Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asian Hate, Bukti Bobroknya Sistem Demokrasi




Oleh : Emmy Emmalya (Pegiat Literasi)

Asian Hate atau kebencian terhadap ras Asia dan keturunannya di Amerika Serikat meningkat tajam. Hal ini terjadi sejak virus corona menjadi pandemi di dunia awal 2020. (CNBCIndonesia, 23/03/21).

Hal ini diduga berawal dari pernyataan presiden Donal Trump yang berkuasa saat itu, yang menyebutkan bahwa virus Covid-19 sebagai virus China. Sejak itu rasisme terhadap orang Asia semakin meningkat.

Masih dari sumber yang sama yaitu CNBN Indonesia (23/03/21), menyebutkan bahwa Data Stop AAPI Hate yaitu organisasi yang melacak insiden kebencian dan diskriminasi terhadap orang Asia-Amerika dan Kepulauan Pasifik, telah mencatat setidaknya ada 500 insiden dalam dua bulan pertama tahun ini. 

Maka, jika dilihat setahun terakhir, tentu angkanya lebih besar lagi yaitu mencapai 3.795 keluhan. Sebagian laporan mencatat 68% merupakan pelecehan verbal. Sementara 11% melibatkan serangan fisik. (CNBNIndonesia, 30/03/21).

Dari sini tergambar jelas bahwa AS sebagai gembong negara demokasi yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, pada nyatanya nol besar bahkan presidennya sendiri menyerukan rasis kepada warga negaranya. 

Jargon-jargon yang selama ini selalu digaungkan oleh negara pengemban ideologi kapitalisme demokrasi itu ternyata mempertontonkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. 

Adalah hal yang tidak beralasan hanya karena kesalahan dari satu negara yaitu China yang menjadi asal muasal timbulnya virus Corona menyebabkan semua ras Asia terkena imbasnya. 

AS yang dikenal sebagai negara adidaya dan dijadikan sebagai kiblat negara-negara berkembang ternyata memiliki pola pikir yang tak rasional.

Menjadikan semua ras Asia menjadi pihak tertuduh dalam hal penyebaran virus adalah cara berpikir yang naif. 

Sejatinya inilah bukti bahwa sistem kapitalis yang saat ini tengah diterapkan dan AS sebagai pengembannya telah gagal mengatasi pandemi Covid-19. 

Sejatinya, inilah bentuk ketidak berdayaan AS dalam mengatasi pandemi lalu mencari kambing hitam sebagai tumbal dari semua kegagalan ini. 

Dari sisi lain, AS begitu lantang berkoar-koar tentang hak asasi manusia, padahal dialah yang banyak melakukan penindasan dan pembantaian diberbagai belahan dunia dengan dalih menjaga keamanan internasional. 

Lalu masih percayakah kita dengan jargon-jargon HAM yang diteriakkan oleh Amerika ? Padahal nyatanya mereka sendiri yang telah mencederai nilai-nilai demokrasi yang mereka bangga-banggakan. 

Bukan hanya terkait rasis, AS pun kerap kali merendahkan keyakinan agama lain contohnya terhadap agama Islam dan selalu memusuhi umatnya dengan melekatkan cap teroris dan radikal padahal hingga hari ini hal itu tidak pernah terbukti. 

Banyak sandiwara yang dipertontonkan AS pada dunia saat ini. Terutama sandiwara terhadap umat Islam yang hingga hari ini tidak bisa terkuak kebenarannya karena dijaga kerahasiannya oleh sistem yang berkuasa. 

Permasalahan rasisme merupakan bukti nyata ketidakmampuan sistem kapitalis dalam menjaga kerukunan antar umat manusia yang sejak lahir di dunia ini sudah dalam keadaan yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. 

Hanya Islam Yang Mengakui Keberagaman

Islam merupakan agama satu-satunya yang mengakui keberagamaan manusia baik secara warna kulit, bahasa, juga status ekonomi. 

Islam juga tidak pernah memandang manusia dari posisi manusia itu di masyarakat karena Allah telah menciptakan manusia dalam berbagai jenis suku, kelamin, warna kulit dan bahasa. Karena perbedaan itu adalah realita umat manusia. 

Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al-Hujarat ayat 13 yang artinya :

“Hai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal.

Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sungguh Allah Mahatahu lagi Maha Mengenal.”

Ajaran Islam bahkan mengharamkan membanggakan suku bangsa dan keturunan.

Sebagaimana kisah Ubay bin Kaab ra yang pernah mendengar seorang pria berkata :

“Hai keluarga fulan!” Ubay lalu berkata kepada dia, “Gigitlah kemaluan bapakmu!” Ubay mencela dia terang-terangan tanpa memakai bahasa kiasan! Orang itu berkata kepada Ubay, “Wahai Abul Mundzir (Abu Ubay), engkau bukanlah orang yang suka berkata keji.”Ubay berkata kepada dia, "Sungguh aku mendengar Rasulullah saw Bersabda :

“Siapa saja yang berbangga-bangga dengan slogan-slogan jahiliah, suruhlah ia menggigit kemaluan ayahnya dan tidak usah pakai bahasa kiasan terhadap dirinya.” (HR. Ahmad). 

(https://www.alislamu.com/1192/larangan-slogan-jahiliyah/).

Begitulah Islam dalam memperlakukan sesama manusia. Islam tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap ras atau suku tertentu. Karena letak kemuliaan manusia ada pada ketakwaannya kepada sang pencipta alam semesta yaitu Allah Swt.

Selain itu, Islam juga merupakan sistem kehidupan yang mampu menjaga kebersamaan dan keadilan bagi semua umat manusia.

Secara pemikiran maupun metode, seluruh hukum Islam memberikan jaminan perlindungan bagi semua umat manusia baik sosial, ras, bahkan hingga lintas agama.

Dalam Islam tidak ada tempat bagi pengusung ide primordialisme dan chauvinisme, yang selalu merendahkan bangsa lain dan merasa rasnya lebih mulia.

Justru dengan adanya berbagai suku bangsa, bahasa dan status sosial itu akan mendorong manusia untuk saling tolong menolong dan saling melengkapi. Wallahu’alam bishowab. []

Posting Komentar untuk "Asian Hate, Bukti Bobroknya Sistem Demokrasi"