Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan: Tumbal Rapuhnya Ketahanan Keluarga

 


Oleh: Ummu Rufaida (Pegiat Literasi dan Kontributor Media)


Saat jagad maya digemparkan dengan pro kontra film Jejak Khilafah di Nusantara, bahkan ada juga kasus persekusi para pengemban dakwah syariah dan khilafah, disisi kehidupan yang lain, ada nasib perempuan yang kian mengenaskan. 

Dilansir oleh Republika.co.id (01/09), Anggota Komisi II DPR RI Guspardi Gaus mengaku terkejut dan prihatin mendengar pernyatan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo yang mengungkapkan adanya fenomena pelanggaran baru oleh Aparatur Sipil Negara (ASN), yaitu perempuan yang memiliki suami lebih dari satu orang atau poliandri. Ia meminta agar Kementerian PAN-RB menindak tegas jika ada ASN yang terbukti melakukan poliandri.

"Fenomena poliandri di kalangan ASN ini jelas akan merendahkan harkat dan martabat ASN itu sendiri. Harus dihukum berat berupa diberhentikan sebagai ASN dan kalau ada unsur pidana diproses sesuai hukum yang berlaku," kata Guspardi dalam keterangan tertulisnya kepada Republika, Selasa (1/9).

Sontak kasus ini menuai perbincangan dikalangan masyarakat. Mengingat poliandri merupakan hal yang tabu dan tidak sesuai dengan adat ketimuran, apalagi dilakukan oleh oknum ASN. Disisi lain, hal ini menunjukkan rapuhnya ketahanan keluarga masyarakat Indonesia. 

Menurut jurnal Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, Vol 1 No. 1. Januari-Juni 2017, faktor-faktor terjadinya poliandri dimasyarakat diantaranya faktor ekonomi, jarak dengan suami yang jauh, tidak terpenuhi nafkah lahir dan batin, usia suami yang sudah lanjut, tidak harmonis di rumah tangga, kurangnya iman dan lemahnya pemahaman agama sebagai kontrol sosial.

Sepintas, faktor-faktor tersebut merupakan hal yang tepat untuk berpoliandri bagi perempuan. Akan tetapi tidak membuat tindakan poliandri ini dibenarkan. Sebab dari poliandri akan mengacaukan hukum-hukum turunannya, seperti nasab, waris dll. Selain itu, tindakan poliandri juga akan menjadi pemicu hancurnya rumah tangga.

Poliandri Bukti Rapuhnya Ketahanan Keluarga Sistem Demokrasi

Poliandri dapat subur dimasyarakat akibat diterapkannya sistem demokrasi sekuler, yang menganggap bahwa manusia mampu mengatur dirinya sendiri tanpa campur tangan Allah Swt.. Akhirnya manusia menetapkan standar kehidupannya hanya dengan kepuasan dan kebahagiaan duniawi saja, bukan halal-haram. 

Manusia tidak lagi mengingat bahwa segala aktifitas   harus terikat dengan hukum syara. Sehingga manusia bebas melakukan aktifitas apapun demi kebahagiaannya. Maka wajar, jika aktifitas yang terjadi antara laki-laki dan perempuan bertujuan untuk pemuasan hasrat seksual saja. 

Selain itu, di sistem saat ini pemenuhan hasrat seksual merupakan suatu hal yang wajib terlaksana. Jika tidak maka akan mengakibatkan bahaya fisik, psikis, sosial dan akal. Maka, saat seorang istri tidak merasa bahagia dengan pasangannya, sah-sah saja untuk mencari laki-laki lain, asalkan bahagia. Inilah yang membuat perselingkuhan, poliandri, dan perzinahan merebak. 

Jelas, sistem inilah yang membuat ketahanan keluarga rapuh bahkan hancur. Padahal keluarga adalah benteng perlindungan terakhir yang memiliki peran penting bagi terwujudnya generasi.

Islam Mengokohkan Benteng Keluarga

Dalam Islam, keluarga merupakan tempat dilahirkannya generasi terbaik pengisi peradaban. Selain itu, keluargalah yang akan menjadi pendidik awal para generasi serta menjadi tempat terwujudnya ketentraman hidup bagi pasangan suami istri. 

Khilafah akan menjamin kebutuhan hidup rakyatnya, termasuk ketahanan keluarga. Khalifah akan memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan fungsi dan tugasnya sebaik mungkin. Sehingga darinya akan muncul generasi-generasi berkualitas. 

Maka jelas, tindakan poliandri merupakan suatu keharaman sebab pasti ia akan membawa madhorot bagi generasi setelahnya. Misalnya, ketidakjelasan jalur nasab bagi anak yang dilahirkannya tentu akan berpengaruh pada hukum turunannya, seperti waris atau wali.

Oleh karenanya, ketahanan keluarga ini hanya bisa diwujudkan oleh sistem khilafah. Mekanismenya dengan memastikan setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan sehingga mampu memenuhi kebutuhan nafkah keluarga. Selain itu Islam akan mengatur interaksi laki-laki dan perempuan, sehingga menutup pintu perzinahan atau perselingkuhan. Serta dilengkapi dengan kontrol sosial yang tinggi.[]

Wallahu A'lam

Posting Komentar untuk "Perempuan: Tumbal Rapuhnya Ketahanan Keluarga "