Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kapitalisme Lahirkan Kepanikan dan Keserakahan




Oleh: Ibu Nengsih


Adanya operasi pasar dan subsidi minyak goreng serempak satu harga Rp. 14000/liter di seluruh Provinsi di Indonesia ini diakibatkan melonjaknya harga minyak goreng dipasaran. Kondisi ini menyebabkan terjadinya aksi panic buying dan penimbunan barang oleh sejumlah oknum. 

Sesungguhnya, ini bukan fenomena baru lagi. Hal ini kerap terjadi disaat harga-harga sembako mengalami kenaikan. Terlebih, kenaikan harga pada minyak goreng, yang merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat sehari hari, baik rumahan ataupun pedagang makanan.

Adanya upaya kebijakan pemerintah ini justru melahirkan masalah yang baru, yaitu potensi terjadinya aksi borong hingga penimbunan oleh oknum-oknum yang dapat merugikan masyarakat yang lain.

Majalengka melakukan pengawasan dalam proses penjualan Minyak goreng. Selain itu juga memberlakukan ketentuan untuk mengantisipasi adanya aksi borong dan penimbunan barang, agar program Pemerintah ini berjalan dengan lancar. 

Panic Buying hingga penimbunan barang merupakan suatu kewajaran dalam sistem ekonomi kapitalis. Sebab, manusia didorong untuk memuaskan nafsunya. Akibatnya, muncul kepanikan dan keserakahan yang mengantarkan meraka untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Adapaun tindakan pidana yang mengancam pelaku sesuai dengan pasal 107 undang-undang nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan, jika ada pidana, maka pelaku terancam penjara hingga 5 tahun atau denda 50 miliar serta dijerat dengan undang undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (Kapolres Majalengka, AKBP Edwin Affandi).

Selain merupakan tindakan kejahatan, aksi borong dan penimbunan ini adalah perbuatan yg tidak smart. Namun, fenomena ini terus terjadi, karena praktik di lapangan kurang ketat pengawasannya. Sosialisasi dan juga sangsi pun demikian. Sehingga akibatnya, operasi pasar murah dan subsidi minyak goreng ini sering tidak tepat sasaran. Disisi lain, aksi borong akan sangat berpeluang bagi masyarakat yang berkemampuan dalam segi finansial dan sebaliknya yang lemah, justru tidak bisa menikmati manfaat dari kebijakan pemerintah tersebut.

Aksi borong dan penimbunan barang ini pun adalah dampak dari salah satu akibat naiknya harga minyak goreng oleh adanya perbedaan pasar, tidak terintegrasinya dengan CPO (minyak dunia), salah tata kelola, keraguan masyarakat terhadap pengurusan pemerintah, serta tidak terpenuhinya jaminan kesejahteraan.

Bagaimana tidak. Kebutuhan minyak goreng untuk kebutuhan sehari hari oleh masyarakat itu sifatnya selama lamanya, namun kebijakan pemerintah ini sifatnya hanya sementara saja.

Pengurusan yang sifatnya setengah-setengah dan tidak benar-benar serius mengelola kepentingan rakyat, menimbulkan permasalahan yang baru. Kindisi semacam ini akan terus tumbuh subur dalam sistem ekonomi yang berlandaskan kapitalisme. Sebab, kapitalisme hanya berorientasi pada pemenuhan nafsu dan materi sebanyak banyaknya hingga melahirkan manusia manusia yang panik dan serakah sehingga berpeluang terjadinya kongkalikong antara penguasa, pengusaha dan produsen.

Berbeda dengan Islam yang amat memperhatikan dan mengutamakan stabilitas pasar dalam kegiatan perekonomiannya. Sebab, peran pasar amat besar terhadap kepentingan umat. Pada masa Rasulullah stabilitas harga pasar ditempuh dengan upaya menghilangkan mekanisme pasar yang tidak sesuai dengan syariat, seperti penimbunan, intervensi, dan pematokan harga.

"Rasulullah SAW melarang penimbunan makanan" (HR Al Hakim dan Al Baihaqi).

Selain merupakan tindakan keserakahan, aksi borong dan penimbunan pun mencerminkan moral yg tidak baik dan mendzalimi orang lain. Dalam Islam, pelakunya akan mendapatkan ancaman siksa yang sangat pedih diibaratkan seperti penimbunan emas dan perak (TQS. At Taubah: 53).

Kepanikan dan keserakahan tidak akan lahir dari muslim yang kokoh aqidahnya karena mereka senantiasa hemat dan bijak dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Lain halnya dengan masyarakat dibawah sistem kapitalis yang bertolok ukur kepuasan jasadiyah semata.

Mekanisme pasar dalam Islam tidak akan melahirkan generasi yang egois karena periayahan Daulah yang mampu menjamin kesejahteraan umatnya. Maka, sudah saatnya kita menyeru cacatnya sistem kapitalis dengan segala permasalahan yang ditimbulkannya dan menyeru pada kesempurnaan sistem Islam sebagai solusi tepat periayah umat dibawah sistem mulia Al Islam Al Khilafah sebagai Rahmatan Lil 'aalamiin. 

Posting Komentar untuk "Kapitalisme Lahirkan Kepanikan dan Keserakahan"

close