Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Bawah Hegemoni Kapitalis



Oleh: Yuli Sarwanto (Direktur FAKKTA)


Capaian yang dihasilkan oleh sistem ekonomi kapitalistik tampak pada penjelasan O. Henry dalam Supply and Demand, “….bencana melanda bumi dengan penumpukan kekayaan demikian cepat, namun tidak memberikan timbal balik apapun ….”  Produksi, yang dianggap oleh kapitalis sebagai inti permasalahan ekonomi, meningkat cukup signifikan. Namun, di sisi lain, kesenjangan ekonomi dan mandegnya distribusi barang dan jasa merupakan problem yang belum bisa dipecahkan oleh sistem ekonomi kapitalis. Munculnya konglomerasi serta perusahaan-perusahaan individu yang menguasai aset-aset publik, semakin memperlebar jurang kemiskinan antara yang kaya dan miskin. Kekayaan terus tersedot ke arah negara-negara kapitalis raksasa dan para pemilik modal.

Menjelang akhir tahun 1988, asimetri distribusi pendapatan seluruh dunia mengakibatkan 75% dari 5,1 miliar penduduk dunia hanya bisa menikmati 15% dari seluruh pendapat dunia, untuk kemudian dibagi-bagikan di antara negara-negara berkembang. Sebaliknya, negara-negara industri Barat, yang penduduknya hanya 17% dari seluruh penduduk dunia, hidup dengan menikmati 66% pendapatan dunia. Eropa Timur dan USSR dengan penduduknya 8% dari penduduk dunia mendapat bagian 19% dari pendapatan dunia, yang besarnya mencapai 18,4 ribu miliar dolar AS. 25 Data sebelumnya menunjukkan, 26% penduduk negara-negara Blok Barat dan Blok Timur menguasai lebih dari 78% produksi, 81% penggunaan energi, 70% pupuk, dan 87% persenjataan dunia. Sebaliknya, 74% penduduk negara-negara berkembang (Afrika, Asia, dan Amerika Latin) hanya mendapat jatah sekitar 1/5 produksi dan kekayaan dunia. [Rudolf H. Sthram, Warum sie so arm sind,[Kemiskinan Dunia Ketiga], Rudi Bagindo, dkk, 1995, PT Pustaka CIDESINDO, Jakarta, hal.3]

Jurang antara negara kaya dan negara miskin semakin melebar. Pada tahun 1970-1980, GNP real di negara miskin rata-rata meningkat 17 dolar per penduduk, di negara pengekspor minyak 624 dolar, dan di negara industri 2.117 dolar. Ini berarti, jika pertumbuhan pada dasawarsa 1980-1990 sama dengan dasawarsa sebelumnya, rasio pendapatan penduduk di negara miskin dan negara kaya tahun 1990 menjadi 1 berbanding 52 (sebelumnya 1: 43).

Bank Dunia membandingkan statistik ekonomi dan sosial dari 185 negara dengan jangkauan dari 16 negara yang memiliki GNP sebesar 100 miliar dolar AS ke atas hingga 95 negara yang memiliki GNP di bawah 10 miliar dolar AS. Sebagai gambaran perbedaan antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju seperti AS,  Bhutan memiliki GNP perkapita sebesar 150 dolar AS dan harapan hidup rata-rata 46 tahun, sedangkan AS memiliki GNP sebesar 18.430 dolar AS dan harapan hidup rata-rata 75 tahun. Ini benar-benar terlalu besar bagi warganegara di kedua negara tersebut untuk memahami seperti apa hidup di negara lain.

Demikianlah, sistem kapitalistik telah melahirkan kesenjangan perekonomian yang semakin hari semakin melebar. Kecenderungan ini siap meledak menjadi revolusi yang sangat dahsyat. Bahkan, pakar Barat sendiri, Peter Drucker, menyatakan bahwa abad ke-20 akan menyuguhkan apa yang sebelumnya telah diramalkan oleh Mao dan Castro, yaitu perang antar kelas. Perang yang berlangsung pada saat ini adalah perang antar ras.

Richard Kean juga mengingatkan kepada dunia, “Bahaya besar dari jurang pemisah yang ada sekarang ini antara kaum kaya-miskin, Utara-Selatan, dan ras Kaukasoid-golongan kulit berwarna disebabkan oleh kesadaran yang dirasakan oleh kaum miskin bahwa mereka miskin.

Kepongahan teknologi Barat akan berubah menjadi pukulan maut bagi imperialisme. Dunia Barat telah menyebarkan berita-berita mengenai prestasi material mereka ke seluruh dunia. Kesadaran diri, dugaan-dugaan, dan perasaan ketidakadilan semakin tumbuh subur di negara-negara miskin. Tanpa usaha untuk mengatasi keadaan ini, pecahnya suatu revolusi semakin mengancam.”[Richard Kean, The Dialogue Community: the University in a Cybernetic Era, dalam edisi Robert Theobald, Dialogue on Technology (Boobs-Merrill, Indianapolis, 1967), hal.55; dikutip oleg E.J. Farell, Deciding the Future (National Council of Theachers of English, Urbana, Illionis, 1971)]

Kesenjangan dalam perolehan pendapatan dan kekayaan merupakan inti persoalan ekonomi dunia saat ini. Ia adalah isu ekonomi utama dari problematika dunia. Kenyataan di atas merupakan konsekuensi logis diterapkannya sistem ekonomi kapitalistik. Problem di atas tidak sekadar disebabkan karena adanya human error atau lemahnya norma dan etika para pelaku ekonominya, namun lebih banyak karena paradigma dasar sistem ekonomi kapitalisme itu sendiri. 

Posting Komentar untuk "Di Bawah Hegemoni Kapitalis"