Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kasus Pandemi Merebak, Konflik Horizontal Kian Marak





Oleh : Heny Era (Sahabat Visi Muslim Media)

Pandemi Covid-19 tak kunjung usai, sudah hampir dua tahun masyarakat harus hidup berdampingan dengan wabah. Selain berdampak pada ekomoni masyarakat ternyata wabah juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Sejumlah konflik horizontal di tengah masyarakat kian marak. Konflik terjadi antara anggota masyarakat, warga masyarakat, dan para tenaga kesehatan (nakes), serta petugas pemakaman korban Covid-19. 

Belum lama ini diberitakan, tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 BPBD Jember menjadi korban amukan warga saat mengirim jenazah ke Desa Jatisari, Kecamatan Pakusari, Jember. Mereka dihadang lalu dilempar dengan batu serta dipukul oleh sejumlah warga. (Kompas 24/07/21).

Selain itu juga viral video penganiayaan yang dialami Salamat Sianipar (45), warga Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. kejadian berawal saat korban dinyatakan positif Covid-19 kondisinya dianggap hanya memiliki gejala ringan, oleh pihak petugas kesehatan lalu diminta melakukan isolasi mandiri di rumah.

Namun aparat desa bersama warga tidak berkenan kemudian memaksa korban untuk melakukan isolasi mandiri di sebuah gubuk di dalam hutan yang lokasinya jauh dari desa, tapi korban tidak betah dan merasa depresi. Akhirnya korban pulang dengan harapan dapat melanjutkan isolasi mandiri di dalam rumahnya. Warga yang mengetahui hal itu geram. Lalu korban dianiaya secara membabi buta. (Kompas 24/07/21).

Kasus tragis di atas hanyalah sebagian kecil dari konflik yang kian marak di tengah pandemi. Berbagai tekanan yang dialami masyarakat mulai dari himpitan ekonomi kerap memicu stress bahkan depresi yang membuat emosi masyarakat mudah terpancing, apalagi dengan adanya berita duka yang hampir setiap hari berseliweran, anggapan bahwa korban Covid-19 akan berakhir dengan kematian membuat masyarakat panik sendiri, akhirnya masyarakat tak segan untuk mengusir bahkan mengasingkan korban. 

Bahkan yang lebih mirisnya mereka yang berada di garda terdepan seperti tenaga kesehatan yang menangani korban pun tak luput dari incaran masyarakat. Pasalnya berita tudingan para nakes mengambil keuntungan dengan membuat ladang bisnis dari pandemi Covid-19 sering kali lalu-lalang di media sosial, berita yang bertebaran membuat masyarakat bingung mana fakta dan hoaks, mereka yang termakan hoaks nakes mengambil keuntungan akan emosi dan tidak percaya dengan kinerja nakes lagi. 

Padahal, mereka para tenaga kesehatan juga korban dari lalainya tanggung jawab penguasa. Dedikasi mereka dengan rela masuk menghadapi zona berbahaya dengan konsekuensi ikut terpapar lebih besar dan bertaruh nyawa tanpa dibarengi dengan kelengkapan peralatan medis dan dukungan penuh. 

Kasus Meningkat Salah Siapa? 

Ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan yang sering ditemui juga salah satu sebab virus mudah menyebar, masyarakat abai terhadap rambu-rambu pengendalian wabah yang diberikan. Namun tentu saja tak hanya masyarakat yang disalahkan mengingat kondisi psikologis yang dialami masyarakat tak mudah. Sebelum adanya pandemi saja ekonomi sangat sulit, apalagi dengan situasi saat ini kehidupan masyarakat sudah mencapai krisis.

Selain itu banyaknya konflik juga bermuara minimnya edukasi yang diberikan pemerintah kepada publik menjadi penyebab konflik terus bertambah. Jika edukasi yang diberikan sampai pada lapisan masyarakat pelosok desa maka kejadian seperti ini tidak akan berulang, masyarakat tidak akan gegabah mengambil tindakan yang berujung konflik antar anggota masyarakat. 

Kasus Meningkat Dimana Peran Negara? 

Sistem kapitalis yang dianut negara tak mampu menjamin keselamatan rakyatnya, penerapan sistem kapitalis sangat menyengsarakan rakyat, sistem ini berpihak hanya pada para kapital saja sementara rakyat diacuhkan. 

Wajar saja muncul berbagai kebijakan yang diambil penguasa dengan menggunakan berbagai istilah tak kunjung membuat virus kapok untuk menghentikan penularannya. Hanya agar terlihat serius menangani wabah justru kebijakan dengan gonta ganti istilah tanpa memberikan solusi tepat malah memperburuk keadaan. Tentu saja hal ini memicu ketidak percayaan publik pada kebijakan yang diambil oleh negara (public distrust). 

Akhirnya mau tidak mau Herd immunity menjadi solusi, mereka yang kuat bisa bertahan melawan virus, dan sebaliknya yang tidak sanggup bertahan akan kalah melawan sakit.

 Hal ini sangat berbeda dengan islam. Dalam sejarah dibawah penerapan sistem Islam, kondisi sulit dikarenakan terdampak wabah atau paceklik juga pernah dialami umat Islam. Bahkan, umat Islam pernah ditimpa wabah Tha’un yang lebih mematikan.

Namun, dengan paradigma kepemimpinan yang tepat yaitu dengan pemberlakuan lockdown pada wilayah terkena wabah, wabah dapat dengan cepat teratasi, sehingga masyarakat pun bisa kembali hidup normal seperti sebelumnya. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi ditempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari) 

Pemimpin dalam islam akan bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan jiwa para rakyatnya. Karena tugas seorang pemimpin atau khilafah adalah pengurus rakyatnya, seperti sabda Rasulullah saw :

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari). 

Tanggung jawab negara dengan mencukupi berbagai fasilitas kesehatan, para tenaga kesehatan yang ahli dan edukasi di tengah masyarakat dengan tepat. Sehingga pandemi cepat teratasi tanpa menyebabkan konflik yang berkepanjangan.

Penguasa dalam Islam akan memastikan rakyatnya terpenuhi kesejahteraannya dan terjaga dari segala sesuatu yang membayakan. Wallahua’lam 

Posting Komentar untuk "Kasus Pandemi Merebak, Konflik Horizontal Kian Marak"