Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjuangan Pelaku Usaha di Tengah Kerasnya Zaman

Ilustrasi



Oleh: Citra Dewi Anita (Sahabat Visi Muslim Media)


Ini kisah saya yang mungkin mewakili kisah pedagang lain di luar sana. Suatu pagi saya hendak keluar rumah untuk mencari bahan makanan untuk saya jual hari ini. Menjemput rezeki butuh ikhtiar, bukan? 

Tak disangka, saya mengalami kesusahan untuk menemukan bahan, jika ada pun harganya tak lagi seperti biasanya. Karena dimana-mana semua bahan khususnya bahan baku mengalami kenaikan harga yang lumayan. 

Saya sebagai pelaku usaha sangat kesulitan dengan keadaan sekarang. Target pasar melemah, daya beli menurun. Jika harga makanan yang saya produksi dinaikan mungkin saja susah untuk terjual, tetapi jika dijual murah, tidak menutupi biaya produksi. 

Kerasnya kehidupan hari ini tidak semua merasakannya. Ada yang Allah beri ujian mereka berada di kursi yang empuk, hanya tinggal duduk dan menunggu trasferan berjuta-juta bahkan beratus juta akan menganggap saya berlebihan. Tapi, jika dibandingkan, jumlah yang menderita jauh lebih banyak dibandingkan yang aman dalam penderitaan di kerasnya zaman ini.

Anak jadi Korban Kerasnya Zaman

Pernah suatu ketika saya melihat pengamen di lampu merah. Anak-anak kecil berusaha mengumpulkan sekeping 2 keping receh untuk dikumpulkan hari itu. Sedih rasanya melihat mereka sudah bekerja keras di usia yang masih muda.

Pun yang terjadi di Surabaya, bocah penjual koran sampai tertidur di suatu mall sambil memangku koran jualannya. Ia tampak kelelahan. Kisah ini viral di media sosial beberapa waktu yang lalu.

Dalam kurun 3 tahun, jumlah pekerja anak terus mengalami peningkatan. Survei sosial ekonomi nasional tahun 2019 mendata masih ada 1,6 juta anak berusia 10 hingga 17 tahun yang terpaksa bekerja.

Terpuruknya ekonomi telah menjadikan seluruh anggota keluarga dipaksa mencari nafkah. Jika anak dilarang bekerja bagaimana keluarga miskin bisa mengisi perut mereka?

Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Siapa yang akan mengurus kami? Orang-orang yang lemah, miskin, tidak mempunyai tempat untuk tinggal. Siapa yang akan memenuhi kebutuhan kami?

Sistem kapitalisme menguasai perekonomian dunia kini. Ia berorientasi pada materi bukan pada kesejahteraan masyarakat, akibatnya kemiskinan meningkat secara struktural, termasuk anak anak. Tak heran pekerja anak pun meningkat tajam.

Islam Menjamin Kebutuhan Rakyat

Potret yang berbeda akan kita jumpai kala membaca saat islam diterapkan. Islam yang diterapkan selama kurang lebih 13 abad lamanya mengatur dunia dalam kesejahteraan. Bahkan sampai burung pun diberikan makan, jangan sampai ada makhluk yang kelaparan pada masa itu.

Negara menjamin sandang, pangan dan papan setiap individunya. Pun dengan pendidikan dan kesehatan. Karena indikator kesejahteraan rakyat diukur dengan terpenuhinya kebutuhan perindividunya bukan rata rata penduduk saja.

Rindu rasanya kepada kejaayaan islam yang sempurna mengurusi rakyatnya dengan sepenuh hati.


Wallahua'lam bish shawab. 

Posting Komentar untuk "Perjuangan Pelaku Usaha di Tengah Kerasnya Zaman"