Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Program Tenaga Kerja Mandiri, Akankah Selamatkan Negeri?



Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)


Tiada bukan, tiada lain

mereka mencari cara tepat

untuk mendapatkan uang

oh...uang...

oh...lagi-lagi uang

(Pretty Sisters)

Lagu di atas benar adanya. Banyak orang yang sedang kebingungan untuk mendapatkan uang. Sejak pandemi datang, perekonomian ikut tumbang. Kelesuan daya beli ada di jurang yang dalam. Bantuan sosial yang dibagikan oleh negara tak mencakup seluruh rakyat yang kelaparan.

Berbagai program bantuan di sektor ekonomi digalakkan. Salah satu upaya di bidang usaha juga dijalankan demi mengurangi kelesuan ekonomi. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) memanfaatkan program Tenaga Kerja Mandiri (TKM) untuk menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat yang terdampak pandemi covid-19 (kompas.com, 30/8/2021).

"Kebijakan PPKM level 4 yang berakibat pada pelemahan perekonomian ditandai dengan penurunan daya beli yang akan berlanjut dengan kehilangan pendapatan, baik dari sektor swasta maupun UMKM," ujar Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta & PKK) Kemenaker Suhartono melalui keterangan tertulis, Senin (30/8/2021).

Program TKM tentu menjadi angin segar bagi pengusaha kalangan wong cilik. Selama penerapan PPKM, program TKM ini bertujuan untuk membantu para pengusaha mikro dan ultra mikro agar mampu bertahan di tengah penurunan ekonomi dan daya beli. Apa yang digagas dan direalisasikan Kemenaker diharapkan bisa memberikan lapangan pekerjaan, sehingga pelaku usaha mikro bisa bertahan di tengah hantaman badai ekonomi yang tak menentu. Apalagi, pandemi ini belum bisa dipastikan kapan berakhirnya, maka peluang jatuhnya ekonomi sangat mungkin terjadi.

Program Tenaga Kerja Mandiri yang digagas tak lantas mengurangi pengangguran secara signifikan. Kasus kelaparan juga kian muncul ke permukaan. Ketimpangan antara si kaya dan si miskin kian curam. Seakan pagelaran lomba bertahan hidup dipertontonkan.

Program Tenaga Kerja Mandiri berupa suntikan dana segar untuk modal bagaikan oase di gurun tandus. Namun, sepertinya program ini tak akan merata hingga pelosok. Pasalnya, negara ini mendekap erat sistem ekonomi kapitalisme. Dimana asas manfaat melenyapkan tanggung jawab dan peran negara atas rakyat. Kapitalisme memandang rakyat hanyalah beban yang dapat mendatangkan kerugian.

Bantuan segar secara bertahap ataupun langsung seringnya tak tepat sasaran. Terkadang program bantuan itu juga menjumpai data hantu, dimana namanya ada, sementara penerima tak ada wujudnya. Belum lagi kasus korupsi seperti yang lazim diketahui.

Sistem kapitalisme menjadikan negara sebagai regulator antara pemodal dan rakyat, yaitu regulator antara produsen dan konsumen. Sementara daya beli rakyat semakin loyo sejak dihantam pandemi. Merosotnya pemasukan dirasakan hampir semua rakyat golongan ekonomi menengah ke bawah. Adanya bantuan yang tak menuntaskan akar persoalan justru semakin menjauhkan rakyat dari kesejahteraan. Tenaga kerja mandiri seakan hanya slogan yang tak mampu selamatkan negeri.

Belum lagi rakyat harus berjibaku memenuhi kebutuhan hidup di tengah wabah melanda. Tak ada jaminan keselamatan atas rakyat dari kebijakan yang diterapkan. Keamanan dan keselamatan diri harus dijaga oleh individu tanpa adanya edukasi dan sosialisasi yang berkesinambungan.

Bertolak belakang dengan Islam, seorang individu rakyat menjadi tanggung jawab negara. Dia dijamin segala kebutuhan pokoknya, baik kebutuhan pokok individu, seperti pangan, sandang, papan, maupun kebutuhan pokok jama'i, seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Negara akan memberikan lapangan pekerjaan bagi laki-laki yang menjadi penanggung jawab nafkah keluarga.

Selain itu, keselamatan dan keamanan jiwa rakyat dijaga dan dijamin oleh negara. Kebijakan saat wabah melanda tidak dibuat asal, namun kebijakannya efektif dalam menyelesaikan persoalan. Sebutlah lockdown atau karantina bagi wilayah yang terdampak wabah. Kebinakan ini diikuti oleh pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu rakyat. Mobilitas rakyat terbatas hanya di wilayah yang tak terdampak wabah. Satu nyawa begitu berharga dalam pandangan Islam.

Maka bantuan yang diberikan negara yang menerapkan sistem Islam bukanlah bantuan ala kadarnya. Namun, bantuan komprehensif dan mampu menciptakan kesejahteraan. Sehingga, rakyat akan rela menerima kebijakan negara. Suasana keimanan juga tetap terjaga meski wabah melanda. Negara benar-benar menjaga aqliyah, nafsiyah, dan ruhiyah rakyatnya. Maka, saatnya kaum muslim memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam di dunia ini.


Wallahu a'lam bishowab 

Posting Komentar untuk "Program Tenaga Kerja Mandiri, Akankah Selamatkan Negeri?"