Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

IKN Khilafah Abbasiyah Tanpa Utang Dan Lilitan Oligarki




Oleh : Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)


Di negeri Wakanda publik memprotes pemindahan dan pembangunan ibukota baru. Banyak alasan mengapa pemindahan ibukota itu harus ditolak semisal lahan ibukota baru itu berdiri diatas 162 konsensi tambang, kehutanan, kelapa sawit dan PLTU batubara. Luasnya bukan main sebesar 180.000 hektar (3 kali luas ibukota negaranya).

Bahkan ditemukan 94 lubang bekas tambang batu bara. Lubang-lubang itu merupakan peninggalan perusahaan-perusahaan kapitalis. Banyak LSM menduga bahwa pemindahan ibukota ini merupakan modus untuk "cuci dosa" lahan bekas yang merusak lingkungan.

Tanggung jawab pemulihan lahan bekas tambang akan dialihkan kepada negara dengan dalih membangun Ibukota Baru. Menyedihkan proyek ini akan terus berjalan meskipun utang negara terus membengkak dan tidak adanya kepastian ekonomi akan naik meroket. Jika Corona terus berlanjut, diduga ekonomi akan meroket kebawah dan proyek pembangunan Ibukota baru ini diduga akan membebani anggaran pendapatan negara.

Banyak juga yang menduga pemindahan Ibukota ini untuk menghindari serangan opini dari kelompok yang ingin menegakkan Islam secara Kaffah. Kelompok yang akan membahayakan proyek para oligarki yang memanfaatkan kekuasaannya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa melibatkan rakyat.

Itulah efek hidup dalam aturan Kapitalisme dimana kekuatan ekonomi liberal dengan oligarki (kapitalis yang memanfaatkan jabatannya dalam pemerintahan untuk meraih keuntungan via proyek) sebagai jagoannya. Perusahan para oligarki biasanya dimuluskan untuk memenangkan proyek yang dibiayai negara.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah ada sistem alternatif yang bisa menghentikan kekuasaan oligarki yang melilit negara khususnya dalam masalah pemindahan dan pembangunan Ibukota Baru? Maka perhatian publik harus dikembalikan kepada sistem Islam yang dulu pernah menguasai dan mengatur dunia. Misalnya Khilafah Abbasiyah yang membangun Baghdad sebagai Ibukota negaranya.

Khilafah tidak pernah melandaskan sistemnya pada ideologi kapitalis dan komunisme. Khilafah dengan Ideologi Islamnya mampu membangun Ibukota Negara tanpa utang dan kekuatan kelompok oligarki. Khalifah Abu Jafar Al Manshur, Khalifah Abbasiyah kedua kala itu, sangat independen.

Website Republika dengan rinci menceritakan bagaimana sang Khalifah membangun pusat pemerintahannya. Al Manshur mampu memilih Baghdad sebagai pemerintahan didasarkan pada berbagai pertimbangan, seperti politik, keamanan, sosial serta geografis. Al-Mansur mengirimkan sejumlah ahli untuk meneliti Baghdad. Kondisi tanah, udara erta lingkungan benar-benar dipertimbangkan. Setelah dinilai layak, barulah Khalifah mengetuk palu memutuskan Baghdad sebagai ibu kota Dinasti Abbasiyah. Seperti halnya kota Roma, Baghdad dibangun tak selesai dalam sehari.

Sebanyak 100 ribu ahli bangunan, mulai dari arsitek, tukang batu, tukang kayu, pemahat, dan sebagainya dikerahkan untuk membangun Baghdad. Para pekerja itu didatangkan Khalifah dari berbagai wilayah, seperti Suriah, Mosul, Kufah, Basrah, hingga Iran. Dana yang dihabiskan untuk membangun Baghdad mencapai 3,88 juta dirham.

Uniknya, tata kota Baghdad dirancang berbentuk bundar. Sehingga, Baghdad pun dijuluki sebagai Kota Bundar. Bak sebuah benteng pertahanan, sekiling Baghdad dipagari tembok sebanyak dua lapis tembok yang besar dan tingginya mencapai 90 kaki. Di luar tembok dibangun parit. Seakan terinspirasi dengan Perang Khandaq pada zaman Rasulullah SAW, parit itu digunakan sebagai saluran air dan benteng pertahanan.

Selain itu, di tengah kota bertengger Istana Khalifah nan megah bernama Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas). Keindahan dan kemegahannya menunjukkan kehebatan Dinasti Abbasiyah. Untuk mempertegas keislaman, di samping istana berdiri Masjid Jami Al-Mansur seluas 100 x 100 meter. Kubahnya menjulang tinggi ke langit setinggi 130 kaki.

Kota Baghdad juga dilengkapi bangunan pengawal istana, polisi, tempat tinggal Khalifah, pasar dan tempat belanja. Untuk menuju pusat kota Baghdad, para pengunjung bisa melalui empat gerbang. Di sebelah Barat Daya ada gerbang Kufah, di arah Barat Laut terdapat Gerbang Syam, di Tenggara disediakan gerbang Basrah dan gerbang Khurasan terletak di arah timur laut.

Di setiap pintu gerbang terdapat menara pengawas dan tempat beristirahan yang dihiasi ukiran-ukiran nan indah. Sebelum tutup usia, Al-Mansur juga sempat membangun istana Ar-Rufasah. Sebagai pendiri Baghdad, Khalifah menyebut kota itu sebagai Madinah As-Salam atau kota perdamaian (Republika, 5 /9/2019).

Kota Baghdad dibangun ketika negara tidak memiliki utang sama sekali. Bahkan ekonominya surplus. Baghdad kala itu juga menjadi pusat pendidikan dunia dan juga sebagai kota paling besar dana agung pada masanya. []

Bumi Allah SWT, 24 Januari 2022


#DenganPenaMembelahDunia

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

#IKNProyekOligarki 

Posting Komentar untuk "IKN Khilafah Abbasiyah Tanpa Utang Dan Lilitan Oligarki"