Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Singkat Pahlawan Nasional Indonesia, Tuanku Imam Bonjol

 




Oleh: Abdul Jabbar Van de Ven

Siapapun yang pernah ke Indonesia pasti pernah melihat potretnya di atas uang kertas 5000 rupiah: Imaam Bonjol, salah satu pahlawan nasional Indonesia.

Siapa pria ini?

Ia lahir pada tahun 1772 di desa Bonjol di Sumatera Barat. Sebagai seorang pemuda ia menempuh pendidikan Islam pertama dari ayahnya, kemudian dari berbagai syekh di daerahnya.

Ketika dia tumbuh dewasa, dia melihat masyarakat disekitarnya setiap hari berurusan dengan dosa besar seperti mengkonsumsi opium, alkohol, dan perjudian. Dia juga melihat mereka tenggelam dalam bid'ah dan segala macam kebiasaan yang bertentangan dengan Syariah. Oleh karena itu, pada tahun 1803, beberapa pengkhotbah Muslim, termasuk Imam Bonjol, mulai secara terbuka menasihati yang baik dan melarang yang buruk. Mereka disebut Padri.

Segera Kaum Padri ditentang keras oleh para pemimpin lokal, menyebabkan perjuangan bersenjata. Padri Muslim kemudian mengambil alih kerajaan Pagaruyung, dan penguasa lokal lainnya merasa terancam dan meminta bantuan Belanda. Selama tiga tahun kaum Muslimin berperang melawan Belanda, hingga Belanda harus mundur karena membutuhkan tentara untuk memadamkan pemberontakan besar di Jawa. Akan tetapi, setelah pemberontakan itu diredam dengan susah payah, Belanda kembali ke Sumatera untuk melawan kembali kaum Padri. Imam Bonjol kemudian berhasil ditawan, tetapi ia berhasil melarikan diri setelah 3 bulan dan melanjutkan perjuangannya. Kaum Padri mengalami beberapa kekalahan pada awalnya, namun pada akhirnya bisa bertahan cukup lama.

Salah satu alasan mereka bertahan begitu lama adalah kenyataan bahwa semakin banyak orang lokal mulai bergabung dengan Kaum Padri, bahkan banyak dari mantan musuh mereka! Ini karena mereka mulai melihat kekerasan dan korupsi yang kejam di Belanda, dan karena banyak dari mereka yang berpindah agama oleh dakwah Imam Bonjol dan Kaum Padri

Benteng terakhir Kaum Padri yakni, desa Bonjol, dikepung oleh Belanda tidak kurang dari tiga tahun sebelum Kaum Padri dikalahkan. Meskipun kaum Muslim telah kalah dalam pertempuran di medan militer, hasilnya positif: para pemimpin lokal mulai sejak saat itu lebih banyak bekerja sama dengan ulama Islam dan membentuk pakta yang disebut "adat basandi syara", atau tradisi berdasarkan syari'at. Dengan kata lain, mereka sepakat bahwa tidak ada salahnya mengungkapkan tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan syari'at.

Imam Bonjol kembali menjadi tawanan dan kali ini dibuang. Pertama ke Jawa Barat, lalu ke Ambon, dan terakhir ke Sulawesi, di mana ia akhirnya meninggal pada tahun 1864, di usia 92 (semoga Allah merahmati beliau).

Bisa dibilang mujahid ini adalah pahlawan nasional di Indonesia dan beberapa film cerita telah dirilis tentang kehidupannya. Namun sangat disayangkan pemerintah Indonesia dan masyarakatnya sendiri seringkali tidak mempraktekkan apa yang didakwahkan oleh pahlawan ini.

Mungkin film baru diperlukan untuk sekali lagi membawa pahlawan ini ke perhatian masyarakat umum.

-------------------------------------------------- -

CatatanSaya sudah memposting artikel ini beberapa kali sebelumnya, terakhir kali pada 1 Juni 2020. 

Posting Komentar untuk "Sejarah Singkat Pahlawan Nasional Indonesia, Tuanku Imam Bonjol"