Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Membuat Kebijakan yang Tepat Presiden Lagi-lagi Melakukan Aksi yang Membahayakan Nyawa Rakyat, Pantaskah?



Oleh: Liza Burhan

Dalam masa wabah pandemi yang belum usai, publik kembali dibuat ramai sekaligus merasa prihatin terhadap peristiwa yang terjadi pada warga Kota Cirebon yang rela terjun ke saluran air demi mendapatkan bingkisan dari Presiden Joko Widodo.

Dilansir dari Ciremaitoday.com, (31/8/2021), diberitakan Presiden Jokowi membagi-bagikan bingkisan kepada warga yang ditemuinya. Sepanjang perjalanan menuju mobil dinasnya yang sudah siap terpakir di depan salah satu rumah warga, selain menyapa, melempar senyum dan berkomunikasi ringan dengan warga, Jokowi membagikan bingkisan, termasuk kepada warga yang sudah menunggu di sebrang saluran air. Beberapa bingkisan itu pun jatuh ke saluran air.

Walhasil beberapa warga tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, mereka langsung terjun ke saluran air untuk mengambil bingkisan yang terbungkus plastik transparan berisi seperti kaos berwarna hitam. Warga termasuk anak kecil tidak risih ketika terjun ke saluran air terjerembab dalam lumpur dan air yang keruh untuk mengambil bingkisan tersebut. Dan videonya viral di berbagai platform sosial media.

Seperti apa yang dikemukakan di awal tadi, nekadnya warga Cirebon yang rela terjun ke saluran air atau parit tersebut tentu bukan asal sekadar untuk kesenangan semata, namun ada harapan yang mereka ingin dapatkan. Yakni berharap mendapat bingkisan yang diberikan oleh Presiden yang dengan cara melempar-lemparkannya ke jalan walau ternyata hanya sebuah kaos. Mereka seolah mengabaikan risiko dan keselamatan mereka sendiri demi mendapatkan sebuah cinderamata dari orang nomor satu di negeri ini.

Ironisnya aksi lempar-lempar bingkisan atau hadiah di jalanan ini, bukan baru sekali ini saja dilakukan oleh Presiden Jokowi. Pada bulan Maret 2021 lalu misalnya, Presiden Jokowi juga melakukan hal serupa di Kabupaten Maros, Makassar. Bahkan ada warga yang sampai tersungkur ke aspal demi mendapatkan bantuan sembako dari Presiden. Presiden juga membagikan masker dengan melempar ke warga dari dalam mobil RI 1(Suarajakarta.co.id).

Lalu atas beberapa fakta peristiwa tersebut membuat kita jadi bertanya sekaligus ingin merenung, pantaskah hal tersebut dilakukan oleh seorang Presiden yang seharusnya berada di garda terdepan yang bisa dengan cara terhormat dalam membantu dan menjadi pemimpin bagi rakyatnya. Bukan dengan cara melempar-lemparkan bingkisan yang justru sangat berbahaya bagi keselamatan rakyat. Terlebih-lebih hal tersebut dilakukan di masa pandemi ini, yang tentu dapat menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar akibat kerumunan yang otomatis terjadi ketika rakyat ramai-ramai berebut untuk mendapatkan bingkisan tersebut.

Presiden Menabrak Aturan PPKM dan Membahayakan Keselamatan Masyarakat

Bagi penulis, apa yang dilakukan Presiden tersebut terbilang tidak pantas dan tidak baik dijadikan teladan. Karena selain dari caranya yang tidak makruf dan terkesan kurang beradab dalam memuliakan rakyat, hal tersebut juga berkali-kali dilakukan justru kontradiksi dengan kebijakan pemerintah sendiri dalam upaya penekanan kasus covid-19. Maka apa yang dilakukan oleh Presiden tersebut justru adalah bentuk pelanggaran terhadap aturan yang dibuatnya sendiri. Betapa tidak, aksi lempar-lempar bingkisan di jalanan seperti itu selalu otomatis menimbulkan kerumunan yang menjadi wadah besar akan potensi penularan virus covid-19.

Selain daripada itu, keselamatan jiwa, kehormatan dan martabat diri rakyat juga dipertaruhkan demi mendapatkan secuil bantuan yang sejatinya bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Seharusnya Presiden Jokowi sebagai pemimpin, menjadikan hal tersebut sebagai pertimbangan utama sebelum berkali-kali gegabah dalam melakukan aksinya. Sejatinya yang rakyat butuhkan adalah kebijakan yang tepat dan secara nyata dapat membantu mereka dalam menghadapi masa pandemi ini. Bukan aksi-aksi yang justru tidak mencerminkan ketauladanan bagi masyarakat, sehingga menjadikan masyarakat juga enggan dalam mentaati peraturan yang dibuat pemerintah.

Bukankah pemimpin yang baik adalah yang dapat menjaga keselamatan jiwa, kehormatan dan martabat diri bangsa dan rakyatnya? Maka dengan itu ia akan mencintai dan dicintai sepenuh hati oleh rakyatnya. Namun pada realitasnya, atas aksi lempar-lempar bingkisan yang diperebutkan warga itu, secara tidak langsung Presiden justru telah membahayakan nyawa dan menghinakan martabat diri rakyatnya. Yang akan semakin menjauhkan kecintaan rakyat di tengah indeks kepercayaan kepada pemerintah saat ini yang kian menurun.

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu, kamu menghormati mereka dan merekapun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu”(HR Muslim).

Dalam hadits tersebut tersirat pesan bahwa Pemimpin yang baik adalah pemimpin betulan bukan pemimpin kebetulan. Pemimpin betulan, adalah pemimpin yang memenuhi ketentuan-ketentuan yang diajarkan oleh Islam. Yaitu seorang pemimpin yang dilandasi oleh akidah yang kokoh dan ketakwaan kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Setiap sikap yang ditunjukkan dan kebijakan yang diambilnya penuh dengan kewibawaan dan semata-mata bertujuan untuk mengharap keridhaan Allah, bukan dengan dengan aksi-aksi over acting sebagai wadah pencitraan di hadapan rakyatnya.

Pemimpin yang baik dan mencintai rakyatnya akan senantiasa memperlakukan rakyatnya dengan kemuliaan dan adab-adab yang baik tanpa melihat kelas, derajat atau status sosialnya. Keberpihakannya terhadap kepentingan rakyat ia letakkan di atas kepentingan pribadi dan pejabatnya. Ia akan berhati-hati dalam mengambil setiap langkah dan keputusan, yang akan menghindarkan ia dari kemurkaan Allah maupun konflik dan permasalahan baru bagi kehidupan rakyat yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin juga selain harus mempunyai karakter yang adil, ia juga hendaklah memiliki sifat ketulusan dan kejujuran luhur yang tinggi. Karena kedua sikap dan sifat inilah yang akan membentu akhlak mulia dalam dirinya. Dengan akhlak yang mulia ia akan mampu memahami bahwa jabatan dan kedudukannya yaitu sebagai amanah yang akan dimintai dipertanggungjawabakan di hadapan Allah SWT. Ia akan mempunyai rasa takut yang besar terhadap tanggung jawab kepemimpinan yang ia pegang, apabila tidak mampu ia jalankan sesuai aturan Allah dan rasul-Nya. Terutama terkait urusan mengurusi rakyat yang dipimpinnya. 

Islam Menghadirkan Pemimpin yang Menjaga dan Memuliakan Rakyatnya

Dalam masa kejayaan sistem khilafah Islam, terdapat potret tauladan sejati dari seorang pemimpin/khalifah Umar bin Khattab dalam membantu/menolong rakyatnya yang kelaparan. Dikisahkan, di suatu malam khalifah Umar mengajak asistenya Aslam melakukan ronda keliling kota. Umar melihat sebuah pondok dengan kompor yang menyala di tengah jalanan yang sepi. Umar juga mendengar suara anak-anak yang menangis dari pondok tersebut.

Amirul Mukminin sebutan rakyat kepadanya, kemudian pergi langsung ke pondok tersebut untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Umar melihat seorang ibu yang terlihat memasak sesuatu di tengah pondok dikelilingi anak-anak yang menangis. Umar kemudian mengetuk pintu pondok dan bertanya penyebab anak-anak tersebut menangis. Umar juga bertanya makanan yang sedang dimasak ibu tersebut untuk anak-anaknya

Ibu tersebut menjawab anak-anaknya menangis karena lapar. Di dalam panci yang dimasak sebetulnya adalah air dan batu. Sang ibu berharap anak-anaknya lelah menunggu masakan matang hingga akhirnya tertidur. Semua bahan makanan yang ada dalam rumah tersebut sudah habis, hingga dia dan anak-anaknya kelaparan selama tiga hari belakangan.

Umar bin Khattab sebagai seorang kepala negara langsung bergetar dipenuhi rasa takut di hadapan Allah, karena menyaksikan ada warga yang kelaparan di dalam kepemimpinannya. Tanpa berpikir banyak lagi, kemudian ia langsung bergegas ke Baitul Mal dan mengambil bahan makanan yang diperlukan oleh ibu dan anak-anaknya tersebut. Sang khalifah membawa/memanggul dan memberikan sendiri bahan makanan pada keluarga tanpa bantuan Aslam asistennya. Umar kemudian masuk ke dalam pondok dan tanpa segan-segan membantu sang ibu memasak untuk anak-anaknya dengan tangannya. Makanan tersebut kemudian diberikan pada anak-anaknya hingga tak lagi merasa lapar.

Di waktu lain, dalam masa bencana kelaparan yang menerpa negara yang dipimpinnya saat itu, Umar sebagai pemimpin merasa punya bertanggung jawab untuk melakukan berbagai usaha untuk membantu rakyatnya, termasuk turut mendistribusikan makanan dari Dar Ad-Daqeeq. Makanan dari institusi yang menangani kebutuhan logistik masyarakat tersebut, Umar bagikan sendiri untuk masyarakat yang membutuhkan dengan cara yang makruf dan tetap menjaga kehormatan dan kemuliaan rakyat yang dipimpinnya, bukan dengan cara melempar-lempar bantuan tersebut kepada rakyatnya. Dan dengan akhlak dan ketakwaan yang tinggi dalam dirinya, Umar bin Khattab juga berdoa memohon pengampunan dan rizki dari Allah SWT untuk dirinya dan seluruh rakyat yang dipimpinnyah, hingga akhirnya pertolongan Allah turun dengan datangnya hujan dan mengakhiri bencana tersebut.

Begitulah tauladan sejati seorang pemimpin yang mempunyai ketulusan yang tinggi dalam menjaga dan menyenangkan rakyatnya. Namun karakter pemimpin seperti itu hanya akan kita temukan dalam kepemimpinan sistem Islam, khilafah Islamiyah. Karena pemimpin dalam sistem khilafah menjalankan kepemimpinannya atas dasar ketakwaan dan ketaatan kepada aturan dan hukum-hukum Allah saja, bukan atas dasar ambisi kekuasaan dan kepentingan para pendukungnya.

Wallahu a'lam bishshawwab 

Posting Komentar untuk "Bukan Membuat Kebijakan yang Tepat Presiden Lagi-lagi Melakukan Aksi yang Membahayakan Nyawa Rakyat, Pantaskah?"