Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teror Bom Afghanistan, Konflik Sunni-Syiah dan Umat Islam Jadi Korban




Oleh: Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP)


Pada Jum'at, 8 Oktober 2021 terjadi ledakan bom di sebuah masjid Syi'ah di Afghanistan. Ledakan tersebut terjadi saat Sholat Jum'at. Misi PBB mencatat korbannya sekitar 100 orang meninggal dunia. Sedangkan sumber medis di RS Kunduz mencatat ada 35 korban meninggal dan 55 korban luka-luka.

Pihak ISIS-K (ISIS Khurasan) mengaku bertanggung jawab atas aksi bom tersebut. Sedangkan aksi ISIS-K ini adalah kesekian kalinya di Afghanistan. Sebelumnya ISIS-K telah menyebabkan 80 pelajar perempuan meninggal di Kabul. Termasuk mereka yang melakukan penembakan kepada 3 jurnalis di Jalalabad. Keseluruhan aksi teror tersebut dilakukannya pasca penarikan mundur pasukan AS dan NATO dari Afghanistan. Artinya pasca Taliban berkuasa kembali di Afghanistan.

Menanggapi aksi ISIS-K, Joe Biden mengumbar pernyataan bahwa urusan AS belum selesai dengan mereka. Tentunya hal demikian menjadi sebuah kamuflase. Kelompok ISIS-K yang berafiliasi dengan ISIS Irak dan Suriah mempunyai misi dan visi yang sama. Khurasan dijadikan sebagai bagian dari wilayah Kekhalifahan yang didirikan ISIS. Sementara itu di sisi lain, track record ISIS hanya akan menjauhkan hakekat Kekhalifahan dari benak kaum muslimin. Monsterisasi Khilafah menjadi targetnya. Sedangkan ISIS-K sendiri adalah gerakan Taliban garis keras yang terusir dari Afghanistan oleh milisi Pakistan.

Bukankah AS yang telah memelihara dan membesarkan ISIS guna monsterisasi Khilafah? Lantas apakah artinya sebuah kecaman dalam hal ini?

Menanggapi teror bom di Masjid Syiah ini, pihak Taliban memandang ada sebuah upaya untuk menghidupkan konflik Sunni-Syiah. Bahkan yang lebih parah bisa jadi Taliban akan dianggap ingkar janji setelah berhasil berkuasa. Bila demikian halnya, tentu saja Afghanistan akan menghadapi tekanan dari pihak ISIS-K di satu pihak, dan dengan Syiah di pihak lain. Apalagi pemerintahan Iran ikut nimbrung. Dengan kata lain, keadaan Afghanistan tidak akan dibiarkan untuk damai walau dalam sekejap.

Lagi-lagi kelompok-kelompok Islam diadu domba. Termasuk yang menjadi korban dari konflik adalah kaum muslimin. Padahal hubungan antara Taliban dengan Syiah baru-baru ini terlihat dekat. Paling tidak pasca tahun 2003, walaupun pernah tenggelam dan menguat lagi di tahun 2020. Bahkan masa Ahmadinejad dianggap sebagai bentuk keberanian Iran melawan politik AS. Walaupun di permukaan menguat perseteruan Iran-AS pasca terbunuhnya Jenderal Sulaimani oleh AS di masa Trump.

Di tahun 1998, Taliban pernah melakukan serangan militer terhadap kota Mazar-i Syarif Iran yang menewaskan 11 warga Iran. Hanya saja waktu Taliban berhasil membunuh pemimpin kelompok Jaisy Alp-Adli yang ingin memisahkan diri dari Iran, konflik di antara keduanya seperti mencair. Ini terjadi sekitar tahun 2002. Sebelumnya tahun 2001, Iran mendukung AS untuk menggulingkan Taliban dengan isu teroris.

AS sendiri setelah sekian lama di Afghanistan dari 2001 hingga 2020 merasa menderita kerugian besar. Apalagi AS harus menghadapi serangan dari Taliban. Maka saat itulah AS berkomitmen mewujudkan perdamaian nasional di Afghanistan. Dirancanglah kesepakatan Doha di 2020. Pasukan AS akan ditarik dari Afghanistan. Akan tetapi di satu sisi yang lain, AS tidak ingin kehilangan pengaruhnya di Afghanistan. Terutama dalam hal penguasaan atas kekayaan alam yang besar di Afghanistan.

Tentunya tidak elok bila AS kembali ke Afghanistan dari pintu depan. Masuk melalui pintu belakang bisa menjadi alternatif. AS akan masuk untuk melakukan intervensi atas kondisi dalam negeri Afghanistan yang tidak kondusif.

Di bawah pemerintahan Taliban, keadaan Afghanistan tidak stabil. Konflik Sunni-Syiah mencuat kembali. Rakyat Afghanistan tidak tenang. Teror terus terjadi. Korban terus berjatuhan dari rakyat.

Taliban tidak benar-benar 'direstui' untuk berkuasa di Afghanistan. Pihak Syiah tetap merapat ke Afghanistan guna memastikan bahwa Taliban tetap berada dalam kontrol garis politik AS yakni terbentuknya pemerintahan Islam yang moderat. Bahkan pada satu titik tertentu, tekanan bisa semakin menguat dengan tudingan Taliban ingkar janji. Taliban tidak bisa menjamin keamanan. Afghanistan masih rawan dari kelompok-kelompok teroris layaknya ISIS. Padahal saat kesepakatan Doha dengan AS, Taliban bersedia menerima syarat untuk membersihkan Afghanistan dari anasir-anasir teroris seperti ISIS.

Demikianlah nasib kaum muslimin pasca hilangnya Kekhilafahan dari tengah-tengah kehidupan mereka. Kaum muslimin layaknya anak ayam yang kehilangan induknya. Mereka menjadi tercerai berai. Kaum muslimin seperti hidangan yang ada di atas nampan. Orang dari segala penjuru berusaha untuk menyantap mereka dengan lahapnya.

Kaum muslimin dijajah, dibantai dan dianiaya serta menderita kehidupannya. Bangsa-bangsa penjajah telah mengeksploitasi kehidupan kaum muslimin. AS membuat berbagai manuver untuk menjajah kaum muslimin. 

Oleh karena itu, kaum muslimin dan semua kelompok kaum muslimin harus berlepas diri dari negara-negara penjajah. Mereka harus bersatu berdasarkan Aqidah Islam. Dengan begitu tujuan mereka adalah mewujudkan kebangkitan bagi Islam dan kaum muslimin. Mereka menjauh dari negara-negara penjajah. Mereka membongkar semua manuver politik negara penjajah atas kaum muslimin. Targetnya kaum muslimin menjauh dari para penjajah. Dengan demikian kaum muslimin akan berjuang bersama dalam mewujudkan penjaga Islam dan kaum muslimin yakni tegaknya al-Khilafah. Al-Khilafah inilah yang akan membebaskan kaum muslimin dari berbagai bentuk penjajahan. 


# 12 Oktober 2021 

Posting Komentar untuk "Teror Bom Afghanistan, Konflik Sunni-Syiah dan Umat Islam Jadi Korban"