Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Multaqo Syawal Ulama Aswaja Pesisir Selatan, Persoalan Palestina Persoalan Umat Islam



Pacitan, Visi Muslim-   “Para ulama bagaikan bintang-bintang di langit. Menjadi petunjuk arah bagi nelayan yang hendak pulang di tengah gelapnya lautan. Begitu pula peran ulama di jaman kegelapan yang penuh fitnah saat ini.”

Demikian disampaikan Kyai Azis Sholahudin, pengasuh MT Islam Kaffah-Tulungagung dalam Multaqo Ulama Aswaja Pesisir Selatan yang digelar secara online di saluran Dakwah Kita.

Tak kurang dari 10 orang alim ulama menyampaikan pandangannya dalam acara bertajuk “Kiprah Ulama Aswaja Selamatkan Negeri, Selamatkan Bangsa dari Kekejian Miras, Saatnya Islam Gantikan Kapitalisme, Demokrasi-Sekulerisme, dan Komunisme!” ini.

Pertemuan yang digelar Sabtu (27/5/2021) malam tersebut, selain untuk silaturahmi halal bi halal antara ulama Aswaja Pesisir Selatan, juga berangkat dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan umat Islam, mulai dari persoalan Palestina hingga legalisasi minuman keras oleh pemerintah di negeri dengan penduduk mayoritas muslim ini.

Persoalan Palestina adalah persoalan umat Islam. Ibarat tubuh jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka semuanya ikut merasakan.

Sebagaimana kita saksikan, Yahudi Zionis telah melakukan tindakan biadab terhadap umat Islam yang sedang i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan yang lalu. Tentara Yahudi Zionis memaksa masuk ke Masjid Al Aqsha yang penuh dengan jamaah, mereka menembaki umat Islam yang ada di masjid. Puluhan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka akibat ulah biadab tentara Yahudi.


Kontan ulah Yahudi ini mendapat kecaman dari dunia internasional, termasuk umat Islam di negeri ini. Di beberapa ibu kota propinsi umat Islam melakukan aksi damai menentang kebiadaban Yahudi.

Para perwakilan aksi damai mendatangi anggota dewan untuk menyampaikan aspirasinya agar pemerintah lebih tegas dalam menyikapi kebiadaban Yahudi ini. Selain itu, para peserta aksi juga menyerukan pemerintah Indonesia harus berperan aktif dalam kemerdekaan Palestina.

Umat Islam itu bersaudara, maka penderitaan yang dialami saudara muslim dimanapun menjadi tanggung jawab muslim lainnya, dimanapun mereka berada.

Maka wajar, jika ada pernyataan seorang tokoh yang menyatakan bahwa urusan Palestina bukan urusan kita (bangsa Indonesia), langsung mendapat respon perlawanan dari umat Islam. Nampaknya sang tokoh tidak paham bahwa pertama kali yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan menyumbang Indonesia adalah Palestina.

Selain persoalan solidaritas Palestina, para Ulama juga mensikapi upaya legalisasi miras, yang tidak kalah serunya mendapat penolakan keras, tak hanya dari kalangan muslim, tetapi juga non muslim.

Ustad Muslih, dari MT Ilman Nafi’an, Pacitan, menilai penolakan tersebut adalah wajar karena dampak buruk yang diakibatkan konsumsi minuman keras. Rasulullah sendiri mengatakan bahwa minuman keras adalah induknya kejahatan.

Menurut KH. dr. M Ali Syafiuddin, pangkal persoalan yang utama dari merajalelanya kemiskinan, kriminalitas, carut-marutnya pendidikan, kesehatan, hingga penjajahan asing dengan kedok investasi, adalah diterapkannya sistem sekulerisme oleh negara dan ditinggalkannya syariah. Begitu pula dengan munculnya upaya legalisasi miras ini.

Selanjutnya, dalam paparan Kyai DR Fahrul Ulum dikatakan, salah satu tujuan syariah adalah menjaga akal agar sehat, produktif, dan berkembang. Legalisasi miras dengan kedok investasi hanya berdasarkan nafsu dengan akidah sekuler liberal yang tidak peduli pada urusan akhirat.


Oleh sebab itu, dakwah kepada penguasa penting untuk dilakukan meskipun dengan konsekuensi yang berat, mengingat kebijakan zalim penguasa berdampak luas pada kehidupan masyarakat. Dakwah untuk menerapkan syariah Islam harus dilakukan oleh kaum muslimin, terutama para ulama, dengan metode dan tahapan yang telah dicontohkan Rasulullah, tanpa kekerasan, dengan jalan pemikiran, dan politik. Mendakwahi umat dan penguasa adalah bentuk kepedulian terhadap nasib bangsa dan negeri berpenduduk mayoritas muslim ini agar mendapat keberkahan dan ridho dari Allah subhanahu wa taala.

Secara berturut-turut, pernyataan ulama didului pembukaan oleh Ust Mufid (MT Ilman Nafian, Pacitan), dilanjutkan KH. dr. M. Ali Syafiudin (MT Matahati, Tulungagung), Ust. Abu Izza (MT Ilman Nafian, Pacitan), Kyai Azis Sholahuddin (MT Islam Kaffah, Tulungagung), Kyai Sahal (MT Al Muttaqin, Tulungagung), Kyai Imam Mahmudi (MT. Kajian Subuh Ahad Pagi, Tulungagung), Ust. Said (MT Salam Mahabah, Tulungagung), KH. Abah Imron (MT Al Hikmah, Blitar), Ust Muslih (MT Ilman Nafi’an, Pacitan), Kyai DR. Fahrul Ulum, MEI (MT Al Kayyis, Trenggalek), dan Kyai Syamsul Huda, SAg (MT Khoiru Ummah, Blitar).

Selanjutnya, pernyataan sikap Ulama Aswaja Pesisir Selatan dibacakan Kyai Muhammad Azzam (MT Khoiru Ummah, Trenggalek), dengan inti seruan menolak investasi asing sebagai jalan penjajahan gaya baru; menolak investasi miras; kewajiban pemimpin muslim untukm menjagapersatuan dan larangan memecah-belah umat; penolakan terhadap persekusi dan kriminalisasi ulama; mencabut dasar hukum pelegalan miras; serta menyerukan pada umat, terutama alim ulama, untuk berdakwah agar syariah bisa diterapkan dalam kehidupan.

Di bagian akhir, acara Multaqo Ulama Aswaja Pesisir Selatan ini ditutup dengan pembacaan doa, yang dibawakan oleh KH Muhajir, pengasuh MT Al Hikmah, Blitar. []

Posting Komentar untuk "Multaqo Syawal Ulama Aswaja Pesisir Selatan, Persoalan Palestina Persoalan Umat Islam"