Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Amerika Serikat Secara Konsisten Memanaskan 'Perang' Di Asia Pasifik!



Oleh: Umar Syarifudin (Pengamat politik Internasional)


Menteri Pertahanan Lloyd Austin bertemu dengan sekutu-sekutu AS di Singapura sebagai pejabat tinggi pemerintahan Biden pertama yang mengunjungi Asia Tenggara. Austin menyampaikan visi AS tentang “pencegahan terintegrasi” bagi kawasan itu, sebuah rencana untuk meningkatkan kemampuan militer negara-negara sekutu dan AS termasuk bekerja sama untuk mencegah langkah yang dipandang banyak kalangan sebagai perilaku intimidasi China. (voaindonesia.com, 27/7/2021)

Situasi politik berlangsung dinamis. China kini mengalami perkembangan cepat kemajuan kekuatan militer dan ambisi untuk menjadi adidaya, hal tersebut telah memicu alarm peringatan bagi Amerika. China memanfaatkan kekuatan angkatan udara dan angkatan lautnya untuk unjuk kekuatan Amerika dan sekutunya di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Yang dilakukan Amerika Serikat saat ini adalah menurunkan kemampuan China dalam memainkan peran lebih besar di dalam urusan-urusan sekitar kawasan dan global.  Amerika bekerja memanfaatkan seluruh sekutunya yang mengelilingi wilayah China untuk bersiaga dan mematahkan semangat China. Amerika juga berusaha agar pemerintahan China terus disibukkan oleh berbagai persoalan dalam negeri dan luar negeri yang terjadi di sekitar China.  

Ketegangan dengan China jelas diinginkan Amerika ketika Cina menolak keinginan Amerika. Amerika ingin menarik Cina ke medan Perang dengan India, dengan negara - negara Asia Tenggara, termasuk jepang dan Korea. Kemudian Amerika hendak memukul Cina dengan dukungan sekutu dan antek-anteknya. Alasannya, karena Cina telah mengancam keamanan kawasan dan regional. Amerika telah memobilisasi negara-negara Asia untuk mengepung Cina. Ini tentu saja bukan permasalahan Indonesia. 

Karena itu, Indonesia wajib tidak berdiri di sisi Amerika ataupun Cina, betapapun upaya Amerika atau Cina untuk menarik Indonesia di sisi masing-masing di antara keduanya. Sebab, berada di sisi Cina ataupun Amerika tidak akan memberikan manfaat bagi Indonesia, baik sekarang ataupun pada masa depan. Indonesia yang merupakan negeri kaum Muslim terbesar di dunia harus menjadi kekuatan yang mandiri, memiliki kehendak yang independen, dan Indonesia memiliki potensi untuk itu.

Dalam konteks ketegangan di Asia Pasifik umat Islam belum tampil sebagai negara yang menggertak kapitalis barat dan kapitalis timur. Mengapa? Karena faktor ideologi dan ambisi politik. Dunia muslim termasuk di Asia Tenggara tidak mungkin menjadi negara yang kuat dan mandiri kecuali jika bersandar kepada umatnya dalam akidah dan sistemnya, yaitu akidah Islam dan sistem yang terpancar darinya. 

Indonesia harus menjadi sebuah negara yang bangkit yang berjalan menurut manhaj Kenabian. Kemuliaan bukanlah di sisi Amerika atau Cina. Kemuliaan itu hanya ada di tangan Allah SWT:

وَلِلَّـهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَـٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui. (QS. Al-Munafiqun [63]:8)

Pada tataran ini umat harus membangun kekuatan politik global umat Islam? Pertama, umat harus bersatu, bangkit secara ideologis, Islam membangkitkan manusia dengan menyebarluaskan Islam kepada umat manusia, dan bukan dimaksudkan untuk membasmi atau menghancurkan manusia. Islam adalah risalah dari Allah swt yang diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.

Kedua, Allah swt memerintahkan kita untuk mempersiapkan kekuatan maksimal yang kita miliki untuk menggentarkan orang-orang yang memusuhi kita; jadi, apabila musuh memiliki senjata nuklir, maka mereka tidak akan merasa gentar berhadapan dengan Negara Islam, kecuali bila Negara Islam memiliki senjata nuklir pula. Menggentarkan musuh berarti membuat mereka takut hingga tidak berani menyerang Negara Islam, atau dalam istilah sekarang dikenal sebagai “mutual deterrence”. Musuh tidak akan takut menyerang kaum Muslim, kecuali jika kaum Muslim memiliki senjata yang lebih kuat, atau paling tidak sama, dengan senjata yang mereka miliki. Bila musuh memiliki senjata nuklir, maka kaum Muslim juga harus memilikinya.

Ketiga, Islam melarang umat Islam menandatangani perjanjian yang merugikan dan membuka jalan penjajahan. 

Keempat, Umat Islam harus mengakhiri hegemoni Barat, termasuk eksploitasi, pendudukan dan penghancuran dilakukan oleh rezim ateis China maupun rezim AS dan sekutunya. Umat Islam harus bergantung pada kekuatan dan sumber daya sendiri dan membebaskan semua wilayah Muslim yang diduduki termasuk wilayah Islam termasuk Xinjiang, dan harus memaksa China untuk menghentikan penganiayaan yang dilakukannya kepada umat Islam. 

Posting Komentar untuk "Amerika Serikat Secara Konsisten Memanaskan 'Perang' Di Asia Pasifik!"