Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Malapetaka Kehidupan Tanpa Khilafah



 Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)


Seabad lamanya kaum muslim menderita. Problematika kehidupan dipanen dengan gegap gempita. Kriminalitas beekobar tanpa mampu diturunkan. Ukhuwah Islam sudah tak lagi diperhatikan. Satu sama lain asik hidup dalam penderitaan.

Masalah datang tak kunjung usai. Kaum muslim dijadikan mangsa dan sasaran para pembantai. Di Palestina, mereka disingkirkan dan diserang habis-habisan. Di Cina, muslim Uighur dipersoalkan dan diperlakukan tanpa rasa kemanusiaan. Di Burma tak kalah parahnya, muslim Rohingya menanggung kekejaman dan kezaliman tiada tara. 

Betapa banyak kaum muslim yang jadi korban kebrutalan, bahkan ulama tak luput dari kezaliman. Lebih parah lagi, penguasa muslim mencampakkan syariat Islam dari kehidupan. Sekularisme tertancap kuat dalam sendi-sendi pemerintahan. Walhasil, agama dipisahkan dari kehidupan.

Masa depan generasi tetap suram jika ideologi yang digunakan bukan ideologi Islam. Dekadensi moral menjadi wabah paling menakutkan. Generasi menganut paham kebebasan, hawa nafsu yang lebih dominan. Kehidupan kelam menyertai mereka. Seks bebas, hura-hura, dan semau gue menjadi pedoman setia. Tragisnya, mereka tak tahu menahu tentang ajaran Islam yang agung dan mulia.

Seabad lalu, tepatnya 28 Rajab 1342 Hijriyah, Mustafa Kemal At Turk berhasil meruntuhkan Khilafah Islamiyah. Dia sebagai antek Inggris berhasil menceraikan Khilafah dari kehidupan ummat manusia. Kejahatannya membuat negeri-negeri muslim tercabik dan terkoyak dalam sekat nasionalisme tanpa ada pelindung.

Sejak saat itu, malapetaka bermunculan bak air bah melanda. Kaum muslim menderita berkepanjangan tanpa ada penawarnya. Sementara, negara kafir penjajah berpesta pora menikmati kekuasaan dari negeri muslim yang kian sengsara. Kaum kafir Barat berambisi melenyapkan Islam dan ajarannya.

Tak heran jika war on idea terus dilancarkan demi mengukuh hegomoni kekuasaan. Radikalisme, terorisme, dan ekstremisme dijadikan mantra ampuh untuk menyurutkan perjuangan. Kaum muslim dijadikan phobi terhadap Islam. Mereka akan menahan arus perjuangan Islam.

Sistem kapitalisme menceraiberaikan ukhuwah Islamiyah. Sikap indivualis menjadi ciri muslim saat ini, bahkan sangat mudah saling melempar tuduhan di antara sesama muslim. Selain itu, kapitalisme menjadikan parameter bahagia hanya dalam konteks banyaknya kekayaan. Sehingga, kaum muslim tersibukkan oleh menumpuk harta benda yang melenakan. Sementara negara tak boleh menanggung beban kebutuhan pokok rakyat agar tak mengalami kerugian. Kekayaan alam bebas dieksploitasi dengan kamuflase kebijakan.

Ekonomi kapitalis berputar dengan sadis. Kekayaan alam dikeruk tampa ampun. Intervensi kebijakan dilakukan dengan cara negosiasi ataupun investasi. Selain itu, suntikan utang ribawi berhasil melumpuhkan kedaulatan negeri muslim yang kaya akan sumber daya alam.

Sebagaimana halnya pendidikan yang bertumpu pada teori dan pencapaian akademik semata, kapitalisme menggiring peserta didik pada kubangan sekularisme. Belum lagi soal biaya yang tak murah, hanya sebagian orang saja yang bisa merasakan pendidikan yang memadai.

Kesehatan tak jauh beda. Fasilitas yang bagus hanya bisa dirasakan segelintir orang saja. Pasalnya, masyarakat takut sakit karena terkendala tingginya biaya. Sementara negara berlepas tangan tanpa rasa dosa.

Dalam pemerintahan, demokrasi menjadi candu yang memabukkan. Suara mayoritas menjadi kunci meraih kekuasaan, apa pun caranya.  

Pemimpinnya menjadi pemimpin sufaha’ seperti yang disampaikan Rasulullah Saw bersabda:

“Pemimpin sufaha' yaitu para pemimpin sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku.” (HR Ahmad)

Kaum muslim harus mengakhiri malapetaka yang menimpa ummat manusia. Sejarah peradaban Islam yang gemilang terukir dengan tinta emas. Dimana kesejahteraan, kemuliaan, dan keberkahan menaungi kehidupan. Selama 13 abad lebih, syariat Islam diterapkan dalam setiap lini kehidupan. Suasana keimanan terjaga, urusan rakyat terpelihara. 

Begitu penting hakikat sebuah khilafah. Jelas, karena khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam di dunia. Kholifah bertugas meri’ayah atau memelihara berbagai urusan umat, sekaligus menjadi junnah atau perisai kapan pun dan bagaimana pun kondisinya. 

Kholifah akan memenuhi segala kebutuhan pokok individu, yakni pangan, sandang, dan papan dengan mekanisme langsung dan tak langsung. Mekanisme langsung tatkala dalam satu keluarga miskin tak ada kaum lelaki yang mampu memenuhi nafkah keluarga, maka kholifah akan memenuhi kebutuhannya dengan mengambilkan dari pos pengeluaran di baitul mal.

Adapun mekanisme tak langsung, kholifah akan menelusuri siapa di antara kaum lelaki di keluarga tersebut yang mampu menanggung nafkah, namun dia pengangguran. Maka, kholifah akan memotivasi dan mengedukasinya untuk bekerja. Kholifah akan membantu modal untuknya agar tak lagi menganggur.

Ekonomi Islam tak akan bertumpu pada pajak dan utang karena kekayaan alam yang menjadi hajat hidup rakyat akan dikelola negara. Kholifah akan mendistribusikan hasilnya kepada rakyat. Apakah berupa pendidikan, kesehatan, keamanan, ataupun sarana umum lainnya.

Politik luar negeri Khilafah akan dilaksanakan dengan dua metode, yakni dakwah dan jihad. Haram hukumnya ekspansi dengan jihad tanpa dakwah terlebih dahulu. Kholifah akan mengirim duta-duta untuk melakukan dakwah Islam sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw saat mendirikan Daulah Islam di Madinah. Perang dilakukan hanya karena Allah, yakni menegakkan kalimat Allah.

Pelecehan, penganiayaan, penindasan dan penistaan pada kaum muslim dan ajaran Islam akan ditindak tegas, bahkan diperangi oleh pasukan Islam. Sebagaimana Rasulullah mengusir Yahudi Bani Qoinuqo dari Madinah karena pelecehan terhadap seorang muslimah. Sebagaimana halnya, Mu'tashim Billah yang juga mengirim pasukan demi membela kehormatan seorang perempuan. Maka, jelas Khilafah Islamiyah menjaga nyawa manusia.

Sungguh, perjuangan Islam tak akan pernah berhasil dipadamkan oleh musuh-musuh Allah. Pejuang yang ikhlash tak akan surut oleh gertakan, persekusi, kriminalisasi, atau bahkan eksekusi mati. Saatnya, Khilafah Islamiyah kembali menaungi dunia agar keberkahan dari langit dan bumi datang tiada hentinya.

Wallahu a'lam bishawab

Posting Komentar untuk "Malapetaka Kehidupan Tanpa Khilafah"