Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Zina Terang-Terangan, Negeri di Ambang Kehancuran

Ilustrasi



Oleh: Saptaningtyas 


Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw., beliau bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لاَ تَفْنَى هَذِهِ اْلأُمَّةُ حَتَّى يَقُوْمَ الرَّجُلُ إِلَى الْمَرْأَةِ، فَيَفْتَرِشُهَا فِي الطَّرِيْقِ، فَيَكُوْنَ خِيَارُهُمْ يَوْمَئِذٍ يَقُوْلُ: لَوْ وَارَيْتَهَا وَرَاءَ هَذَا الْحَائِطِ!

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hancur umat ini hingga kaum pria mendatangi kaum wanita, lalu dia menggaulinya di jalan. Orang yang paling baik di antara mereka saat itu berkata, ‘Seandainya engkau menutupinya di belakang tembok ini.’” (HR. Abu Ya’la. Al Haitsami berkata, “perawi-perawinya shahih.” Lihat Majmu’ Zawaid: 7/331)

Na'udzubillahi min dzalik. Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Peringatan Nabi saw. 14 abad silam itu tampak saat ini. 

Fakta hari ini sangat menyesakkan dada. Lidah seakan tak tahu lagi harus berucap apa. Tak habis pikir, semua di luar akal sehat. Entah apa yang merasuki perempuan berinisial MA (21) yang begitu mudahnya melakukan tindak asusila di ruang publik. 

Sebagaimana diberitakan dari jpnn.com (26/1), telah viral di media sosial video mesum yang terjadi di sebuah halte bus, tepatnya di depan SMKN 34, Jalan Kramat Raya, Jakarta pada Jumat (22/1) dini hari. 

Pada video itu, MA melakukan perbuatan asusila di saat sejumlah pengendara motor masih banyak yang melintasi halte tersebut.

"Pak, di hotel saja, pak, di hotel, jangan di situ," teriak perekam video pada pasangan itu. 

Polisi akhirnya menangkap si pelaku wanita (MA). Sedang si pelaku pria masih diburu polisi. Dalam pemeriksaan polisi, MA mengaku tidak kenal sebelumnya dengan pria yang dilayaninya itu. Ia mendapat bayaran Rp22 ribu dari si pria. MA pun mengaku melakukan perbuatan itu secara sadar, tanpa pengaruh minuman beralkohol. Atas hal ini, polisi akan memeriksa kejiwaan MA.

Fakta ini sama sebagaimana disampaikan Rasulullah saw. pada hadits di atas. Betapa mengerikan ancaman yang disampaikan Nabi saw. Negeri ini di ambang kehancuran. 

Betapa tidak? Fakta menggambarkan sedemikian parah kondisi moral bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam bahkan terbesar di dunia ini. Berbuat asusila di tempat umum menandakan rasa malu telah benar-benar hilang. Padahal, rasa malu menjadi penanda keimanan masih ada. Sebab, malu sebagian dari iman. 

Kehancuran moral ini mengindikasikan kenistaan sebuah peradaban. Hal ini terjadi karena pengabaian agama dalam kehidupan. Ideologi kapitalisme yang diterapkan dunia, tak terkecuali Indonesia telah meminggirkan syariat Allah dalam mengatur hidup manusia. Dalam paham sekularisme ini manusia merasa bebas berbuat tanpa memandang halal haram, bahkan norma kepantasan pun diabaikan. 

Dalam memenuhi hasrat seksual pun demikian yang terjadi. Makin banyak saja yang melanggar dari menyalurkannya secara halal dalam pernikahan. Seks di luar nikah kian marak, bahkan ada yang menyimpang pada sesama jenis. Ditambah tanpa peduli dengan cara dan tempat pelampiasan syahwat itu. Di tempat tersembunyi, di hotel mewah hingga kebun dan sawah, bahkan kini terang-terangan di tepi jalan. Betapa sempurna kebejatan sistem ini. Inilah puncak kehancuran peradaban manusia akibat penerapan sukularisme-kapitalisme. 

Karena itu, tak ada jalan lain bagi umat Islam kecuali bertaubat, kembali pada Allah dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Sebab, umat Islam wajib takut pada azab Allah. Allah SWT. mengisyaratkan dalam firman-Nya,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

”Dan takutlah kalian pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras sisanya." (QS. Al-Anfaal: 25)

Sementara itu, Rasulullah saw. telah memberi peringatan bahwa zina yang merajalela menjadi salah satu penyebab diturunkan ya azab Allah. Rasulullah saw. bersabda, 

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

"Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu wilayah maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri." (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

Maknanya, jika zina dan riba telah menyebar di tengah masyarakat, hal itu akan memancing turunnya azab Allah, keberkahan akan dicabut. Sebaliknya, keburukan dan kerusakan akan terus mendera masyarakat itu selama tidak berupaya mencegah tersebarnya zina dan riba, mengubah dan menghilangkannya dari kehidupan masyarakat.

Rasulullah saw. bersabda,

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيْهِمْ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ قَدْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِيْنَ مَضَوْا… الحديث

”Tidaklah tampak perbuatan keji (zina) di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah)

Musibah bertubi-tubi, baik  bencana alam maupun nonalam yang terus mendera negeri ini adalah sebuah peringatan besar. Sudah semestinya umat kembali introspeksi. Kemaksiatan terbesar yang menghantarkan pada kehancuran ialah meninggalkan hukum Allah sebagai aturan hidup. Karenanya, umat Islam mesti kembali menerapkan syariat Islam secara menyeluruh di seluruh aspek kehidupan dalam sistem khilafah Islam. 

Wallahua'lam.

Posting Komentar untuk "Zina Terang-Terangan, Negeri di Ambang Kehancuran"