Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Multaqa Ulama Aswaja Madura: Kebiadaban Israel di Gaza Bukti Kegagalan Demokrasi dan Nasionalisme



Madura, Visi Muslim-  Sabtu, 5 Juni 2021, menjelang pukul 20.00 tim hadrah melantunkan nasyid-nasyid islami menyambut kedatangan para peserta multaqo. Bertempat di Majlis Dzikir wal Irsyad “Bumi Shalawat Wal Irsyad”, Multaqo Ulama Ahlussunnah Waljamaah Madura dihelat. Sekitar 150 peserta dari kalangan ulama, habaib, pengasuh majlis taklim, dosen, tokoh masyarakat dan para santri menyemarakkan agenda multaqo ini. Sebagai shahibul multaqa, adalah Kyai Lukman Haris sekaligus pembina MDI Bumi Shalawat.

Acara dibuka oleh Ustadz Sofyan sebagai rois multaqo. Sebelum dibuka dengan membaca Alfatihah bersama, diingatkan agar para peserta yang hadir tetap memperhatikan protokol kesehatan. Mengingat suasana hari ini masih dalam masa pandemi Covid 19.

Setelah pembacaan ayat-ayat suci Alquran oleh Ustadz Salman Al-Farisi, acara dilanjutkan dengan Kalimah Iftitah. Kyai Luqman Haris menyapa para hadirin dengan ucapan terima kasih dan ihtiram yang mendalam. Tidak lupa beliau juga menyematkan pengharapan untuk semua hadirin, bahwa agenda multaqo semakin mengokohkan kebersamaan, menguatkan spirit perjuangan Islam, yakni li-i’laikalimatillah. Dan untuk tujuan besar ini, kita layak berada dalam barisan.

Kalimah minal Ulama menjadi sesi berikutnya. Al-Habib Mudrik Al-Kaaf dari Majlis Rotibul Haddad mengawalinya dengan deskripsi makna taat kepada Allah. “Kehidupan di dunia berada dalam pengaturan Allah. Tidak ada hak bagi manusia mengatur urusan hidup sesuai kehendaknya sendiri. Celaka ketika hidup tidak berhukum dengan Syariat Allah.”

Ustadz Jakfar Faruq, melanjutkan kalimah berikutnya. Sebagai seorang pengacara dan mewakili Komite Solidaritas Masyarakat Sumenep untuk Palestina, kobaran semangat merupakan sebagian karakter kalimatnya. Ustadz Jakfar menyusulkan tiga kali takbir seusai mengucap salam pembuka. Sejarah peradaban menjadi bagian utama testimoninya, “Baik liberalisme, komunisme, sekularisme dan isme lain-lainnya gagal menyejahterakan umat manusia. Negara-negara yang merasa tangguh itu tidak pernah berhasil mengeluarkan manusia dari kesengsaraan. Bertolak belakang dengan peradaban agung yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.”

Kalimah minal ulama berikutnya disampaikan oleh Kyai Nuruddin, pengasuh MT Ar-Royyan. Kyai Nuruddin mengingatkan bahwa hidup ini untuk menjalani taat kepada Sang Pencipta. “Di saat ini kita bisa memikirkan keadaan dunia yang terjadi banyak keganjilan,” kata Beliau dalam bahasa Madura. “Itu karena manusia meninggalkan aturan dari Pencipta langit dan bumi.” Oleh karenanya, diperlukan kerja bersama untuk mengembalikan Syariat Allah untuk mengatur kehidupan kita.

Kalimah minal ulama selanjutnya disampaikan oleh Ustadz Fajar Hidayatullah, pembina Majlis Taklim Taqarrub Ilallah. Narasi sejarah pendudukan Israel atas tanah Palestina disajikan untuk meluruskan fakta imperialisme. “Jangan sampai salah membaca persoalan Palestina, karena akan salah pula tindakan penyelesajannya. Persoalan Palestina merupakan perkara wala’, kesetiaan kaum Muslimin sedunia atas nasib buruk yang menimpa saudara Muslimnya,” demikian yang diungkapkan Ustadz Fajar.

“Berlarutnya persoalan Palestina karena umat Islam menyerahkan penyelesaiannya kepada PBB, sementara Israel bergerak dalam pengayoman PBB. Padahal perintah Islam mewasiatkan, loyalitas itu hanya diberikan kepada Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin.”

Kalimah minal Ulama yang terakhir dibacakan oleh Abah Daniji. Mantan anggota kepolisian sebagai Kepala Sabhara ini membacakan seruan ulama untuk pembelaan Palestina. Fakta tertindasnya umat Islam Palestina seharusnya menumbuhkan kesadaran dunia Islam tentang kebiadaban dan penjajahan atas saudara-saudara dan negeri-negerinya. Kewajiban membela saudaranya atas dasar aqidah telah memastikan vitalnya tegaknya kembali institusi Khilafah.

Abah Danniji sekaligus menutup rangkaian Kalimat minal Ulama dengan memandu doa bersama. Selanjutnya serahterima hasil pengumpulan dana peduli Palestina diserahkan oleh panitia kepada Ustadz Jakfar Faruq. [] ir

Posting Komentar untuk "Multaqa Ulama Aswaja Madura: Kebiadaban Israel di Gaza Bukti Kegagalan Demokrasi dan Nasionalisme"