Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Utang : Bikin Buntung Bukan Untung




Oleh : Rakhmawati Aulia (Founder Komunitas Ibu Belajar Palangkaraya)

Lagi dan lagi Indonesia kembali berhutang meski saat ini berada dalam kondisi yang begitu sangat kritis akibat wabah yang menimpa negeri.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menjelaskan alasan dibalik keputusan pemerintah terus menambah utang di tengah pandemi Covid-19. Karena pandemi Covid-19 sebagai tantangan yang luar biasa dan harus dihadapi. Tidak hanya mengancam manusia, namun juga mampu merusak perekonomian suatu negara. (Minggu, 25/7/2021, Sindonews.com)

Dikutip dari CNN Indonesia, Beliau juga mengatakan bahwa utang merupakan salah satu instrumen untuk menyelamatkan masyarakat dan perekonomian di masa pandemi covid-19. 

"Kenapa kita harus menambah utang, seolah-olah menambah utang menjadi tujuan. Padahal, dia (utang) adalah merupakan instrumen whatever it takes, untuk menyelamatkan warga negara dan perekonomian kita," ujarnya dalam acara Bedah Buku Mengarungi Badai Pandemi, Sabtu (24/7).

Tak berlebihan sebenarnya jika publik mempertanyakan utang yang semakin bertambah dan publik merasa khawatir atas utang yang mencapai 6 juta triliyun tersebut mengalami gagal bayar utang di masa depan. Tentu akan memiliki efek yang sangat besar untuk generasi sebagai penanggung utang warisan dan parahnya lagi akan berefek pada ketidak mampuan menjadi negara yang mandiri.

Bagaimanapun jika kita telaah alasan menteri keuangan berhutang untuk menyelamatkan rakyat, sangat tidak sejalan dengan kebijakan keuangan yang obral insentif untuk BUMN sebesar 72 Triliyun dan melakukan investasi. Padahal ada jutaan rakyat yang terganggu kesehatannya, menanggung kelaparan dan mengalami kesulitan perekonomian di masa pandemi.

Wajar akhirnya publik berpendapat bahwa pemerintah menggunakan masa pandemi untuk memperbanyak utang bukan untuk menyelamatkan atau menguntungkan rakyat namun untuk menyelamatkan ekonomi para pemilik modal.

Kesalahan kebijakan penambahan utang maupun kesalahan prioritas alokasi anggaran yang dilakukan pemerintah tidak terlepas karena Negara ini menggunakan basis ekonomi kapitalisme.

Ekonomi kapitalisme menjadikan sumber pemasukan utama melalui pajak dan utang dan seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa utang hanya akan membuat buntung bukan untung. Karena utang akan membuat sebuah negara terikat dengan si pemberi utang, bahkan bisa membuat negara pada posisi yang lemah.

Selain itu, risiko jangka panjang menumpuknya utang juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebab, tekanan utang bisa mengorbankan kesejahteraan dan perlindungan sosial terhadap rakyat.

Realita ini menunjukkan bahwa selama masih menggunakan sistem kapitalisme dalam pengurusan terhadap kehidupan tentu tak akan mampu membawa pada kejahteraan, keamananan di tengah-tengah kehidupan.

Hanya sebuah sistem yang berasal dari sang Pencipta sebagai pembuat hukum tertinggi saja lah yang akan mampu membawa kehidupan ini kepada kesejahteraan. Wa'allahu 'alam. 

Posting Komentar untuk "Utang : Bikin Buntung Bukan Untung"