Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stunting Butuh Solusi Sistemik




Oleh : Ufairoh Maliha Shofwah, S.Gz.

Permasalahan gizi pada anak dan remaja, jika ditarik benang merahnya, semua bersumber dari keluarga. Menurut Ketua Bidang Advokasi KOPMAS, Rusmarini Roesli, stunting adalah akibat ketidakseimbangan nutrisi dengan kebutuhan. Rendahnya pemenuhan nutrisi menyebabkan terjadinya gagal tumbuh hingga berujung pada imunitas tubuh yang rentan. Stunting adalah kondisi pertumbuhan yang melambat pada anak sehingga tinggi badan anak lebih rendah dengan anak seusianya. Biasanya, kejadian stunting pada anak diakibatkan karena kurangnya nutrisi ibu ketika hamil. 

Data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018 menyebutkan bahwa 30.8% balita mengalami stunting, sementara sebanyak empat puluh satu ribu dari seratus dua pulih lima balita di Indramayu mengalami stunting. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, dokter Deden Bonni Koswara, MM, angka tersebut terbilang tinggi. Kasus stunting belum dapat dientaskan secara tuntas di Indramayu. Karena, faktor penyebab stunting masih terus bermunculan dan terbilang sulit dihentikan. Pernikahan dini, kurangnya edukasi persiapan kehamilan, pengasuhan anak oleh nenek atau orang lain, hingga ibu yang bekerja di luar negeri menjadi penyebab paling banyak karena berpengaruh terhadap pola asuh anak hingga mengalami stunting (repjabar.republika.co.id 12/10/21). 

Pemerintah Kabupaten Indramayu telah berupaya menurunkan angka stunting dengan melibatkan berbagai pihak. Tidak hanya petugas kesehatan, namun juga pihak desa, kecamatan hingga kabupaten ikut serta dalam upaya ini (mediaindonesia.com 12/10/21). Salah satu upaya menekan angka stunting di Indramayu adalah melalui kerjasama antara Pemerintah bersama pertamina. Kerja sama ini dilakukan dengan mendirikan omset atau olahan makan sehat bagi keluarga tidak mampu yang memiliki balita stunting (cirebon.pikiran-rakyat.com 24/10/21) 

Persoalan stunting bukan perkara mudah sebab kondisi ini merupakan buah dari kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang lama. Kegagalan pemenuhan nutrisi seimbang pada 1000 hari pertama kehidupan (masa pra konsepsi-kehamilan-hingga usia dua tahun) menjadi faktor paling berpengaruh terhadap kejadian stunting. Selain itu, kondisi lingkungan tempat tinggal, sarana akses air bersih dan makanan sehat secara langsung menjadi faktor pencetus infeksi lebih lanjut pada balita yang mengalami stunting. Stunting adalah masalah sistemik. Ibarat lingkaran setan malnutrisi pada anak, penyelesaiannya harus menyeluruh dari akar masalah utama, yaitu kesiapan dan peran seorang ibu sebagai pengasuh bagi anak tidak bisa diwakilkan oleh lainnya. 

Namun dalam proses mengasihi dan mendidik anak-anaknya, seorang perempuan hendaknya mempersiapkan diri, salah satunya dengan mencukupkan kebutuhan gizi guna persiapan kehamilan. Sayangnya, sistem saat ini nampaknya tidak bisa melanggengkan cita-cita tersebut. Sistem kapitalisme liberal yang bercokol saat ini seolah memuluskan jalan kebebasan pergaulan laki-laki dan perempuan. Seks bebas atau hamil diluar nikah tidak lagi menjadi hal tabu. Jika sudah begitu, maka menikah dini dipandang sebagai sebuah solusi. 

Padahal, minimnya ilmu dan kesiapan mental untuk berkeluarga dan melahirkan menjadi boomerang dengan melahirkan generasi yang stunting. Perempuan juga menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi pahlawan devisa negara. Mereka melalaikan tugas utamanya sebagai ibu yang mengasuh anak-anaknya. Perempuan saat ini seolah disuguhi kebebasan nan melalaikan kodratnya sebagai seorang ibu. Tugas ibu adalah mengurus dan memastikan kondisi gizi dan kesehatan anak yang dilahirkannya. 

Islam adalah solusi dari permasalahan stunting. Islam mengatur bagaimana interaksi perempuan dan laki-laki yang bertujuan menjaga keduanya dari maksiat yang merugikan. Selain itu, Islam menjamin hak dan kewajiban masing-masing insan sehingga tetap berada dalam fitrahnya. Seorang ibu akan mengasuh dan memastikan gizi anak-anaknya. Sementara, ayah sebagai pencari nafkah yang menjamin kebutuhannya. 

Jika dilhat dari akar persoalannya, maka stunting ini adalah akibat kemiskinan yang diciptakan oleh sistem kapitalisme. Masyarakat tak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang layak terutama makanan dan kesehatan. Sedangkan, Islam tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Islam akan memenuhi kebutuhan rakyat dengan layak ditopang dengan ekonomi yang mandiri. Dengan begitu, solusi yang diberikan tidak sekedar solusi tambal sulam. Namun, solusinya adalah solusi tuntas yang menyentuh akar persoalan, yaitu dengan diterapkannya aturan Islam.

Wallahu A’lam bis-Showwab.

 

Posting Komentar untuk "Stunting Butuh Solusi Sistemik"