tentu bebas dari riba dan tidak mengenal pasar finansial yang bersifat non riil. Standar mata uang yang diginakan juga stabil yaitu emas dan perak.

Langkah pemimpin yang menutup sektor riil saat terjadinya pandemi merupakan salah satu langkah brutal yang diambil para petinggi. Tentu hal ini memperparah roda ekonomi karena aktivitas ekonomi lumpuh, pengangguran membludak, barang kebutuhan masyarakat langka dan harganya mahal. 

Di masa krisis, Khalifah Umar mengharamkan dirinya makan yang lezat. Umar bin Khatab membagikan sendiri makanan dari bantul mall hingga kosong. Umar dibantu oleh 7.000 relawan. Umar menguburkan dan menshalatkan yang wafat.

Saat baitulmal habis, beliau membuat surat ke para gubernurnya di Syam dan Mesir agar membantu para korban. Menunda pemungutan zakat. Menghentikan hukuman Had. Beliau juga memimpin langsung shalat Istisqa dan meminta seluruh penduduk negeri melakukan shalat Istisqa. Di masa ini, Umar juga menyerukan dirinya dan seluruh kaum muslimin untuk memperbanyak istighfar, bertaubat dan bersedekah. 

Dunia harus mengakui bahwa Khilafah telah menciptakan kemajuan ekonomi. “Pada masa pemerintahan Abdurrahman III diperoleh pendapatan sebesar 12,045,000 dinar emas  (lebih  dari  Rp 24 triliun). Diduga kuat bahwa jumlah tersebut melebihi pendapatan pemerintahan negeri-negeri Masehi Latin jika digabungkan. Sumber pendapatan yang besar tersebut bukan berasal dari pajak yang tinggi, melainkan salah satu pengaruh dari pemerintahan yang baik serta kemajuan pertanian, industri, dan pesatnya aktivitas perdagangan.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Tentu dengan ekonomi yang stabil, datangnya pandemi tidak akan terlalu mempengaruhi kondisi perekonomian negeri apalagi sampai menimbulkan resesi. 

Saat Khilafah masih dalam masa kejayaan, tidak hanya ekonomi, tapi kesehatan juga terjamin. “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al-Bimarustan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.” (Will Durant – The Story of Civilization).

In syaa Allah, jika umat mau sadar dan kembali pada hukum Islam. Setelah pandemi berakhir akan ada cahaya dan harapan kehidupan yang lebih baik. Wallahualam.

Posting Komentar untuk "Pandemi dan Resesi: Islam Solusinya"