Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Khilafah dan Aceh Versus Portugis




Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)


Ada hubungan yang telah lama terjalin antara Khilafah Utsmaniyah dan Aceh. Salahsatu bukti hubungan ini adalah kerjasama militer melawan penjajah Portugis. Pada tahun 1565 Khilafah Utsmaniyah atas permintaan Kesultanan Aceh menyerang Portugis di Malaka.

Portugis memang sejak awal memiliki sifat kapitalis bawaan. Portugis menjelajahi dunia untuk meraup keuntungan materi yang sebesar-besarnya. Menjajah berbagai negeri termasuk nusantara untuk memperkaya diri sendiri diatas penderitaan manusia.

Kesultanan Aceh mengetahui bahwa Kaum Muslimin memiliki kepemimpinan umum yang bersifat global dan superpower. Setelah utusan Alauddin Al Qahhar (1539-1571) bertemu dengan Khalifah Sulaiman Al Qanuni, ekspedisi militer dikirimkan ke Aceh. Ekspedisi militer ini berisi 300 prajurit Utsmaniyah, beberapa orang Abesinia dan Gujarat, serta 200 saudagar Malabar untuk menaklukkan Tano Batak pada tahun 1539.

Setelah itu Khilafah Utsmaniyah membantu Aceh melawan Portugis di Malaka. Sultan Husain Ali Riayat Syah mengirim utusan kepada penguasa yang disebut sebagai Khalifah atau penguasa Kaum Muslimin. Sultan Salim II mengirim 15 armada atau kapal tempur ke Aceh. Tetapi hanya 2 armada yang sampai ke Aceh.

13 Armada menyelesaikan misi pemadaman pemberontakan di Yaman. Misi mereka berhasil. Sedangkan dua armada yang ada di Aceh melanjutkan misi penyelamatan Kaum Muslimin.

Dari ekspedisi militer Khilafah di Aceh ini, berbagai hubungan terjalin kuat antara Kekhilafahan Islam dan warga Kesultanan Aceh. Ada semangat ukhuwah Islamiyah dan dakwah yang semakin berkembang. Tidak seperti negara-negara kapitalis Barat yang saling bersaing dalam menjajah negeri lain dan memperkaya diri.

Pengiriman ekspedisi militer ini bukan sekedar untuk mengusir penjajah tetapi ada pesan dakwah yang disampaikan. Ada juga pengembangan atau transfer IPTEK bagi rakyat nusantara. Militer Turki Utsmaniyah melatih rakyat Aceh cara membuat meriam.

Sehingga militer Aceh mampu memproduksi banyak meriam. Meriam tersebut memiliki berbagai jenis meriam seperti meriam perunggu ukuran sedang. Militer Aceh juga berhasil membuat 800 senjata seperti senapan putar bergagang dan arquebus.

Inilah persenjataan yang sangat canggih pada masanya. Rakyat Aceh juga mendapatkan pengajaran ilmu agama dari ekspedisi Khilafah ini. 

Kemandirian Militer Aceh ini berbuah kemenangan besar. Kapal perang Aceh mengibarkan bendera Khilafah Utsmaniyah. Militer Aceh mampu mengalahkan Portugis di Malaka dengan usaha sendiri.  

Inilah sejarah yang tak akan pernah bisa dihapus. Ketika Kaum Muslimin bersatu dalam satu kepemimpinan, penjajahan bisa dilawan. Ada semangat tolong menolong sesama umat.

Kezhaliman pun diberantas. Ini berbeda dengan negara penjajah kapitalis seperti Spanyol dan Portugis yang tak bersatu karena perebutan daerah jajahan. Atas dorongan otoritas keagamaan kala itu, dunia dibagi dua Timur dan Barat kepada Spanyol dan Portugis.

Ini bukan solusi tetapi malah melanggengkan penjajahan. Misalnya menyuburkan penjajahan Spanyol atas beberapa negara Amerika Latin dan Portugis atas wilayah Nusantara. Ini menyebabkan kezhaliman dan Khilafah hadir untuk mengakhirinya. []

Bumi Allah SWT, 13 Oktober 2021.

#DenganPenaMembelahDunia

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

#YukNontonJKDN2

#TalkJKDNShow 

Posting Komentar untuk "Khilafah dan Aceh Versus Portugis"

close