Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ibu Gorok Anak Hingga Tewas, Kapitalisme Hancurkan Fitrah Keibuan




Oleh: Wiwin (Aktivis Muslimah, Komunitas Muslimah Coblong)


Minggu, 20 Maret 2022, seorang ibu di Brebes diberitakan menyayat leher ketiga anaknya dan satu orang diantaranya meninggal dunia (detik.com). Menurut berita yang beredar hal ini dipicu depresi sang ibu dan faktor ekonomi. Tentu hal ini membuat miris dan mengagetkan kita semua. Sayangnya kali ini bukan kali pertama. Dilansir dari kompas.com (15/12/2020) seorang ibu di Nias juga membunuh ketiga anaknya yang masih balita lalu mengupayakan bunuh diri. Motifnya diketahui karena kesulitan ekonomi. Masih dari laman yang sama, kompas.com (12/8/2010) diketahui seorang ibu di Depok Barat, Sleman, Yogyakarta, mengajak 2 anaknya yang masih balita membakar diri hingga tewas bersama. Motifnya dikarenakan ekonomi dan suaminya memiliki wanita idaman lain. 

Berbagai reaksi dan solusi muncul dari berbagai kalangan masyarakat. Beberapa diantaranya adalah semakin diangkatnya isu memperbaiki mental health ibu. 

Ya saya setuju, bagaimanapun seorang ibu memiliki peran penting di keluarga. Peran seorang ibu itu vital, bukan sekedar sampingan atau tim bantu-bantu saja. Seperti dikatakan dalam kisah narasi Iblis, 'Jika ingin merusak sebuah keluarga, rusaklah terlebih dahulu ibunya'. Maka perhatian terhadap kesehatan mental ibu sangat penting. Namun, tidak berhenti sampai disitu. Ada baiknya kita mencermati dengan lebih teliti. Jika kita melihat dari ketiga fakta di atas, salah satu pencetus depresi ibu ada dua, ekonomi dan ketahanan keluarga. 

Sebetulnya bila kita teliti kedua faktor ini saling terkait. Faktor ekonomi menyebabkan kepala keluarga fokus mencari penghidupan yang layak untuk keluarga. Sehingga kepemimpinan seorang suami di rumah terabaikan. Upaya mencari nafkah lebih diutamakan daripada upaya menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Sehingga beban istri menjadi bertambah. Selain bertahan di tengah ekonomi yang sulit, juga depresi karena menghadapi kenyataan mengurus keluarga 'sendirian' tanpa kehadiran suami/qowwam. 

Inilah yang menjadi sebab, solusi perbaikan mental health saja tidak cukup. Karena kita juga perlu solusi yang lebih holistik. Yakni solusi untuk menangani pencetus masalah depresi ini, yakni ekonomi dan keluarga. Dalam hal ini negara tidak bisa menutup mata dan menganggap ini sebagai masalah individual saja. Justru negara sangat berperan penting. Negara berperan menghapus semua faktor sistemik yang mentriger masalah kejiwaan ibu. Mengapa ? Karena urusan kesejahteran ekonomi masyarakat merupakan tanggungjawab negara. Harapannya, kesejahteraan masyarakat berdampak pada kembalinya kepala keluarga pada fitrahnya, mendidik dan menjaga keluarganya. 

Posting Komentar untuk "Ibu Gorok Anak Hingga Tewas, Kapitalisme Hancurkan Fitrah Keibuan"