Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ujian: Tanda Cinta Rabb pada Hamba-Nya




Oleh: Ismawati


Alamiahnya manusia ketika hidup di dunia tentu tak lepas dari ujian. Ada yang diuji dengan kesedihan, ada juga yang diuji dengan kebahagiaan. Sebab, semua tak lepas dari ujian dari Allah Swt. sebagaimana Firman Allah Swt. “Setiap jiwa pasti akan mati. Dan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, kepada Kamilah kalian kembali (QS. Al-Anbiya : 35). Maka, sejatinya ujian yang diberikan kepada kita sebagai bukti cinta Allah Swt. kepada kita.

Meskipun, terkadang beratnya ujian yang kita pikul lambat laun dapat meruntuhkan kesabaran kita. Kesedihan karena ujian yang berlarut membuat diri kita lelah. Bahkan, bisa saja meruntuhkan akal sehat. Sebab, rasanya ujian yang kita lalui begitu sulit, seolah tak punya jalan keluarnya lagi. 

Alhasil, satu-satunya jalan yang ditempuh dalam menyelesaikan masalah adalah dengan bunuh diri. Karena menanggap itu adalah akhir dari lepasnya semua ujian dalam hidup. Sebab, akhir-akhir ini telah banyak kita jumpai di media sosial, seseorang yang nekat bunuh diri lantaran depresi karena beban masalah yang menghampiri. Namun benarkah, bunuh diri adalah solusi untuk menyelesaikan masalah? 

Secara pandangan manusia memang benar. Setelah kita mati masalah hidup tak datang menghampiri, ujian kehidupan dunia sudah kita lewati. Namun, sebagai seorang Muslim kita tentu tidak lupa dengan hari akhir. Dimana manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya semasa di dunia. Tempat kembalinya adalah surga dan neraka.

Sementara Islam memandang, bunuh diri adalah perbuatan yang diharamkan, bahkan pelakunya kekal di neraka. Sebagaimana Sabda Nabi Saw. dari al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra. yang ia marfu’-kan, Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan pisau niscaya dia akan datang pada Hari Kiamat dan pisaunya ada di tangannya yang dia tusukkan di perutnya di neraka Jahanam, dia kekal selamanya di dalamnya. Siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan racun, maka racunnya ada di tangannya yang dia hirup di neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya” (HR. at-Tirmidzi).

Nyawa dalam pandangan Islam amatlah berharga. Kesempatan hidup tidak datang dua kali. Seharusnya jika masih diberi kesempatan untuk hidup, harus kita gunakan sebaik-baiknya unuk beramal. Setiap ujian hadapilah dengan tenang. Berlapang dada atas ketetapan-Nya. Perbanyaklah mengingat Allah Swt. agar hati menjadi tenang. Firman Allah Swt. “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra’d : 28).

Namun, jika andai beban berat itu karena dosa yang kita lakukan sendiri, maka perbanyaklah bertobat kepada Allah Swt. Memohon ampun atas segala dosa yang kita lakukan. Ampunan Allah itu luas seluas langit dan bumi. Sebesar apapun dosa kita, Insya Allah akan diampuni jika kita benar-benar betobat. Firman Allah Swt. “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133). Bahkan, Allah bergembira menerima tobat hamba-Nya. Sebagaimana Sabda Nabi Saw. “Allah Swt. lebih gembira dengan tobat hamba-Nya, melebihi salah seorang dari kalian yang mendapatkan hewan tunggangannya yang telah hilang di padang luas” (HR. Bukhari). 

Maka, jangan putuskan do’a mohon ampun atas dosa yang kita perbuat. Sebaik-baik tobat adalah ia yang menyadari kesalahan dan berniat menebus kesalahan dengan taat pada syariat-Nya. Dengan bertobat hati kita menjadi tenang. Sebab, dosa dan maksiat adalah sumber petaka yang membuat hati menjadi gusar dan mudah terjebak goda setan. 

Sadarilah, engkau tidaklah sendiri dan ujian yang menimpa kita ada solusi. Perbanyak mengkaji ilmu Islam dan milikilah teman yang salih yang dapat membimbing hidup kita di jalan yang diridai Sang Ilahi. Sayangi dirimu, jangan biarkan goda setan menjerumuskanmu. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal salih sehingga saat kita dipanggil Allah nanti pahala yang kita bawa, bukan dosa-dosa kita kala di dunia.


Wallahua’lam bishowab. 

Posting Komentar untuk "Ujian: Tanda Cinta Rabb pada Hamba-Nya"