Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Generasi Z dalam Kapitalisme, Mau Dibawa Ke mana?



Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

"Muhammad al-Fatih sebelum wafat mewasiatkan pada keluarganya, khususnya Sultan Bayazid II agar dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan menjaga agama untuk pribadi, masyarakat, serta kerajaan." Pesan yang syarat makna, diberikan pada Sultan Bayazid II sebagai pemuda dan penerus estafet perjuangan risalah Nabi Saw.

Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia memiliki potensi yang luar biasa.  Penduduk Indonesia hingga 2020 didominasi generasi Z dan generasi milenial, data tersebut hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS). Penduduk yang lahir Pada kurun tahun 1997-2012 disebut generasi Z, sementara yang lahir periode 1981-1996 disebut generasi milenial. Jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen dari total populasi berjumlah 270,2 juta jiwa. Sementara, generasi milenial mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87 persen (tempo.co, 23/1/21).

Generasi Z dalam Kapitalisme

Tentu ini potensi yang luar biasa bagi kebangkitan umat Islam Indonesia di tengah keterpurukan. Namun, ironisnya potensi ini belum diberdayakan dengan layak, melihat fakta bahwa generasi millenial dan Z saat ini banyak yang masuk RSJ baik sebelum ataupun sesudah pandemi. Seperti misalnya di  Cisarua Provinsi Jawa Barat, sebulan menangani hingga 12 pasien anak-anak yang kecanduan ponsel. 

PJJ yang saat ini dilakukan menjadi dilema di kalangan generasi Z, beberapa anak memang terpaksa di rawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ), karena mengalami gangguan kesehatan secara psikologis. Gangguan itu menyangkut penggunaan gadget yang berlebihan. Gadget selain digunakan untuk PJJ, oleh anak banyak dimanfaatkan bermain game online dan pornografi, akibatnya menimbulkan kecanduan. Hal ini disampaikan oleh Retno KPAI (Sindonews.com, 24/1/21).

Potensi generasi Z seharusnya menjadi SDM unggul di Indonesia, tapi malah menjadi korban sistem karena kurang tepatnya penanganan dalam mengurus, mendidik dan membina mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah teknologi semakin pesat seharusnya bisa mempermudah mereka mengakses ilmu. 

Nyatanya, pesat ilmu dan teknologi saja tidak cukup untuk membekali mereka. Ada unsur lain yang hilang dalam sistem saat ini, yaitu akidah. Karena akidah sebagai pondasi dan penopang individu dan sistem agar semua berjalan sesuai relnya. Dalam sistem kapitalisme saat ini, agama tidak mendapat porsi yang pas di dalam kehidupan umum untuk mengatur manusia dalam kehidupan. 

Karena asas kapitalisme yaitu sekularisme, memisahkan peran agama dalam kehidupan dan juga negara. Maka wajar, jika generasi saat ini oleng karena tidak memiliki pondasi yang seharusnya mereka memiliki dalam mengarungi kehidupan yaitu akidah Islam. Akidah ini yang menjadi spirit menimba ilmu untuk dunia dan akhirat, mengapai ridha-Nya. Akidah ini menjadi self control mana yang boleh dan tidak dilakukan, akidah ini menjadi standar benar-salah, halal-haram agar manusia terjaga.

Islam Mendidik Generasi dengan Ideal

Dalan Islam, pendidikan agama dan akidah dimulai sejak dalam kandungan bahkan jauh sejak calon mempelai laki-laki dan wanita hendak menikah. Karena tujuan menikah adalah melestarikan keturunan yang membekali keturunan dengan akidah, untuk ibadah dan menggapai ridha Allah. Maka, pondasi ini sudah dikenalkan sejak dini untuk membentuk keturunan yang memiliki kepribadian Islam. 

Pribadi yang standarnya Islam, bukan pembebek atau follower budaya jahiliyah modern seperti K-Wave, dan sebagainya. Bukan generasi hedonisme, konsumerisme, permisif dan sekuler seperti yang terjadi sat ini. Generasi Islam adalah generasi yang aktifitasnya di dunia tapi pandangannua jauh ke negeri akhirat. Oleh karenanya, tidak terjebak dengan fatamorgana dunia yang penuh dengan tipu daya. Generasi yang haus ilmu, cinta dan dekat dengan para ulama serta memuliakannya.

Tak heran, jika generasi muda di dalam Islam sukses di usia muda, seperti Al Fatih. Selain akidahnya mantap, ilmunya luas dan cerdas, juga mendapat doa dan keberkahan dari para ulama guru mereka karena rasa takdzimnya. Pada generasi saat ini, seakan hilang rasa hormat dan memuliakan para guru maka hilang keberkahannya. Generasi Islam berdaya guna menjadi bibit SDM yang unggul untuk memajukan negara menjadi super power. 

Bukan generasi yang dikondisikan seperti mesin robot sistem kapitalisme dan hanya untuk kepentingan kapitalis atau pengusaha. Terlihat seperti memajukan negara padahal hanya menjadi budak para kapitalis, tak sadar bahwa selama ini negara hanya diperalat oleh para corporat. Gadget yang membuat generasi Z masuk RSJ, harusnya menjadi wasilah untuk ibadah dan taat kepada Allah.

Mau dibawa ke mana generasi Z di negara ini dalam sistem kapitalisme? Follower budaya hedonis atau mesin robot kapitalis? Faktanya sudah bisa dilihat. Tentu berharap, potensi generasi Z ini harus berdaya guna untuk perkembangan Islam dan negara. Namun, tak mudah diwujudkan jika sistem yang digunakan masih sistem seperti saat ini. Bukan tidak bisa, karena di balik kesulitan terdapat dua kemudahan.

PR bagi umat Islam saat ini, bagaimana mengkondisikan generasi Z berdaya guna sambil mewujudkan wadah yang akan mendukung dan memfasilitasi hal itu yaitu sistem Islam. Al Fatih sudah menaklukkan Konstantinopel atas kehendak Allah, masih ada PR selanjutnya khususnya generasi Z. Yaitu menaklukkan Roma, maka tugas umat Islam mewujudkan dan merealisasikannya. 

Sabda Rasul Saw.:

"Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim).

Allahu A'lam bi ash Shawab.

Posting Komentar untuk "Generasi Z dalam Kapitalisme, Mau Dibawa Ke mana?"